A Dusty Photo

A Dusty Photo
Bab 3 : Sandwitch


__ADS_3

...- A Dusty Photo -...


...•••...


..._Sabrang...


Gue sedang berusaha menghindar.


Dari Anastasya yang masih sah menjadi pacar gue. Itu katanya. Namun menurut gue apa yang kita jalani selama ini bukanlah pacaran namun sesuatu berkedok pacaran. Dia hanya memanfaatkan gue.


Kenapa? Bukan mau sombong, tapi gue memang termasuk ganteng dan pintar. Seenggaknya masuk tiga pararel satu sekolah. Dan menurut Anastasya yang adalah anak dari kepala sekolah gue adalah cowok yang tepat untuk itu. Pintar dan tampan walaupun tidak terlalu punya uang.


Lalu kenapa gue mau ketika tahu bahwa gue dimanfaatkan? Karena gue nggak bisa ngelepas Anastasya begitu saja setelah perjuangan panjang gue mendapatkan dia. Iya, sejak kelas satu SMP gue naksir dia. Dan setelah berhasil mendapatkan apa yang gue mau, gue tidak akan melepaskan apa yang sudah gue dapat. Meski itu toxic. Karena sepertinya gue masih begitu yakin bahwa dia tidak pernah seburuk itu.


Pagi ini gerimis sedikit. Gue masih di lobi menunda waktu untuk masuk kelas. Sengaja, gue ngobrol sama satpam sekolah dulu. Kasihan dia, tidak pernah ada yang mengajak ngobrol.


Tiba tiba hp gue berdering. Bokap gue. Alhasil gue menyingkir sebentar dari gerbang, meninggalkan pak satpam.


Saat gue berbicara dengan bokap gue seorang cewek terlihat sedang mengobrol dengan pak satpam. Gue tidak jelas melihat dia namun seragamnya berbeda. Mungkin siswa pindahan dari sekolah swasta lain dan belum mendapat seragam dari sekolah. Dia mengulurkan bungkusan kresek pada pak satpam, mereka mengobrol asik sebelum cewek itu berlalu.


"Siapa, pak?" gue iseng bertanya.


"Dia keponakannya Budhe Sisri."


"Budhe Sisri kantin pojok?"


"Iya, katanya dari Surabaya. Bapak di kasih roti dua. Sengaja, katanya buat Mas Abra juga."


"Saya juga dikasih, pak?"


"Bapak yang mintain."

__ADS_1


Gue ketawa saat menerima uluran roti dari pak satpam. Sepotong sandwitch dengan keju dan sosis. Dari tampilannya sudah menggoda. Jadi gue memutuskan untuk memasukkannya dalam tas untuk gue makan siang nanti. Soalnya gue sudah sarapan.


Gue pamit masuk kelas dan pak satpam mengiyakan. Namun belum sampai koridor kelas dua, gue melihat Anastasya berjalan ke arah gue. Gue sudah mencoba untuk pura pura tidak kenal lantas melipir ke kafetaria namun setelah gue bertatap mata dengan dia, mustahil gue bisa kabur.


"Abra." dia memanggil dan gue mencoba tersenyum sebisa gue. Dan tentu saja senatural mungkin.


Kenapa gue berniat menghindar dari dia? Karena kemarin. Gue merasa di permalukan kemarin di kantin.


Kemarin Anastasya mendatangi gue dengan dramatis. Lantas menghempas piring, mangkok juga gelas di depan gue. Dia marah untuk sesuatu yang tidak gue mengerti. Dia menuduh gue selingkuh. Menuduh gue mempermainkannya. Gue yang kalap menampar dia. Sungguh tamparan penuh penyesalan. Namun dia tentu tidak mudah memberi maaf.


Dan, yah.


Gue harus berlutut dan meminta maaf. Namun bukan dia yang menyuruh, seluruh pengunjung kantin yang berada di pihaknya. Meminta gue berlutut dan meminta maaf. Lantas begitu saja. Gue melakukannya. Terlalu mudah di bodohi.


"Siang ini mau makan apa? Aku traktir kamu buat ucapan maaf soal kemarin." Anastasya begitu manis dengan tatapan itu. Merasa tidak bersalah. Lantas membuat gue lebih merasa bersalah.


"Kalo di kantin aja? Gue harus minta maaf secara resmi ke ibu kantin."


"Kantin? Cuma minta maaf, kan? Habis itu ke kafetaria?"


Gue ragu. Mau menjawab oke, tapi tentu tidak enak hati. Gue nggak punya cukup tabungan untuk mengganti rugi seluruh kerusakan di kantin. Dan makan di kafetaria dengan harga dua kali lipat akan membuat gue semakin tidak punya duit. Meski katanya akan di traktir oleh Anastasya.


"Kayaknya kita makan di kantin aja, deh."


Gue memberanikan diri.


"Oke, aku juga mau minta maaf sama ibu kantinnya."


See? Dia Anastasya. Terlampui baik untuk menyebutnya jahat.


***

__ADS_1


..._Bulan...


Hari pertama yang mendebarkan. Kata Budhe sekolah ini bukan sekolah yang bisa terbilang baik baik saja. Banyak siswa yang memanfaatkan uang untuk naik peringkat dan persaingan sengit soal kekuasaan. Kata Budhe juga di sekolah ini banyak anak anak orang kaya, meski gue salah satunya namun kini gue kan sedang menyandang status sebagai keponakan Budhe Sisri. Dan tentu saja tidak bisa di sebut kaya karena bokap gue nan jauh disanalah yang punya duit. Dia mau membiayai sekolah gue di sekolah mahal ini saja gue sudah harus sujud syukur.


Pagi ini gue berniat membagikan Sandwitch buatan gue ke teman temannya Budhe sembari memperkenalkan diri. Pak Satpam, tukang kebun, tukang sapu, kafetaria, dan beberapa penghuni sekolah lainnya yang pangkatnya setara dengan Budhe gue.


Dan tentu saja, dua makhluk yang sudah melampai di bawah pohon mangga itu, Felix dan Hanin.


"Pagi, jancukku." ucap gue sembari mengulurkan satu kotak makan pada keduanya. Isinya tentu saja Sandwitch special dengan tambahan keju ekstra karena Hanin cukup suka dengan keju.


"Mau langsung masuk kelas, Lan?"


"Enggak, gue mau bagiin Sandwitch ke temen temennya Budhe dulu. Habis itu ke ruang guru. Gue belum tau gue di kelas apa."


Keduanya mengangguk. Masih mengunyah Sandwitch.


Setelahnya, seperti yang ditebak. Selesai membagikan Sandwitch gue langsung mencari ruang guru. Hanin dan Felix gue larang mengantar karena dia harus makan sarapan dulu. Ah, ya. Sebelumnya gue sudah melarang mereka sarapan.


Gue jadi pengen mendiskripsikan soal sekolah baru gue. Sekolah ini cukup besar, atau gue bisa menyebutnya sangat besar meski tidak sebesar sekolah gue di Surabaya. Cat nya di dominasi abu tua dan papan nama di setiap ruang di beri warna coklat kayu pada umumnya. Gue berkeliling mencari tahu, melewati ruang olahraga kemudian naik ke lantai dua. Harus menuju lorong lorong kelas untuk sampai di ujung lorong, dan naik satu lantai lagi, disitulah ruang guru. Ruang guru cukup luas dan besar. Satu lantai dengan ruang komputer, ruang musik dan ruang seni.


Kemudian ketika melihat ke luar jendela akan terlihat lapangan sepak bola dengan lintasan lari di pinggirnya. Sangat mewah.


Ah, sangat mirip dengam sekolah gue di Surabaya.


Gue akhirnya masuk ke ruang guru. Dan menemui guru yang sebelumnya sudah menyapa gue saat gue mendaftar di hadapan kepala sekolah. Wali kelas gue ini perempuan muda. Gue perkirakan kalo dia sudah menikah mungkin masih punya satu bayi kecil atau mungkin belum menikah.


"Bulan?"


"Iya, bu. Bulan Anindya Pambudi."


"Betul, kamu di kelas saya. Tunggu sebentar, ya. Nanti kita ke kelas sama sama."

__ADS_1


***


__ADS_2