A Dusty Photo

A Dusty Photo
Bab 4 : Cerita di bawah Bintang


__ADS_3

...- A Dusty Photo  -...


...•••...


..._Bulan...


Hanin menyapa gue dengan senyum ketika gue resmi di perkenalkan oleh wali kelas. Lantas mengikuti arah jalan gue yang ternyata duduk di sampingnya. Bangku pojok belakang, satu satunya bangku yang tersisa.


Kelas gue adalah kelas Sains dimana seluruh pelajarannya akan berurusan dengan objek penelitian. Gue antara seneng dan enggak karena pasti gue bakal sibuk banget.


Tapi kata Hanin dia nggak pernah sesibuk itu. Atau dialah yang terlalu malas untuk di sebut sibuk.


Felix sudah menunggu di kantin ketika gue dan Hanin datang. Sudah memesan es jeruk yang bahkan kini tinggal separo.


"Enak banget kalian sekelas." ucap Felix pertama kali.


"Lo kenapa nggak ambil Sains aja dulu?"


"Gue nggak suka mikir."


"Jawaban khas Felix." Hanin berucap lantas tawa kami tercipta.


Dipikir lagi ternyata sudah amat lama gue merasakan suasana ini. Duduk bertiga kemudian bersenda gurau tanpa arahan. Menebar gosip tentang artis daerah, artis ibu kota, hingga artis luar negri. Meski terkadang pembicaraannya tidak ada yang berbobot.


Namun momen itulah yang gue rindukan.


Kantin mulai ramai dan gue lihat setiap kursi hampir penuh dengan siswa siswi. Gue melihat Budhe gue dan dua karyawan lainnya sibuk dibelakang sana yang langsung membuat gue ingin membantu. Han dan Felix tadinya juga ingin membantu namun gue melarangnya. Ini bukan bagian dari pekerjaan mereka. Dan jam istirahat seharusnya di gunakan untuk beristirahat, bukan sebaliknya. Namun tidak berlaku bagi gue karena sekarang status gue adalah keponakan ibu kantin. Dan dia adalah wali gue. Setidaknya gue membantu mengantarkan pesanan.


Lantas begitulah. Gue mengirimkan nampan nampan berisi makanan dan minuman yang sudah di pesan ke meja meja. Tadinya Budhe melarang takut jika seragam gue kotor, namun gue bersikeras. Kan bisa pake apron.

__ADS_1


Hari pertama gue di sekolah ini memecahkan rekor juga buat gue sebagai siswa baru bermasalah. Tapi gue betulan tidak sengaja.


Seorang siswi sedang asik ngobrol dengan seorang laki laki ketika gue datang membawa gelas dan mangkok kotor. Untuk kapasitas nampan yang berlebihan gue akui itu gue yang salah. Hingga menyebabkan gue kelelahan dan tidak sengaja menabrakkannya pada seorang cewek.


Spontan cewek itu berteriak. Terlihat sangat marah ke gue. Semua mangkok dan gelas jatuh menimbulkan suara keras. Lantas dengan sangat gampang gue menjadi pusat perhatian. Cewek di depan gue mengibas ngibaskan baju kotornya kemudian menatap gue tajam dan berteriak. Gue mati kutu.


Seorang cowok di sampingnya tiba tiba menepis lengan gue ketika gue mencoba membantu membersihkan, membuat gue semakin merasa bersalah.


Lantas begitu saja. Setelah mengucap segala makian di depan muka gue juga tentu saja di depan seluruh mata di kantin ini mereka pergi. Dan gue membatu. Takut bergerak, bahkan bernafas saja sepertinya sesak.


Kemudian Han dan Felix menghampiri gue. Bukan untuk menenangkan atau menepuk bahu gue. Namun untuk duduk membersihkan pecahan beling di kaki gue. Yang berserakan hingga kolong kolong meja. Gue ingin menangis.


***


"Maaf, Budhe." gue masih di kantin ketika kantin sudah sedikit sepi. Mungkin hanya meninggalkan beberapa pengunjung yang masih asik bercengkrama.


Dan Budhe tidak menjawab. Dia hanya diam. Dengan tangannya yang terus bergerak mengelap beberapa meja.


Setelah kejadian di kantin siang ini perasaan gue jadi betulan kacau. Entah itu memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya juga memikirkan padangan orang lain tentang gue.


Ah, ternyata gue sudah dewasa.


Selama ini gue belum pernah setakut ini soal penilaian orang lain. Gue terlalu tidak peduli dengan ucapan ucapan itu juga tatapan itu. Namun lama kelamaan gue merasa bahwa pandangan orang lain selalu penting untuk kehidupan gue.


Sepulang sekolah gue memutuskan kembali ke kantin untuk membantu Budhe membereskan segala barang. Bersama dua karyawan lainnya kami hanya saling diam. Hingga pulang ke rumah. Hingga makan malam.


Gue putus asa. Apakah gue sudah mengacaukan hari Budhe. Ataukah gue menyebabkan hatinya perih hingga tak sanggup memaafkan. Gue terus terusan berfikir soal itu sampai anak tertua Budhe mengajak gue untuk duduk diatap rumah. Dalam tanda kutip genteng, karena Budhe tidak sekaya itu bisa memiliki rumah dengan rooftop.


"Kenapa, Lan?" bang Lino membuka pembicaraan. Dia sedang menatap langit.

__ADS_1


"Bulan yang harusnya tanya, kenapa Abang ajak Bulan ke sini."


"Soalnya di langit lagi nggak ada Bulan, makanya abang ajak kamu kesini. Benda langit jadi lengkap."


Gue tertawa sedikit.


"Udah lama, ya, Lan." bang Lino sekali lagi berkata. Gue hanya menoleh.


"Iya."


"Dulu abang selalu di marahi Budhe kamu kalo abang ngajak kamu sama Juna naik ke genteng. Padahal niat abang baik."


"Melengkapi benda langit, bang?"


"Tepat," bang Lino tertawa gue juga.


Gue ikutan menatap langit. Menghubungkan setiap bintang menurut keinginan gue. Membentuk ini dan itu.


"Dulu, abang pernah bikin Budhe kamu marah, " gue menghentikan tatapan gue ke bintang. "dan kali ini bukan cuma marah karena abang nggak mau nyapu pekarangan, atau ngajak kamu sama Juna bahkan Lana ke atas genteng. Kali ini betulan kesalahan. Budhe kamu marah dan marahnya selalu bikin abang kapok. Nggak akan lagi bikin Budhe kamu marah. Budhe kamu cuma diem. Tapi diemnya cuma sama abang. Pas makan malam abang nggak dipanggil, pas sarapan juga abang nggak di panggil. Abang bangun kesiangan juga Budhe kamu cuma diem. Uang saku yang biasanya di kasih sebelum kita pamitan mau berangkat sekolah di kasih pas sarapan. Di taroh di depan piring abang. Tapi cuma abang. Tiga hari Budhe kamu marah. Saat itu abang tau penyebab marahnya Budhe kamu. Bukan soal kesalahan abang, Lan. Bukan karena abang membuat Budhe kamu bayar ganti rugi. Tapi karena abang yang nggak bisa mengendalikan emosi abang. Abang juga nggak bisa berfikir jernih, abang nggak bisa dengerin kata orang yang lebih tua."


Gue menunduk. Kemudian Bang Lino menatap gue dari samping dan menepuk pundak gue.


"Budhe kamu marah bukan karena dia rugi. Bukan karena dia harus merekalan mangkok dan gelas berlipat lipat kali. Buka  soal Budhe yang malu juga. Tapi karena kamu mengabaikan Budhe. Mungkin ada kata kata Budhe kamu yang nggak kamu denger. Mungkin kamu bandel karena melanggar salah satu peraturan yang Budhe kamu buat."


Gue membalas tatap Bang Lino. Mungkin saja. Mungkin karena gue nggak mau mendengar apa yang Budhe katakan. Sebelumnya Budhe sudah berkali kali melarang gue melakukannya. Melarang gue untuk terlibat di pekerjaannya meski itu hanya pekerjaan kecil. Gue merasa bersalah untuk itu.


***


Hi Hello...

__ADS_1


Gimana hari ini?


__ADS_2