
...- A Dusty Photo -...
...•••...
..._Bulan...
Setelah mengantarkan Abra sampai pangkalan angkot dan melepas kepergiannya gue dan Juna betulan mampir ke abang cendol. Juna memesan dua untuk diminum di tempat dan kami menunggu di bawah pohon jambu.
"Lo sejak kapan kenal Abra, Jun?" gue bertanya ketika pesanan kami sudah ditangan.
Juna memainkan sedotannya, "Sejak SD. Dulu dia murid pindahan."
"Dia SD nya Negri? Gue kira Swasta."
"Dia SD sama SMP Negri. Tadinya gue juga nggak tau dia sekaya itu sampe lulus SMP di milih sekokah swasta." Juna bercerita.
"Lo sepenasaran itu sama Abra?" Juna bertanya. Gue ingin menjawab iya pada awalnya, namun gue tidak yakin. Akhirnya gue hanya berpaling. Menghindari pandangan Juna yang semakin mengintimidasi. Menggoda.
"Ini pertama kalinya gue ketemu dia setelah kelulusan SMP."
"Kalian nggak pernah main bareng emangnya? Jalan kemana gitu. Atau main ke rumah satu sana lain." Gue kembali memandang Juna ketika cowok itu mulai bercerita lebih banyak. "Gue saking seringnya ke rumah Han atau Felix sampe dianggap anak sama Mama mereka."
"Dia itu sibuk banget. Super sibuk. Pulang sekolah harus langsung bimbel atau latihan beladiri. Dia kerumah gue cuma sekali."
"Sesibuk itu? Hari minggu kan ada."
"Gue kira, sih. Nggak pernah ada hari libur buat dia."
"Sesibuk itu?"
"Iya. Bahkan dia nggak pernah sempet buat cari temen."
Gue sedikit terkejut.
Abra mungkin hanya memiliki Juna saat itu. Dan ketika keduanya berpisah untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi Abra tak memiliki waktu untuk mengenal orang baru. Tapi gue kira, jika ada seorang yang mendekati dia lebih dulu maka dia akan mendapat teman.
Karena sekolah kami swasta dimana peringkat lebih penting daripada pertemanan dan tentu pertemanan juga harus sesuai kelas. Abra terlaku sibuk untuk menyesuaikan.
__ADS_1
Gue menyedot es cendol gue yang nggak kerasa kini tinggal es batunya.
"Balik, yuk, Lan."
Juna banhkit lebih dulu. Merogoh uang sepuluh ribuan lantas menyerahkan pada abang cendol. Kemudian kami berjalan pulang.
"Lo sering sering ajak Abra main ke rumah, Lan." Juna berkata.
"Gue aja nggak yakin apa gue temenan sama dia atau enggak."
"Kalo dia sampe nganterin lo pulang, berarti dia nerima lo sebagai temennya."
Betul juga. Dia bganterin gue pulang. Atau hanya kebetulan dia hanya ingin jalan jalan. Pikiran gue sedikit berputar soal Abra.
Apa gue pantas berteman dengan dia?
"Gue bakal berterimakasih kalo lo mau temenan sama dia."
Gue melihat Juna dan cowok itu juga melihat gue. Seketika gue juga ingin berterima kasih untuk hal itu. Terima kasih karena gue di ijinkan untuk berteman dengan Abra.
***
"Sejak kapan lo bawa bekal juga, Han?" Felix bertanya. Iya, dua cowok didepan gue sekarang sedang menikmati bekal mereka. Sedangkan gue dan Felix hanya mencomot satu dua makanan dari mereka. Atau menunggu dua cowok itu dengan ringan menawarkan.
"Nyokap gue tiba tiba ngasih bekal. Kalo nggak dibawa kasian. Nggak enak gue. Takut durhaka."
"Kalo lo sering bawa bekal, Bra?" gue bertanya.
Cowok itu mengangguk sembari menusuk buah dan menyuapkannya ke gue. "Bokap gue selalu bikin sarapan, trus sekalian gue dibuatin."
"Bokap lo?" Felix memastikan. Dan sekali lagi Abra mengangguk dengan mantap.
"Bokap nyokap gue mana sempet, gue bangun aja mereka udah pada nggak ada." Felix menerima suapan buah dari Abra.
"Minggu ini jadi kerumah gue, kan? Gue udah bilang nyokap. Kalian siapin perut aja, pasti nyokap masak banyak." Han menyuapkan potongan roti ke gue. "Kalo bisa jangan makan sejak malem."
Gue tertawa kecil. Abra juga. Dan tawa itu sungguh candu.
__ADS_1
Kami selesai dengan makan dan obrolan kemudian kembali ke kelas. Gue, Abra dan Han satu kelas jadi bisa barengan jalan. Sedangkan Felix berbeda. Felix anak Bahasa yang kelasnya di lantai tiga sedangkan gue, Han dan Abra kelas Sains di lantai dua. Jadi kami berpisah di lantai dua karena Felix harus lanjut mendaki.
Gue berjalan sedikit kebelakang dari Abra dan Han. Dia cowok itu sedang asik ngobrol yang gue nggak tau apa. Gue hanya menikmati senyum Abra dari belakang.
Namun ketika sedang asik menikmati tawa dan senyum itu tiba tiba seorang cewek berlari melewati gue. Menabrak bahu gue dan menjatuhkan kotak makan milik Han yang sengaja gue bawa. Gue kaget. Sumpah. Pengen marah.
Namun setelah melihat cewek itu meminta maaf dan membungkuk tanpa membantu gue merapikan kotak makan gue jadi luluh.
Hanya sesaat. Sebelum gue kembali dongkol karena cewek itu merangkul Abra dengan mesra. Dan Abra menanggapinya dengan senang. Sumpah, gue betulan kesal.
Sampai kelas Abra dan cewek tadi masih ngobrol manis. Gue nggak tau siapa itu cewek tapi dari gelagatnya seperti seorang yang cukup dekat dengan Abra.
"Lan, kotak makan gue."
Kotak makan yang sedari tadi masih ditangan gue akhirnya gue serahkan ke Han dengan sedikit kasar. Gue meletakkan kotak makan milik Han dimeja yang kemudian menimbulkan bunyi.
Gue betulan sekesal itu.
Tapi gue bingung kenapa gue kesal. Apakah karena cewek itu menabrak gue. Atau karena hal lain. Karena cewek tadi sudah meminta maaf secara resmi, gue merasa karena hal lain.
Bel masuk, cewek tadi sudah kembali ke kelasnya. Meninggalkan Abra dengan bukunya lagi. Gue sesekali meliriknya hanya untuk mendapati mata fokus Abra sedang bermain dengan angka di bukunya.
Lantas gue juga melirik bibirnya. Senyumnya menghilang. Dan tidak lagi ada.
Gue kemudian berpikir banyak tentang cewek tadi. Dari gelagatnya pasti dekat dengan Abra. Atau mungkin teramat dekat.
Lantas gue teringat ucapan Han di lapangan basket tempo hari. Pacar Abra?
Katanya dia sudah punya pacar. Apa itu betulan pacar Abra?
Gue menepuk dahi dengan pulpen. Sepertinya betulan pacar Abra.
Gue menelan saliva. Perasaan gue sedikit kesal. Tapi gue tidak tau kenapa. Apakah gue kesal karena Abra sudah punya pacar? Atau gue kesal karena pacar Abra sesempurna itu.
Yah, dia sangat cantik. Teramat cantik.
***
__ADS_1
Hi Hello...
Selamat Menikmati..