A Dusty Photo

A Dusty Photo
Bab 16 : I love you but I hate you more


__ADS_3

...- A Dusty Photo -...


...•••...


..._Bulan...


Jam istirahat pertama gue males banget buat keluar kelas. Han yang tadinya ngajakin buat makan siang di taman belakang juga mengurungkan diri dan akhirnya makan di dekat gue. Felix juga datang ke kelas. Dia memakan bekal buatan budhe gue. Karena gue sedang tidak ingin makan apapun.


Gue meletakkan kepala diatas meja. Menenggelamkan wajah agar tidak terlihat oleh siapapun walaupun sebetulnya tidak ada orang lain di kelas kecuali Felix dan Han.


"Makan dulu, Lan." Felix menyentuh lengan gue. Dia menggoyangkannya sesekali namun gue tidak memberi respon.


"Masakan budhe lo enak banget. Lain waktu bawa lebih lagi, Lan." Felix berkata dengan mulut penuh makanan. Gue menghela napas. Bekal lebih itu tadinya mau gue makan bareng Abra, walaupun tetap akan ada Felix dan Han tapi niat awal adalah untuk Abra. Gue tersenyum pahit.


"Han." sesak ketika gue memanggil nama Han. Suara berat gue membuat dua orang itu berhenti memainkan sendok dan garpu. Memfokuskan diri mereka ke gue. Namun gue masih belum mengangkat kepala.


"Lix."


"Buruan bilang. Lo serem kalo gitu." Felix berkata kesal.


"Nyokap gue telfon."


Gue nggak tau siapa yang betulan kesal tapi gue mendengar sendok dan garpu terlempar membentur meja. Gue semakin sesak. Ingin menangis.


"Huh, setelah sekian lama." suara Felix jauh lebih kesal dari sebelumnya.


"Gue harus gimana?"


"Apa katanya?" tanya Han lebih lembut daripada Felix sebelumnya.


"Kamu kangen Mami?" gue mengangkat kepala. Membiarkan rambut panjang gue berantakan menutup separuh wajah. "Gitu."


"Jawaban lo?"


"Gue nggak yakin sama jawaban gue."


"Harusnya bilang aja, Enggak. Kalo bisa pake tanda seru yang banyak." gue nggak tau kenapa Felix yang makin kesal.


"Mood gue rusak." gue menambahi.


"Sama." Felix berkata sembari menutup kotak makan.

__ADS_1


Han berdiri, "gue beli susu dulu."


Felix merapikan semua yang ada di atas meja gue. Dia tadinya ingin berdiri juga menarik tangan gue untuk diajak betanjak. Mungkin mencari tempat yang lebih sejuk agar pikiran gue sedikit jernih. Ya, meski itu hanya sedikit.


Namun gue tidak kuat berdiri. Perut gue kram hebat dan dada gue sesak seketika. Rasanya seperti seluruh pembuluh darah dihentikan ketika akan berjalan menuju jantung. Otot perut gue seperti di tarik dari banyak sisi membuat kaku tak tertahan. Gue menggigit bibir sembari memegang perut dan seperkian detik setelahnya gue sudah berbaring di ruang UKS. Dengan Han yang duduk di samping gue dan Felix yang entah kenapa sudah menggendong tas ransel milik gue. Juga sepertinya miliknya juga.


"Sakit banget, Lan?" pertanyaan pertama yang gue dengar dari Han.


"Iya."


"Sip. Berarti kita bisa skip kelas."


Gue sedikit bingung. Ah, tidak sedikit. Betulan bingung.


"Gue udah pesen grab, dia lagi nunggu di luar. Gue sama Felix juga udah minta surat ijin dari guru piket. Kita diijinin balik lebih dulu."


"Ayok, Lan. Gue nggak mau ikut kelas Antropologi." Felix meraih lengan gue dan senyum gue terpancar begitu saja. Lucu juga. Ini pertama kalinya gue bolos bareng mereka masa SMA.


•••


"Lo telfon siapa, Lix? Kok pake hp gue?" tanya gue ketika kami sudah masuk mobil.


"Sabrang."


"Ngabarin kalo lo sakit. Soalnya pas lo pingsan dia lagi nggak ada di kelas." gue menghela napas mendengar jawaban Felix.


"Gue nggak sepenting itu buat hidup dia."


"Ngabarin aja, Lan. Takutnya dia nyariin."


Sepanjang perjalanan ke rumah budhe gue tidak tau kenapa rasanya gue tidak ingin membahas apapun soal Abra. Entah itu berkaitan dengan belajar kelompok atau tidak. Sepanjang perjalanan yang gue lihat hanya ramai jakarta dari balik kaca mobil. Gue menolak bicara dengan Felix juga Han ada di samping gue. Sampai kami turun didepan pekarangan rumah dan disambut Juna bersama piyamanya.


"Juna? Lo bolos?" pertanyaan pertama Han ketika Juna membantu gue untuk keluar dari mobil. Cowok itu memapah gue menuju rumah.


"Gue dapet kabar dari Abra. Kenapa lo nggak gabarin gue sendiri?"


"Nggak kepikiran." setelah menjawab pertanyaan dari Juna dan menjawabnya dengan sangat jujur gue malah digaplok sama Juna. Sakit.


Di dalam rumah tanpa basa basi Felix menyalakan televivi. Kemungkinan untuk mencairkan situasi karena gue yang tidak bicara padanya sejak tadi. Han juga kelihatan kurang nyaman. Gue jadi merasa bersalah.


"Jun? Ana camilan apa gitu? Kasian kawan gue kelaperan." tanya gue ke Juna yang sedang asik scrol tiktok.

__ADS_1


"Lix? Han? Mau cilok, nggak?" Juna mematikan ponselnya pantas berdiri dan berjalan menuju kamar, "Gue mau kedepan beli cilok."


Gue menepuk jidat.


"Lo mau cilok juga, Lan? Gue mau ikut Juna kayaknya." Felix berucap.


"Perut gue sakit, Lix." Felix berganya, "tapi kalo es krim mau."


Lantas Felix tersenyum. Han juga.


"Gue disini aja nemenin Bulan."


Juna dan Felix pergi. Sepertinya Juna juga sekalian belanja kebutuhan karena dia membawa kantong belanjaan yang dilipat kecil lantas dimasukkan ke saku kemeja.


Selepas kepergian Juna dan Felix, Han berpindah duduk di dekat gue. Seketika dan tanpa permisi gue menjatuhkan kepala di bahunya. Lantas menangis tanpa suara. Han tidak berkomentar. Tidak bereaksi dan membiarkan gue melakukan apa yang gue mau. Selama sepuluh menit gue terisak. Radanya sesak dan hidung gue penuh dengan cairan yang menghambat jalan nafas. Akhirnya gue mengangkat kepala.


"Thank you." ucap gue ketika Han menyodorkan tisu.


Dia tidak berkata apa apa. Hanya menatap gue dan tersenyum melihat bagaimana wajah memerah gue sekarang.


"Hanin." gue memukul lengannya.


"Kalo lo nangis karena nyokap lo gue akan membiarkannya, tapi kalo itu karena orang lain gue berharap tau sedikit ceritanya." Han masih menatap gue. Dan gue betulan tertarik untuk bercerita. Semua tentang perasaan gue pagi ini. Soal Abra dan Anastasya. Terakhir gue sampai ke nyokap entah kenapa.


Rasanya gue memang tidak pantas menangis untuk Abra karena dia yang bukan siapa siapa. Sedangkan bagaimana gue menangis untuk nyokap secara tiba tiba itu melukai harga diri gue.


Kangen, ya? Nyokap gue tanya soal kangen dan gue akan menjawab dengan ragu. Iya. Gue kangen.


Meskipun tidak banyak kenangan manis yang bisa gue ingat tentang dia. Tapi gue kangen dia. Cara dia menasihati gue ketika nilai ulangan gue buruk. Cara dia membangunkan gue ketika gue gagal mengayuh sepeda. Atau ketika dia mendekap gue ketika secara langsung gue menyaksikan pertengkaran orang tua gue. Kenangan itu yang gue rindu. Nyokap gue yang dulu yang gue rindu.


Gue berusaha menghapus semua rasa sayang gue ke nyokap atau bokap. Lantas menggantinya dengan sesuatu yang baru. Nyatanya tidak bisa. Mereka selalu hadir dan membuat gue gagal bernafas lega.


Katanya, sejahat apapun orang tua mereka tetap berjasa dalam melahirkan kita. Menghadirkan gue di dunia. Untuk yang satu ini gue akan berterima kasih. Namun hal lain, gue enggan. Tidak ada orang yang ingin dilahirkan ke dunia untuk menanggung beban. Atau dilahirkan hanya untuk menyaksikan pertengkaran. Termasuk gue.


Gue tidak pernah mau dilahirkan untuk memikul beban. Dan gue enggak berterima kasih untuk hal itu.


Gue sayang nyokap gue. Tapi rasa benci yang gue miliki lebih besar dari rasa sayang itu sendiri.


••••


Hi Hello..

__ADS_1


Selamat membaca..


__ADS_2