
...- A Dusty Photo -...
...•••...
..._Bulan...
Tadinya gue mau menyapa Abra dan mengajak cowok itu makan siang dengan bekal yang disiapkan budhe gue secara berlebih. Tadinya juga gue ingin berlari kearahnya sebelum gue melihat seorang cewek sedang berbicara dengannya.
Dia Anastasya.
Gue berhenti ketika tau siapa dia. Kemudian berpaling ketika mata kami bertemu secara singkat. Gue tidak pantas mengganggu soal ini.
Oke. Gue sadar posisi sekarang.
Han pernah bilang. Nggak pantas bagi gue untuk menyimpan rasa pada seorang yang sudah memiliki kekasih. Tapi gue tidak bisa memutuskan pada siapa gue akan menyukai seseorang.
Oh, ya. Gue suka dengan Abra.
Gue belum sadar sebelum Han dan Felix memberi tahu gue tentang hal itu. Wajar gue belum berpengalaman soal asmara. Karena hubungan cinta yang gue lihat pertama kali adalah pertengkaran nyokap dan bokap gue. Setiap gue tanya kepada nyokap tentang kenapa mereka terus bertengkar dia hanya menjawab karena dia mencintai bokap gue. Jadi gue berasumsi bahwa cinta adalah seperti itu. Asumsi itu juga didukung dengan pertengkaran Han dan mantan kekasihnya.
"Cinta kadang bisa soal pertengkarang, sih. Tapi bukan itu intinya." Han menasihati gue suatu saat. Ketika kami bertiga sedang asik bercengkrama dibawah bulan di tengah malam. "Tapi soal ini." Han menyentuh dadanya.
"Apa?" gue bertanya. Felix yang duduk didepan gue menepuk jidat.
"Lo jangan nasihati Bulan soal cinta. Dia belom sampe." Felix menegguk colanya kemudian. "Tapi kayaknya Bulan sabit kita udah mendekati purnama."
Gue menatap Felix. "Jadi gue suka sama Abra?"
"Kenala malah tanya ke kita?" Han menatap gue.
Gue juga nggak tau. Tapi perasaan gue ke Abra memang berbeda dengan Han atau Felix. Gue ingin dekat dekat dengan dia. Gue ingin tau semua tentang dia. Bahkan gue bersedia menjadi penerang jika jalannya gelap. Mungkin dengan membakar diri gue sendiri untuk meneranginya. Tapi gue sadar gue tidak pantas.
"Lo beneran belum pantes buat jatuh cinta, sih." Han berkata.
Gue hanya menatap dia sambil menggigit ayam goreng yang sudah ditangan.
"Nyokap gue pernah bilang, cinta itu rumit. Lo boleh berkorban tapi jangan keterlaluan. Lo boleh pengen tau semua tentang orang yang lo suka tapi jangan maksa. Serumit itu."
Felix menaruh ayamnya. " Kalo mereka tau itu rumit kenapa masih pada jatuh cinta."
__ADS_1
"Mungkin mereka nganggep itu semacam tantangan." gue akhirnya angkat bicara.
"Sama halnya dengan kenapa lo harus susah payah motong ayam, di cabuti bulunya sampe jadi seporsi ayam goreng." Han menimpali.
"Gue nggak pernah ngelakuin itu."
"Exactly! Lo bisa memilih untuk melakukannya atau tidak."
"Gue masih nggak paham." Felix meneguk sodanya.
Han menghela napas sedangkan gue masih membersihkan tulang ayam dari daging yang masih menempel. Karena konon katanya bagian paling enak adalah bagian yang paling banyak usaha.
"Ya gitu, deh. Intinya rumit. Lo bakal paham kalo udah menjalaninya."
"Lo ngomong seakan lo pernah pacaran ribuan kali." Felix malah menggoda.
Gue selesai dengan potongan ayam gue dan sekarang sedang melamum tentang apa benar gue menaruh rasa pada seorang Sabrang Aditya ketika kemungkinan itu bisa patah suatu saat nanti.
•••
Lamunan gue patah ketika guru yang sedang mengajar memergoki gue dan menyuruh gue keluar kelas. Gue menghela napas panjang sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan kelas.
Gue berjalan menuju toilet perempuan yang terletak diarea anak kelas IPS. Gue sengaja memilih tempat yang agak jauh berfikir semakin jauh gue dengan Abra maka akan semakin renggang pula perasaan gue.
Tapi sepertinya tidak. Gue semakin sesak ketika mendapati seorang yang gue lihat dengan Abra pagi tadi sedang membasuh tangannya. Rambut panjangnya tergerai tanpa aksen apapun namun memberi kesan sexy pada cewek itu. Ya, dia Anastasya.
Gue berdiri disebelahnya. Membuka kran lantas membasuh wajah lelah gue.
"Bulan, kan?" Anastasya menyapa ketika gue menyelesaikan basuhan ketiga pada wajah gue.
"Iya." gue menatap sebentar kemudian kembali membasuh wajah.
"Aku banyak denger cerita kamu dari Abra. Kelihatannya kalian deket." cewek tadi memgambil helaian tisu lantas mengusapkan pada punggung tangan.
"Kita temenan."
"Kalo gitu, apa kita bisa temenan juga? Aku pacarnya Abra."
Gue tau. Tapi gue nggak mau.
__ADS_1
"Gue nggak harus temenan sama pacar dari temen gue. Atau sebaliknya."
Anastasya melempar bekas tisu kemudian berdiri menatap gue. Tatapnya jelas mengintimidasi ketika gue meliriknya dari cermin besar di depan gue.
"Gue nggak akan biarin lo rebut Abra dari gue."
Gue mematikam kran. Kemudian mengambil tisu dan melemparnya ke tempat sampah dengan kasar.
"Gue bahkan nggak pernah punya niat buat rebutan pacar sama lo. Tapi kalo dia yang dateng ke gue--" gue mencoba memasang senyum mengintimidasi juga. Meskipun gue tidak pernah yakin dengan apa yang baru saja gue katakan.
"Lo begitu yakin. Gue suka." Anastasya mendekat ke gue. Lalu menepuk bahu gue tiga kali. Lirik dan senyumnya membuat gue sangat ingin memukul wajah manisnya. Agar wajah itu tak lagi memikat banyak hati karena sungguh berkebalikan dengan sifat aslinya.
Gue menghela napas ketika Anastasya sudah menghilang di balik pintu. Sejujurnya gue takut berhadapan dengan cewek itu. Lebih takut daripada mengetahui nilai matematika gue merah.
Gue mencuci wajah sekali lagi sebelum dering ponsel bergetar di saku rok. Tanpa memikifkan siapa yang menelfon di jam pelajaran seperti ini, gue langsung menggeser tombol hijau.
"Halo, Bulan."
Suara yang tidak asing namun tidak sering gue dengar. Gue menjauhkan ponsel dari telinga lantas melihat nama siapa yanh terukir disana.
Mami. Nama yang gue rindu namun gue benci secara bersamaan.
"Bulan? Mami mau ke Jakarta. Anak cowok Mami bakal kuliah disana."
Sebuah kabar yang tidak terlalu penting untuk gue dengar, namun gue masih setia.
"Oh." gue menatap cermin. Melihat pantulan wajah pucat gue yang semakin pucat. Kepala gue pening. Rasa ingin membenturkan kepala ke kaca sungguh menggebu.
"Kamu kangen Mami?"
"Setelah dua tahun lebih nggak ada kabar. Bulan lupa." gue menutup ponsel lantas menggenggamnya erat. Muak dan sesak berhimpitan di rongga dada.
Kangen, ya. Lucu juga.
•••
Hi Hello...
Selamat Menikmati..
__ADS_1