
...- A Dusty Photo -...
...•••...
..._Bulan...
Pukup sembilan malam. Bang Lino dan Juna sudah berkali kali menghubungi. Felix dan Han juga mengirim pesan yang baru bisa gue balas setelah gue keluar dari Apartemen nyokap.
Sebastian diminta mengantar sampai rumah. Dan gue tidak menolak. Karena sudah malam dan gue takut juga pulang sendirian.
"You looked so happy." Sebastian menarik senyum ketika gue melihatnya.
"Maybe, yes."
"Itu betulan."
"Untuk ucapan terima kasih lo tadi, gue bakal menanggapi ulang." gue meletakkan ponsel diatas pangkuan. "Gue terima ucapan terima kasih lo. Gue tau seseneng apa lo tadi."
"Kamu juga seneng."
"Iya. Kenapa gue bisa seseneng itu." gue memaksa senyum. Senyum yang berbeda. Karena alasan dari bahagia gue terlalu ambigu.
Apa gue betulan merasa senang tadi atau hanya alibi.
"Makasih."
"Ini kesekian kalinya lo bilang makasih." gue menatap Sebastian.
"Kali ini untuk Mami. Bukan gue."
"Kali ini untuk alasan apa?"
"Udah bikin Mami senyum."
"Bukannya kalian emang bahagia?"
"Iya. Sebelum bokap gue meninggal."
Gue terdiam. Meninggal? Gue nggak tau dengan berita itu.
"Sorry?" gue ingin memastikan. Apakah dia bercanda atau betulan dengan ucapannya.
"Bokap gue meninggal dua bulan lalu di Bali."
Gue tertunduk. Betulan nggak bermaksud untuk mengungkit kededihan.
__ADS_1
"Nyokap jadi pendiam sejak itu. Makanya gue ngajak dia ke Jakarta. Memutuskan buat tinggal disini dan ketemu sama lo."
Gue terdiam.
Disela diam gue tak ada perkataan lain dari Sebastian hingga gue menutuskan untuk turun di depan gang. Jangan sampai masuk karena akan sulit mencari jalan untuk putar balik. Gue hanya menunduk ketika Sebastian melambaikan tangan untuk perpisahan.
Gue berjalan menuju rumah budhe dan selama itu hanya nyokap yang ada di pikiran. Apakah dia baik baik saja. Namun perdebatan mulai hadir ketika gue memikirkan apa yang sudah dia lakukan ke gue.
Mungkin dia pantas.
Sampai di depan rumah bang Lino dan Juna sedang duduk di teras berhadapan bermain catur. Gue berjalan mendekati mereka.
"Kok baru pulang, Lan?"
"Aku baru dari rumah Mami, bang." gue menunduk. Sembari duduk di kursi kosong dekat bang Lino.
"Mami kamu?" bang Lino menatap gue dan Juna bergantian. Seperti tidak paham. "Bukannya dia di Bali."
Gue malah nangis. Gue menunduk menutup wajah dengan telapak tangan. Mencegah air mata jatuh dengan menekannya rapat.
Gue merasakan sentuhan tangan bang Lino mengusap punggung gue. Dan kalimat Juna yang nggak begitu jelas gue dengar. Gue pengen curhat.
Berselang beberapa menit budhe gue keluar. Dia sedikit kaget dengan gue yang menangis dan malah memukul Juna.
"Kamu apain Bulan?"
Gue malah berdiri. Dan menghamburkan pelukan ke budhe gue. Gue menangis tanpa tau untuk apa gue menangis. Apakahn untuk keadaan nyokap ataukah karena gue yang terlalu berlagak kuat.
Betulan. Gue memang berlagak kuat. Sedari awal nyokap menghubungi gue dan bertanya tentang rindu. Gue sangat ingin menjawab iya. Gue betulan kangen. Sekangen itu. Namun kangen yang gue rasa sepertinya berbeda.
"Budhe... " gue semakin menangis. Enggan terhenti meski gue memaksa.
Gue kangen Mami. Gue ingin memeluknya seperti ini. Namun gue tidak sanggup.
••••
Pukul dua belas malam. Langit sangat cerah entah kenapa. Dan angin membelai lembut kulit gue. Seperti mengusap bersimpati.
Juna disamping gue tidak berbicara sama sekali. Hanya sesekali menyeruput kaleng sodanya entah sudah yang keberapa dia berganti kaleng.
Mata gue perih karena tangis. Pipi gue juga seperti bengkak. Namun kenapa masih ada sedih dalam otak gue. Memberi respon pada mata untuk mengeluarkan ait mata meski itu hanya sedikit. Gue mengusap hidung. Sudah tak bisa digunakan bernafas.
"Jun? Kalo ngantuk masuk aja." gue berbicara tanpa menoleh.
"Bisa digaplok sama Mama, Lan."
__ADS_1
"Sorry."
"Nggak usah minta maaf."
Gue menunduk. Kembali mengusap hidung gue yang berair.
"Gue nggak bisa cerita ke lo."
"Jangan terlalo lo pikir. Gue ngerti." Juna meremas kaleng soda. Kemududian membuangnya. "Gimana kalo gue yang curhat?"
Gue menoleh. Sepertinya lebih baik daripada saling terdiam.
"Sejak kecil gue itu nggak punya tempat cerita. Kalo cerita sama Bang Lino, lo tau sendiri orangnya kayak gimana. Bisa diejek habis habisan gue. Cerita sama Mama juga nggak bisa. Gue cuma kegedean gengsi. Curhat ke lo, gue tau hidup lo lebih menyedihkan dari gue, sori buat yang ini. Satu satunya kawan yang gue punya cuma Lana. Tapi cerita ke Lana pun nggak bisa. Dia lebih kecil dari gue, jelas gue yang harus jagain dia atau harus dengerin dia. Bukan sebaliknya." Juna menghela napas. Gue masih antusias dengan ceritanya.
"Pas SMP, akhirnya gue punya temen. Tapi lo tau, dia pun sama bermasalahnya kayak lo. Hidup dia nggak setenang itu. Main jauh buat pelampiasaan, pada akhirnya gue belum ada temen curhat."
Gue menunduk. Berpikir bahwa gue bukan satu satunya orang paling menderita. Setidaknya gue masih punya Han fan Felix. Ah, gue jadi ingat mereka.
"Bulan. Gue nggak tau rasanya hidup diantara keluarga broken home. Nggak tau juga rasanya merelakan nyokap dan bokap gue gandeng pasangan lain. Berlawanan banget sama apa yang gue mau." Juna menatap gue. "Gue juga nggak tau, Lan, sekecewa dan sebenci apa lo sama orang tua lo. Tapi gue tau, lo punya tempat buat cerita. Lo punya tempat dimana lo bisa sejenak lepasin beban di pundak lo."
Juna masih memandang gue. Dan rasanya ada benda keras menghantam perut gue. Membuatnya terasa sangat sakit dan memberi respon pada otak untuk gue semakin keras menangis.
"Sedari awal gue emang cuma mau nemenin lo disini. Nggak ada niat buat denger keluh kesah lo. Karena lo punya kawan."
"Gue?"
"Han sama Felix jelas lebih tau siapa lo. Mereka kawan lo dari lama. Gue yakin, mereka bakal lebih bijak ngasih saran ke lo daripada orang lain. Karena posisi kalian sama."
Gue malah sesenggukan. Memandang Juna dengan tatap terima kasih.
"Ah, ya.. Lo tau? Han sama Felix nggak berhenti spam gue hari ini." Juna mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan kontak pesan yang sebagian besar hanya Han dan Felix.
"Mereka dari tadi tanya kabar kamu. Udah pulang belum. Lagi dimana. Dia nggak apa apa. Pusing gue jawabnya."
Gue tertawa kecil. Han dan Felix. Ah, gue lupa punya mereka.
"Jun? Tapi apa nggak canggung kalo gue selalu ceritain masalah gue ke mereka?"
"Loh? Mereka kan juga cerita satu sama lain. Maksud gue, lo tau cerita mereka, bakal nggak adil kalo mereka nggak tau cerita lo."
Gue kembali menatap langit. Betul juga. Han dan Felix selalu ada buat gue.
•••
Hi hello..
__ADS_1
Maaf buat tulisan gue kali iniiiiiiiiii....😭😭😭😭😭😭😭😭 nggak tau mau nulis apa...😭😭😭😭😭😭