A Dusty Photo

A Dusty Photo
Bab 8 : Berbeda


__ADS_3

...- A Dusty Photo -...


...•••...


..._Bulan...


Apa gue pernah menyelamatkan bumi di kehidupan sebelumnya?


Gue terus terusan berfikir seperti itu ketika berjalan dengan Abra berdua. Sumpah, gue tidak pernah memiliki keberanian seperti ini sebelumnya.


Jujur gue belum sedekat itu dengan Abra. Hanya beberapa kali makan bareng di kafetaria atau kantin sekolah. Atau mengerjakan beberapa tugas kelompok.


Abra bukan orang yang seterbuka itu. Dia juga bukan orang yang punya satu atau lebih teman di kelas. Dia tipe yang pendiam.


Namun sore ini gue berani berbincang dengan dia. Lucunya, gue membicarakan diri gue juga.


Apa itu bahagia? Huh, gue malu mengingatnya.


Gue ketemu Abra di lapangan basket. Tadinya gue mau ketemu Han di lapangan utama namun setelah gue melihat Abra berlari kesana kemari mengambil bola basket kemudian melemparnya lagi namum tak ada satupun dari kesempatan itu bola masuk ke dalam ring gue memberanikam diri menemui dia. Dia jelas berneda dari siang tadi. Gue seperti melihat dua sosok yang terjebak dalam satu tubuh.


Abra yang mahir bermain basket dengan tatap dan senyum menggebu berubah. Tatapannya gelap dan senyum di mulutnya seperti berubah kesal. Itu yang membuat gue tergerak mendekati dia.


Kesannya jadi terlalu ikut campur.


Namun semua di luar ekspektasi gue. Abra senyaman itu diajak berbincang. Meski perbincangan singkat.


Dan kini kami melanjutkan perbincangan tadi. Sambil berdiri menunggu angkot di depan sekolah.


"Arah rumah lo kemana?" Abra bertanya ke gue untuk kemudian gue sebutkan alamat gue.


"Oh, searah. Naik bareng?"


Kami masuk ke sebuah angkot. Tidak terlalu penuh jadi gue bisa memilih tempat sesuka gue dan yang pasti tidak berhimpitan. Gue benci berhimpitan dengan orang asing.


Di dalam angkot kebanyakan dari mereka siswa SMA sama seperti gue dan Abra. Namun pakaian kami berbeda. Gue anak swasta, jadi seragamnya sedikit mencolok. Dengan rok pendek dan tanpa ikat pinggang.


Gue dan Abra tidak berbincang. Kami saling diam memperhatikan sekitar.


Oke. Ini bukan pertama kali gue naik angkot, mungkin bisa dibilang sejak gue balik ke jakarta gue mulai memakai kendaraan umum ini. Namun gue belum pernah menjadi pusat perhatian di dalam angkot. Belum samapi saat ini. Banyak dari siswa SMA itu memandang gue aneh. Seperti kagum atau yang lainnya. Gue juga tidak bisa membaca pikiran mereka.

__ADS_1


Akhirnya gue menhingat apa yang berbeda dari diri gue. Sepertinya tidak ada.


Turun dari angkot gue beranikan diri bertanya ke Abra.


"Gue aneh ya, Bra?"


"Aneh gimana?"


"Anak anak SMA tadi pada liatin gue aneh gitu." Abra malah ketawa kecil.


"Oh, itu. Iya, kita keliatan aneh."


"Kenapa?" gue betulan tidak paham.


"Rumah lo sebelah mana?"


"Masuk gang kesana." gue nunjuk gang kecil setelah persimpangan. "Rumah lo daerah sini juga?"


"Bukan, gue harus naik angkot sekali lagi."


"Tunggu, jadi kenapa kita diliatin."


"Karena jarang ada anak dari SMA kita yang mau panas panasan naik angkot." Abra mulai berjalan. Gue mengikuti langkahnya. "Gue anterin lo pulang, ya?"


"Anak SMA kita itu minimal antar jemput atau naik motor sendiri atau bahkan mobil kalo yang udah ada SIM. Biasanya anak kelas tiga." gue mengangguk lagi. Memang betul. Bahkan tempat parkir sekolah kami amat sangat besar.


"Mungkin mereka bingung, kenapa orang kaya naik angkot."


"Ey, nggak semua yang sekokah disitu kaya. Gue contohnya." gue sedikit berlagak. Betulan. Bukan gue yang kaya. Tapi nyokap dan bokap gue. Dan mereka nggak lagi bareng gue. Jadi gue ragu apa bisa gue juga disebut kaya.


"Gue juga nggak kaya. Semua itu duit bokap gue."


Obrolan kami semakin seru. Rumah budhe gue memang agak jauh dari gang tadi. Harus jalan sekitar lima belas menit namun lima belas menit yang biasanya lama berubah jadi sangat singkat.


"Ini rumah lo."


"Iya, eh bukan. Rumah Budhe gue. Tapi kayaknya budhe belum pulang. Masih beberes kantin."


"Lo keponakan Budhe Sisri?" Abra sedikit kagum.

__ADS_1


"Lah, lo baru tau?"


"Ini rumahnya Budhe Sisri?"


"Ya iyalah. Kenapa, sih, Bra?"


"Gue udah lama nggak main kesini."


Gue bingung. Tiba tiba Abra membuka pagar begitu saja dan mengetuk pintu. Gue hanya mematung. Sedikit bingung.


Kemudian Juna keluar dari dalam rumah lantas mereka saling merangkul. Seperti sahabat lama yang baru bertemu setelah berpisah puluhan tahun.


"Gue kira lo lupa sama gue." Juna semangat menyapa. Yah, dia memang selalu semangat.


"Ada Abra. Lama nggak kesini, Bra." Bang Lino juga keluar menyapa.


"Bulan juga udah balik? Masuk, bang Lino masak kangkung." Bang Lino mempersilakan gue dan Abra masuk.


Abra, Bang Lino dan Juna ngobrol asik di depan TV sedangkan gue hanya menguping di ruang makan.


Gue belum tau sisi Abra lebih banyak rupanya. Namun setelah gue melihat banyak tentang Abra hari ini apa gue boleh menyimpulkan satu atau bahkan banyak hal?


Abra betulan berbeda. Ketika main basket siang tadi dan sore tadi. Kesehariannya di sekolah kemudian saat ini. Gue ingin menyimpulkan bahwa Abra betulan sangat misterius. Gue melihat Abra tanpa teman di sekolah. Hanya sesekali ngobrol dengan Han atau teman lain. Hanya sekedar menyapa kemudian berlalu. Namun kini dia begitu ceria. Tersenyum sangat bebas. Melontar canda dengan Juna dan Bang Lino.


Gue jadi semakin penasaran.


Ternyata di dunia ini bukan cuma gue yang memiliki banyak wajah. Setiap moment selalu berbeda. Di depan teman, di depan sahabat, di depan orang tua, dan ketika sendirian. Gue rasa Abra punya semua itu. Gue kira Abra juga memiliki banyak wajah.


"Lan. Mau ikut ke depan nggak? Beli es cendol." Juna berkata ke gue. Gue yang sedang mematung membawa segelas air putih langsung terkaget.


"Ikut sana, Lan. Sekalian nganterin Abra sampe pangkalan angkot."


Gue mengangguk. Lantas memutar meja untuk mengikuti keduanya.


Juna memiliki kepribadian yang ceria. Mudah bercanda dan hampir setiap hari tertawa. Gue bahkan belum pernah melihat Juna menangis. Sekalipun. Sedangkan Abra berbeda. Namun saat ini, ketika gue berjalan berdampingan dengan mereka, kepribadian Abra seperti milik Juna. Aura Juna seperti terpancar hingga ke Abra.


Dan sungguh. Abra yang saat ini begitu memesona. Begitu bahagia dan berbeda. Begitu indah. Yah, mungkin indah bisa jadi ungkapan yang pas.


***

__ADS_1


Hi Hello..


Apa kabar semua..? Boleh minta komentarnya, dong..


__ADS_2