A Dusty Photo

A Dusty Photo
Bab 6 : Khawatir tanpa dasar


__ADS_3

...-A Dusty Photo -...


...•••...


..._Bulan...


Gue nggak tau kalo ternyata kelompok yang di buat beberapa hari lalu berlaku hingga satu semester di mata pelajaran bu Andini. Gue betulan tidak tau menahu karena gue baru kan. Ternyata aturan itu sudah berlaku sejak lama. Jadi selama satu semester kedepan gue akan terjebak dengan Abra. Entah apa kabar jantung gue setelah itu.


Kerja kelompok pertama kita sukses. Atau bisa dibilang lumayan karena ternyata Abra sepintar itu. Juga sepandai itu berbicara di depan umum. Dan lagi lagi, gue terpesona olehnya.


Kali ini pesona yang dia pancarkan lain. Seperti ada sesuatu yang meledak di kepala gue kemudian tanpa sadar gue tersenyum.


Pesona Abra tidak berhenti di situ. Masih banyak lagi. Salah satunya saat pelajatan olahraga.


Gue benci sama pelajaran itu. Meskipun banyak orang bilang pelajaran yang satu ini sangat mengasyikkan, gue tetap membencinya. Sejak dulu. Namun sepertinya kebencian gue akan sedikit berubah karena Abra. Iya, karena cowok itu terlalu mendominasi pandangan gue.


Kali ini gue sedang duduk di pinggir lapangan basket. Menunggu guru olahraga yang katanya hanya telat sebentar namun kini sudah hampir tiga puluh menit. Anak anak cowok sedang bermain bola basket terutama Abra. Dan betapa menakjubkan dia. Walaupun bukan anggota klub basket seperti yang dia bilang ke gue beberapa hari lalu faktanya dia bermain cukup bagus. Berlari kesana kemari. Mengoper bola lantas melompat memasukkannya ke ring basket. Gue terpesona, sungguh.


"Woy!!" kekaguman gue berhenti sejenak saat Han menepuk bahu gue. Gue kaget dan hampir memukup dia.


"Kaget, ***."


Han tidak tampak bersalah. Kemudian dia mengulurkan air putih dingin kearah gue. Gue hanya menerimanya. Belum saatnya minum karena olahraha saja belum mulai.


"Jangan terlalu keliatan kalo lagi suka sama cowok."


Gue menoleh pada Han.


"Lo beneran sepengen itu kenal lebih jauh sama Abra?"


"Gue udah kenal dia."

__ADS_1


"Kenal sama tau itu beda. Cuma ngobrol sesekali di kelas bahas pelajaran nggak terus bisa disebut temenan." Han membuka botol minumnya kemudian menukar dengan milik gue.


"Tapi gue udah sedikit kenal dia. Bukannya permulaan yang bagus?" gue tatap Han kemudian gue kasih smirk dia.


"Contohnya?"


"Gue tau kalo dia bukan anggota klub basket. Tau kalo dia ternyata peringkat pertama paralel semester lalu. Tau kalo... "


"Dia udah punya pacar?" Han memotong kalimat gue.


"Maksudnya?" gue bertanya.


"Dia udah punya pacar."


"Dia nggak pernah cerita."


"Karena kalian belum terlalu kenal."


Han melihat lapangan basket kemudian menunjuk Abra.


"Lo yakin dengan kemampuan sebagus itu dia bukan anggota klub basket?"


Gue mengikuti arah tatap Han. Mengikuti gerakan Abra yang sungguh mengagumkan. Kemudian dengan tanpa sadar gue termakan kalimat Han. Betul juga. Dengan kemampuan yang luar biasa itu mustahil dia bukan anggota klub basket. Pihak sekolah tidak akan melepaskan bakat terbaik seperti Abra.


Tepat pada lemparan terakhir yang tepat sasaran Abra berubah. Dia bersikap seolah tidak penah memegang bola basket ketika guru olahraga memasuki lapangan. Lantas dengan begitu tiba tiba dia berubah menjadi seorang yang tidak bisa bermain bola basket.


Pada pelajaran tentang bola basket kali ini, gue merasa Abra tidak sedang sungguh sungguh. Dia selalu gagal memainkan bola. Melemparnya namun selalu nyaris. Hanya nyaris.


Dan begitu saja kalimat Han berputar di kepala gue. Sepertinya Abra tidak berniat bergabung dengan tim basket meski kemampuannya sangat luar biasa. Sepertinya ada sesuatu yang cowok itu sembunyikan dari banyak orang. Seperti kekuatannya yang akan berubah menjadi kelemahannya. Namun bukan siapa siapa untuk tau hal itu lebih jauh. Kecuali gue dekat dengan dia. Mungkin. Dengan gue dekat dengan dia.


***

__ADS_1


Pelajaran olahraga selesai. Semua siswa mulai bubar dan mengganti pakaian mereka termasuk gue. Gue berjalan ke kamar mandi sendirian karena percayalah selama lebih dari satu minggu gue bersekolah disini, belum ada satupun cewek yang mau temenan sama gue. Mungkin karena kejadian di kantin waktu itu yang membuat gue tidak mudah mendapat teman. Karena identitas gue sebagai keponakan pemilik kantin ternyata penting bagi sebuah pertemanan.


Klasik. Begitulah sekolah elit dengan sponsor besar seperti ini. Dimana jika orang tua kalian memberi sponsor sekolah lebih banyak maka tempat untuk kalian juga akan lebih banyak. Gue lupa tentang diri gue. Gue tidak memiliki wali pemilik pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Gue juga bukan anak dari pengusaha ternama. Karena menurut mereka gue hanya keponakan ibu kantin. Dimana tidak ada sponsor untuk sekolah sama sekali.


Hampir gue mengasihani diri gue sendiri.


Obrolan cewek cewek di kamar mandi sampai di telinga gue. Pembicaraan mereka ringan. Seperti pembicaraan tentang artis ibu kota, tentang pesta keluarga, atau tentang sokongan mama dan papa.


Ah, sepertinya gue dulu juga begitu. Saat gue di Surabaya. Saat gue masih di akui sebagai anak oleh bokap dan nyokap tiri gue. Gue pun sama halnya, membanggakan apa yang mereka beri. Ah, gue jadi rindu.


Gue sudah bilang sebelumnya kalo gue adalah anak broken home dimana nyokap dan bokap gue tidak terlalu peduli dengan mental gue. Mereka hanya peduli soal uang, dan mereka kira gue juga akan bahagia dengan uang. Tapi nyatanya tidak. Gue tidak bisa bilang bahwa uang membuat gue bahagia. Bahwa gue akan punya tempat yang bagus jika uang bisa menyediakan tempat bagi gue. Tapi nyatanya sama saja. Dengan atau tanpa uang gue tidak pernah punya tempat yang bagus. Gue tidak pernah punya senyum yang nyata. Tidak pernah punya kenangan yang bisa gue banggakan di masa depan.


Lalu kenapa sampai saat ini gue masih bertahan. Tidak mencari jalan untuk kebahagiaan gue sebagai manusia. Bukannya yang gue butuhkan untuk bahagia pada dasarnya hanya itu?


Gue butuh jalan untuk kebahagiaan gue sendiri. Dan tidak akan ada jalan jika gue tidak mencarinya. Setidaknya, mungkin sampai situ. Sampai gue menemukan jalan gue sendiri.


Ponsel gue berbunyi di saku seragam. Dari Han. Dia mengirim banyak pesan sebelum akhirnya memutuskan menelpon.


"Piye?" gue menyapa.


"Nggak selesai selesai ganti baju."


"Bentar."


"Gue tunggu di kafetaria, Felix mau traktir makan."


"Oke. Omongke Felix, aku pesenke jus jambu, sik."


***


Hi Hello.

__ADS_1


Terima Kasih sudah berkunjung. Selamat menikmati.


__ADS_2