
...- A Dusty Photo -...
...•••...
..._Sabrang...
Apa gue pernah berbuat salah sebelumnya? Gue tidak yakin. Namun ketidak yakianan gue membuat diri gue semakin memikirkan hal yang tidak tidak.
Hubungan gue dan Han juga Felix berjalan sangat baik. Sesekali gue main ke rumah Han. Sesekali juga gue keluar dengan mereka. Namun satu hal yang membuat gue sedikit bingung. Kenapa Bulan tak lagi ada diantara mereka.
Akhir akhir ini gue melihat Bulan diantar dan dijemput oleh seorang cowok. Dari perawakan dan wajahnya gue yakin dia blasteran seperti Felix. Matanya sipit, pipinya berlesung dan warna kulitnya seputih susu. Cowok itu datang sebelum kelas bubar dan datang beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. Gue ragu jika dia adalah sopir.
Gue juga pernah sekali bertanya tentang Bulan ke Juna namun cowok itu tidak mengetahui. Katanya Bulan memang sering datang dan pergi dari rumah. Sesekali tidak tidur di rumah. Namun Juna tak bisa memberi tau dimana Bulan dan sedang apa dia. Gue jadi frustasi. Dan sekaligus merasa bersalah.
Kabar Anastasya baik. Kali ini hubungan gue dan dia kembali merenggang. Dia dekat dengan pimpinan tim basket. Semua orang memberi rumor bahwa keduanya menjalin hubungan dibelakang gue. Yups, gue sudah mendengarnya. Namun gue tidak betul percaya. Atau misal betulan pun gue juga tidak peduli. Mungkin itu yang terbaik mengingat gue yang sudah enggan berurusan dengan gadis itu.
Anastasya pernah sekali menjelaskan tentang hubungannya dengan ketua tim basket itu. Namun gue tidak peduli. Betulan memiliki hubungan pun tidak pernah memengaruhi kehidupan gue. Ah, atau betulan mempengaruhi. Dengan begitu gue bisa lebih gampang melepas hubungan dengannya.
Hari ini pelajaran olah raga. Gue tidak ikutan karena tidak enak badan. Badan gue berasa sangat lelah karena tiga hari ini tidak tidur. Gue banyak lembur belajar. Karena ternyata gue juga banyak main akhir akhir ini. Gue duduk di podium paling atas lapanga basket. Melihat dengan jelas siswa kelas gue yang sedang pemanasan sebelum pelajaran.
Ketika gue sedang fokus dengan apa yang gue lihat seorang tiba tiba masuk ke pandangan gue. Seorang cewek dengan seragam dan dengan rambut panjang tergerai. Ah, dia Bulan. Cewek itu ternyata juga tidak ikut pelajaran olah raga.
Gue ragu untuk mendekat. Namun keinginan gue untuk menyapa sangat tinggi. Setelah lama berdebat dengan batin akhirnya gue memberanikan diri menyapa.
Gue yang tadinya duduk di paling atas podium bergeser turun untuk menemui Bulan yang lebih kebawah. Cewek itu sedang memegang dua kaleng soda yang masih tertutup sempurna.
"Bulan?" gue memberanikan diri menegur.
Cewek itu sedikit kaget namun kemudian bersikap tenang.
"Hai. Lo nggak ikut olahraga?" Bulan berkata. Gue hanya tersenyum kemudian duduk tepat disampingnya. Namun Bulan malah bergeser. Memberi jarak satu ruang untuk menaruh dua kaleng soda yang tadinya dia genggam.
"Enggak. Lo sendiri juga."
"Gue nggak enak badan. Seminggu ini gue lagi stres berat."
__ADS_1
"Gue jarang liat lo barengan sama Han sekarang."
"Gue lagi banyak les. Kan lo tau gue masuk di semester dua."
Gue hanya tersenyum. Kemudian mengalihakn pandangan gue ke banyak siswa dibawah sana.
"Sabrang? Apa kabar Felix sama Han?"
Gue kaget. Betulan. Bukannya Bulan lebih dekat dengan Han atau Felix. Kenapa sekarang malah tanya ke gue.
"Baik." gue agak gelagapan mau jawab. "Kok lo tanya ke gue?"
Bulan malah menunduk. Memainkan jemari jemarinya. "Terakhir gue chat mereka seminggu yang lalu. Gue bilang jangan ganggu gue dulu. Gue nggak tau kalo mereka sepenuhnya nggak hubungin gue. Gue jadi ngerasa salah ngomong."
"Mereka juga malah nunggu kabar dari lo. Kapan lo siap buat main dan cerita lagi ke mereka."
Bulan menatap gue. Gue sedikit gugup dengan tatap matanya.
"Thanks."
"Buat?"
"Kapanpun." gue tersenyum. Disambut dengan senyum juga oleh Bulan.
"Lan? Sorry kalo kesannya gue sok tau." gue beranikan diri berkata.
"Kenapa?"
"Apa hubungan lo sama Han dan Felix renggang karena gue? Atau sepenuhnya lo rmang menghindar dari gue."
Sumpah. Gue deg degan. Perasaan gue sedikit was was dengan jawabab atau pernyataan Bulan setelahnya.
"Kenapa lo mikir gitu?"
Gue menunduk. "Gue berantem sama Anastasya. Dan dia selalu ngungkit lo di setiap perdebatan kita."
__ADS_1
Gue menghela napas. Dan raht Bulan sedikit berubah.
"Sorry, Lan. Gue khawatir Anastasya gangguin lo."
Bulan terdiam. Tatapnya kembali berubah. Berbeda dengan sebelum sebelumnya.
"Gue salah, ya?" ucap Bulan tidak terduga.
"Enggak. Maksud gue nggak gitu."
"Iya. Anastasya pernah dateng ke gue." Bulan menunduk. "Siapapun yang liat gue ngobrol sama Ana waktu itu bakal ngira kalo dia ramah ke gue. Dia nggak berhenti senyum. Suaranya lembut, tapi bagi gue itu beneran bikin sakit."
"Gue minta maaf atas nama dia."
"Maaf lo sama sekali nggak ngembaliin keadaan." Bulan tersenyum. "Dan gue menjauh bukan karena lo atau Ana. Gue nggak mikir gue ganggu hubungan kalian."
Gue terdiam. Gue lagi lagi salah membaca situasi. Gue salah menilai siapa Bulan.
"Gue... Belum cukup berani buat cerita ke lo apa yang lagi terjadi di gue. Maaf."
Bulan berdiri. Dia meninggalkan gue dengan heran. Baru beberapa langkah Bulan berhenti. Dia berbalik menatap gue.
"Tolong kasih itu ke Han sama Felix, ya. Bilang ke mereka suruh hubungin gue nanti malem. Makasih, Sabrang."
Sabrang?
Nama itu terdengar sangat asing. Terdengar tidak biasa ditelinga gue.
Karena biasanya dan seharusnya Bulan memanggil gue dengan Abra. Seperti orang lain. Atau? Bulan bukan lagi orang lain bagi gue. Mungkin hanya menurut gue sendiri?
••••
Note penulis..
Gue pengen hiatus.. Tapi sayang banget..
__ADS_1
Bentar lagi kali, ya..
Bismillah, semoga ada sesuatu yg kasih gue semangat dan gue nggak akan hiatus. Amiin.