A Dusty Photo

A Dusty Photo
Bab 2 : Family


__ADS_3

...- A Dusty Photo  -...


...•••...


..._Bulan...


Gaduh. Sangat gaduh. Tadi beberapa siswa bertengkar. Gue tidak tahu karena jujur, gue belum datang. Namun melihat bagaimana kursi, meja, mangkok dan gelas berserakan jelas telah terjadi kegaduhan.


Gue membantu merapikan meja dan kursi, kemudian membantu menyapu pecahan beling yang berserakan dimana mana. Gue menghela nafas. Ini bukan soal lelah karena membersihkan kekacuan ini. Namum gue memikirkan bagaimana gue akan bersekolah di sini. Belum resmi masuk saja sudah melihat kegaduhan. Gue tidak bisa membayangkan bagaimana selanjutnya.


"Bulaaaannn!" seseorang memanggil gue. Gue spontan menoleh lantas tersenyum ke arahnya.


Dia Felix. Kawan gue semasa SMP. Cowok blasteran yang lebih fasih misuh misuh daripada berbahasa indonesia yang baik dan benar. Kemudian disampingnya ada Hanin. Cowok asli Surabaya yang sudah paten menjadi warga Jakesel dengan segala ke jametannya. Sok tidak bisa bahasa Jawa kecuali dalam hal permisuhan.


Gue jadi inget pas kunjungan gue ke Jakarta tahun lalu. Katanya Han udah punya pacar. Cewek blasteran cina, gitu. Tapi kandas karena restu. Gue sempat mengoceh, lagi pula masih kelas satu SMA. Kenapa buru buru minta restu kalo pernikahan saja masih amat jauh. Mungkin bahkan belum ada dalam rencana. Namun Han malah ngamuk. Misuh sana misuh sini. Membuat gue dan Felix melongo saja. Karena kalo misuh bentrok dengan misuh, kita takut akan terjadi kontes misuh memisuh. Gue rindu mereka.

__ADS_1


Mereka berdua adalah sahabat gue sejak SMP. Yang pernah menghalangi gue untuk tidak lanjut ke Surabaya untuk SMA. Namun gue menolak. Dan sekarang gue malu banget karena akhirnya gue balik juga ke jakarta. Tapi gue siap di ejek mereka habis habisan, kok.


Gue meletakkan sapu dan pengki. Kemudian merentangkan tangan gue selebar lebarnya lantas memeluk keduanya. Gue betulan rindu.


Gue sudah memperkenalkan Felix dan Hanin, bukan. Saatnya gue berkenalan. Nama gue Bulan Anindya Pambudi. Gue asli jogja tapi sudah lama di jakarta. Gini gini gue punya darah Cina walaupun enggak banyak banyak banget tapi lumayan karena kulit gue jadi seputih itu. Gue SMP di Jakarta kemudian gue mulai kenal Hanin lalu di kelas dua semester satu ada anak pindahan yaitu Felix. Gue agak kaget awalnya, karena tampang dia yang enggak Indonesia banget tapi cara ngomongnya Jawa banget.


Setelah lulus SMP gue pindah ke Surabaya. Seperti yang gue bilang, Felix dan Han adalah orang yang paling menentang kepindahan gue. Tapi gue memutuskan demikian karena gue lebih memilih ikut bokap yang sudah bercerai dengan nyokap gue. Niatnya sih gitu. Namun belum genap dua tahun gue ikut bokap gue memutuskan buat balik ke Jakarta. Karena alasan klasik, istri barunya menolak gue. Walaupun tidak terang terangan, gue yakin dia memang tidak membutuhkan anak gadis yang sudah SMA untuk menjadi anak sambungnya. Terlebih dia masih muda. Alhasil gue memutuskan untuk bail ke Jakarta.


Namun bukan berarti gue ikut nyokap. Karena sejujurnya, nyokap gue sudah tidak lagi peduli setelah hak asuh jatuh ke tangan bokap. Dan dia kini sedang asik dengan suami bulenya di Bali. Jangan dikasihani, gue sudah terbiasa dengan hal hal seperti ini.


Balik lagi ke Felix dan Hanin. Setelah pelukan yang disaksikan beberapa siswa di kantin gue langsung mengajak mereka untuk masuk ke dapur kantin. Di belakang dapur ada satu ruang kecil dengan kursi sofa dan televisi yang biasa digunakan karyawan kantin untuk bersantai. Jadi gue mangajak mereka kesana.


Lantas kami banyak bercerita. Menceritakan bagaimana sekolah kami masing masing. Menceritakan masa lalu memalukan juga yang membuat gelegar tawa kami membiat budhe gue masuk dan menegur.


"Sudah bel masuk. Kalian cepet sana masuk kelas. Bulan, bantu budhe nyuci piring sama gelas."

__ADS_1


Felix dan Han pergi lantas gue mengerjakan apa yang Budhe gue suruh.


"Budhe?" gue memanggil sedangkan budhe gue hanya menoleh.


"Makasih sudah mau nampung Bulan."


"Kamu ini ngomong apa." suara medok Budhe gue betulan merdu, "kamu itu keponakan Budhe. Lagian Budhe disini cuma ngasih tempat tinggal buat kamu. Nggak betulan membiayai, tapi kalo mau minta uang jajan, sedikit sedikit Budhe masih bisa ngasih."


Itu dia. Kenapa gue bilang jangan mengasihani gue. Karena walaupun gue tidak pernah merasakan hangatnya keluarga atau setidaknya perhatian manis mereka, gue masih punya keluarga lain. Budhe gue dan ketiga anak lelakinya. Kemudian sahabat sahabat gue yang mengerti gue. Jadi meski gue nggak pernah dengan hangat memanggil Papa atau Mama setidaknya ada yang bisa gue panggil Budhe dengan bangga. Juga memanggil ****** kesayangan kesayangan gue.


***


Hi Hello..


Apa kabar? Selamat membaca..

__ADS_1


__ADS_2