A Dusty Photo

A Dusty Photo
Bab 11 : Orang yang tepat


__ADS_3

...- A Dusty Photo -...


...•••...


..._Bulan...


Minggu ini gue betulan akan ke rumah Han. Dan gue sekarang sedang menunggu angkot yang akan mengantar gue langsung ke rumah Han. Ya, nggak langsung juga, sih. Karena gue harus jalan ke perumahan. Belum lagi rumah Han yang segede lapangan bola membuat gue agak ngos ngosan.


Tadinya gue mau berangkat bareng Abra, tapi cowok itu sedang ada urusan dan katanya mau berangkat sendiri. Jadi gue cuma kasih dia lokasinya aja.


Matahari jam 10 pagi sempurna membakar kulit gue yang kelupaan bawa jaket. Karena tadi, tuh mendung. Nggak taunya pas hampir sampe rumah Han cuaca tiba tiba menggila.


Gue sudah turun dari angkot dan sekarang sedang berjalan masuk menuju gang komplek. Rumah Han ada diujung komplek karena paling gede.


Gue jalan agak cepet soalnya betulan panas, cuy.


Nggak lama berselang ada motor berhenti di depan gue. Motornya item ala ala pembalap motoGp. Helmnya full face bikin gue nggak tau itu siapa. Gue cuma lihat dia. Mungkin mau buka pintu gerbang di sampingnya. Tapi pas dia berbalik dan buka helm. Beuh. Adegan adegan dalam sinetron tiba tiba terjadi sama gue. Seketika ada slowmotiom dengan bunga bunga menyertai cowok tadi.


Cowok yang membuka helmya tadi ternyata Abra. Gue udah deg deg an dulu.


"Bulan. Bareng?"


Oh, dengan senang hati pangeran.


Lantas begitu saja. Gue naik ke motor dia yang super tinggi. Ini pertama kalinya gue naik motor kayak gini, mana bareng cowok dan gue memang sekagum itu.


Kami sampai di rumah Han. Disambut Felix yang membawa toples berisi kerpik tempe didepan rumah. Gue nggak tau kenapa anak itu ikutan juga.


Nggak ada basa basi penting. Kami masuk. Disambut sejuk AC dan dimanjakan dengan rumah aestetic milik Han. Yups. Gue sekagum itu. Rumah orang tua gue dulu memang seperti ini, besar dan indah. Tapi gue nggak pernah merasakan indahnya karena diiringi pertengkaran. Rumah bokap gue di Surabaya juga bagus. Gede pula. Tapi gue juga nggak merasakan nyaman karena nyokap tiri gue yang terang terangan menunjukkan ketidak sukaannya pada gue. Membuat gue ikutan risi. Rumah nyokap di Bali? Gue belum pernah kesana.


Ternyaya sambutan itu nggak cuma datang dari AC dan aetetic rumah. Namun tuan rumah turut menyapa sembari membawa es buah di tangan. Gue nyengir.


"Bang Brian. What's up."


Itu kakaknya Han. Namanya Brian. Dulu waktu gue SMP dia masih kuliah semabari belajar mengurus bisnis keluarga Ayahnya yang saat itu di jalankan pamannya. Yang gue dengar dari Han sekarang bisnis itu sudah sah jatuh ke tangan Bang Brian.


Bang Brian menghampiri gue. Lalu memberikan es buahnya pada Felix dan begitu saja dia memeluk gue. Sekangen itu.


"Lama banget nggak kesini." Bang Brian menhusap rambut gue.


"Bulan di Surabaya, bang."

__ADS_1


"Bulan, Abra. Naik aja." Han bereteriak dari lantai dua. Gue dan Abra spontan menoleh.


"Sana naik. Nanti Abang buatin es buah." Bang Brian berkata sambil meminta gelas es buahnya lagi pada Felix.


"Bunda mana, bang?" gue bertanya.


"Lagi belanja. Udah sana naik."


Gue dan Abra naik.


"Heh, ngapain kamu ikutan naik?" gue menoleh. Abra juga. Dia bingung.


Gue ngakak setelah tau bahwa Felixlah yang ditegur oleh bang Brian. Cowok itu menurut dengan mengekor di belakang bang Brian yang berjalan ke arah dapur.


***


"Lan, gue turun dulu. Dipanggil Bunda." Hanin berdiri setelah mengecek ponselnya. Gue mengangguk.


Cowok itu meninggalkan gue dan Abra di ruang belajarnya.


"Lan, gue boleh tanya?" Gue menoleh ke Abra ketika cowok itu mengangkat kepalanya dari laptop.


"Gue bakal jawab kalo gue bisa." gue menanggapi itu dengan bercanda.


Gue juga berhenti dari laptop gue. Kemudian menoleh pada Abra.


"Kalian betulan sedeket itu?"


"Kenapa?" gue penasaran karena Abra belum pernah bertanya seserius ini sebelumnya.


"Kalian terlalu deket. Tau satu sama lain bahkan nggak ragu buat bicarain masalah pribadi. Gue penasaran. Kenapa kalian bisa."


"Karena kami senasib." gue menjawab asal. Yah, betulan. Memang kami senasib.


"Karena senasib bukan jawaban yang gue mau."


Oh, Abra seserius itu rupanya.


"Karena kami betulan sama." gue berusaha mengimbangi serius nya. "Karena saat pertama kali gue kenal mereka, cuma mereka yang ngerti gue."


Abra masih menunggu jawaban gue. Dia menanti dengan serius.

__ADS_1


"Karena dulu, gue sama mereka nggak pernah kelihatan bahagia. Selalu sendiri sampe Han nyamperin gue duluan. Dia ngasih bekalnya kegue. Saat itu gue masih anak anak, kan. Gue nggak bisa tau mana orang baik atau bukan. Terus gitu aja, gue cerita ke dia soal nyokap bokap gue yang lagi berantem." Gue menghela nafas. "Terus Han malah bilang, Nggak apa apa, Lan. Gue malah udah nggak bisa denger suara bokap gue lagi."


"Dan akhirnya gue sama dia temenan. Dimulai dari kejujuran kayak gitu."


"Untungnya Han orang baik." Abra berucap. Kemudian beralih ke laptopnya.


"Dan untungnya gue cerita ke dia kalo gue punya masalah."


"Kalo waktu itu lo nggak cerita?" Abra menutup laptopnya. Rupanya dia lebih tertatik dengan pembicaraan ini daripada mengerjakan tugas.


"Mungkin sampe saat ini gue nggak punya temen." gue juga menutup laptop gue. "Karena gue nggak segampang itu bisa cari temen."


"Lo punya temen yang tepat."


"Lo juga. Juna baik. Dia betulan baik." gue mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Dia baik banget. Gue sampe banyak nggak enaknya kalo lagi sama dia."


"Dulu, pas nyokap bokap gue berantem gue selalu lari ke rumah Juna. Gue cerita ke dia kalo nggak ke bang Lino. Terus mereka ngajak gue ke genteng, meski harus ngumpet ngumpet biar nggak ketauan Budhe."


"Gue juga. Juna selalu punya waktu dan tempat buat gue bisa cerita ke dia." Abra menunduk.


"Kita cuma butuh orang yang tepat. Dan menurut gue Han sama Felix tepat buat gue. Sama kayak Juna tepat buat lo. Jadi gue bisa gampang dan seterbuka itu ke mereka."


"Tapi lo juga begitu gampang cerita ke gue."


"Karena gue udah nganggep lo sama kayak mereka. Tepat. Mungkin kita memang punya nasib yang sama."


"Balik lagi ke nasib." Abra tertawa. "Makasih. Buat Lo, Han sama Felix."


"Terlalu dini buat bilang makasih." gue meraih ponsel gue untuk membaca pesan. Dari Han.


"Bilang makasih sama Bunda. Kita dipanggil turun buat makan siang."


****


Hi Hello..


Kita cuma butuh orang yang tepat buat cerita. Karena nggak semua orang atau teman bisa segampang itu kita ajak buat cerita. Dan gue sama, cuy. Selama dua puluh tahun gue hidup, baru tiga taun ini gue dapet temen yang seenak itu buat curha. Kayak yang gue nggak perlu khawatir dia bakal bocorin rahasia gue karena itu nggak akan peenah mungkin.


Sedeket itu.

__ADS_1


Gue harap kalian punya, ya.


Oke sekian. Paipai


__ADS_2