![ABHIYASA [ END ]](https://asset.asean.biz.id/abhiyasa---end--.webp)
"Kamu jadi ke sini atau enggak Bhi?" tanya Arif di ujung panggilan.
"Jadi, aku sudah sampai di kota *S* dan sekarang sedang ada di jalan Kemlaten."
"Loh ngapain kamu di situ? kenapa gak berhenti di terminal saja lalu telepon aku? janjiannya kan begitu."
"Ceritanya panjang Rif, aku saja masih syok ini. Kamu bisa jemput aku atau aku naik angkutan umum?"
"Aku jemput saja, naik bis saja ngilang. Gimana kalau kamu ngilang lagi pas naik angkutan? tunggu di situ, aku meluncur sekarang!"
"Gak dimarahi bosmu?"
"Gampang, aku bisa izin sebentar."
"Ya sudah, makasih Rif, aku tunggu!"
"Iya."
Keduanya pun mengakhiri percakapan via telepon. Arif lekas meminta izin bosnya. Sementara Abhi, mencari tempat teduh untuk duduk, menunggu jemputan Arif. Di saat yang bersamaan, ia masih memikirkan tentang kejadian yang baru saja ia alami. Betapa pun kerasnya ia berpikir, tetap tidak masuk akal baginya.
...🌟🌟🌟...
Setelah menunggu beberapa saat, tibalah Arif di sana yang kemudian langsung mengajaknya makan di sebuah warung. Di sanalah Abhi bercerita. Menceritakan semua hal yang ia alami sedari berangkat hingga sampai di sini. Arif bergidik sebab tak menyangka kalau temannya, benar-benar telah keluar dari dimensi yang lain. Selama ini, ia telah banyak mendengar cerita mistis demikian tapi baru pertama kali, ada orang yang ia kenal, mengalaminya.
"Kamu sudah ngabarin ibumu Bhi?" tanya Arif, sekaligus mengingatkan.
"Sudah, tadi saat nungguin kamu, aku sudah telepon ibuku. Ibuku juga sangat khawatir karena sudah tiga hari, aku gak ada kabar. Katanya, ibuku sudah siap-siap lapor polisi kalau di hari keempat, aku masih belum ngabarin."
__ADS_1
"Aku kira kamu gak jadi ke sini. Aku udah nungguin juga. Ya, alhamdulillah Bhi, kamu bisa keluar. Baik juga tuh, jin di warung yang ngingetin kamu biar gak makan. Seperti yang pernah aku dengar, kalau kita makan di dimensi lain gitu, udah pasti gak bakalan balik lagi. Kalau pun bisa balik, nama doang. Misal ada keajaiban, kan kecil sekali kemungkinannya."
"Iya Rif. Aku sudah ngerasa aneh sih tapi kan posisi itu.. ya.. mana mikir sejauh itu sih aku? kalau kamu jadi aku kan juga pasti gak bakalan mikir sampai ke alam lain begitu?"
"Iya juga. Hem.. keren sekaligus ngeri."
Abhi manggut-manggut seraya menjejalkan sesuap makanan ke mulutnya.
...🌟🌟🌟...
Usai makan, Arif membawa Abhi ke rumah makan, tempat ia bekerja. Di sana, Abhi dipertemukan dengan bos atau pemilik rumah makannya yang merupakan sepasang suami istri. Di sana, Abhi ditanyai hal-hal dasar seperti nama, asal tempat tinggal dan pengalaman bekerja sebelumnya. Tidak ada keahlian khusus untuk dapat bekerja di sana. Hanya perlu rajin dan saling gotong royong saja. Selain itu pun juga harus menjaga sikap yang baik kepada sesama pegawai dan juga para pelanggan.
"Baik bu, saya mengerti," jawab Abhi.
"Untuk hari ini, kamu bisa istirahat saja dulu. Pasti capek kan habis perjalanan jauh. Besok, kami baru mulai bekerja dan untuk tempat tidur... saya belum beli kasur lagi, sementara kamu tidur di amben (tempat tidur tanpa kasur) yang ada di lantai dua ya! di situ dulu tanpa kasur gak apa-apa ya? besok atau lusa, saya belikan."
"Tidak apa-apa bu. Yang terpenting, saya ada tempat untuk beristirahat."
"Baik bu Indah, terima kasih banyak!"
"Iya Bhi, sama-sama."
Abhi lantas mengangguk lalu beranjak ke tempat Arif.
"Gimana?" tanya Arif, lirih.
"Diterima."
__ADS_1
"Alhamdulillah! yuk naik, aku tunjukin dulu messnya!"
"Iya."
...🌟🌟🌟...
Hari itu, Abhi hanya melihat Arif dan para rekan kerjanya yang lain dalam mempersiapkan bahan-bahan dan ketika rumah makan mulai buka, ia melihat kondisi sebentar lalu naik ke atas untuk beristirahat. Pikirnya, badannya masih terasa lelah dan keadaan rumah makan yang mulai ramai. Para rekan kerjanya sibuk dengan job disk masing-masing. Abhi tidak mau mengganggu pekerjaan rekan-rekan kerjanya.
Rumah makan itu buka mulai pukul sebelas siang hingga pukul sembilan malam. Menjajakan banyak menu mulai dari koloke, cap cai hingga menu sambelan. Jika dipikir-pikir, para pegawai bekerja seharian sebab, sebelum rumah makan buka, mereka harus menyiapkan bahan-bahan. Baik ayam, ikan, daging maupun sayuran. Dilihat sepintas, Abhi menggelengkan kepala. Ia mendengus kalau sepertinya, pekerjaan ini cukup berat. Meski demikian, ini baru awal untukmua dan Abhi sudah berniat untuk menjalaninya.
...🌟🌟🌟...
Sekitar pukul setengah sebelas malam, para pegawai baru benar-benar selesai dengan pekerjaan. Saat itulah Abhi kembali berkumpul dengan Arif dan rekan-rekannya yang lain. Pukul dua belas, semua orang telah terlelap, termasuk juga dengan Abhi. Sekedar dipan/amben yang keras, tidak akan mengganggu kualitas tidurnya. Ia tetap dapat tidur dengan sangat pulas. Setidaknya, sebelum ia memimpikan seorang wanita tua menggunakan kebaya tradisional tempo dulu menatap lekat ke arahnya. Meski itu hanyalah mimpi tapi terasa begitu nyata hingga Abhi terjingkat dari tidurnya.
"Astagfirulloh!" seru Abhi sembari menghela napas dalam-dalam.
Abhi lantas berusaha untuk tidur kembali. Namun, batinnya malah gelisah. Gelibukan ke kanan dan ke kiri. Masih merasa seperti ada yang sedang mengawasi. Pada akhirnya, Abhi benar-benar tidak bisa tidur kembali. Berulang kali ia mendengus hingga saat ia membuka mata, tubuhnya terjingkat sebab melihat sosok wanita tua yang tadinya ia lihat di dalam mimpinya, kini jongkok menatap ke arahnya. Di saat yang menegangkan itu, sosok itu membuka mulutnya lalu mengulas senyum yang sama sekali tidak terlihat indah. Bagi Abhi, penampakan itu sungguh menyeramkan. Seolah menggoda Abhi, sosok itu tak jua kunjung menghilang. Sementara Abhi, seolah kehilangan suara. Tak dapat mengatakan apa pun, apalagi berteriak.
Setelah itu, sosok wanita tua berdiri seraya berjalan mendekat ke arah Abhi. Abhi yang ketakutan berusaha menghindar perlahan. Ternyata, sosok wanita tua naik ke dipan dan kemudian, merebahkan dirinya di sana. Sekuat tenaga Abhi mencubit Arif hingga temannya terbangun dan marah. Namun, Arif lekas memasang wajah serius ketika melihat raut Abhi yang sangat ketakutan.
"Kamu kenapa Bhi? lihat apa?" tanya Arif sembari memalingkan pandangan ke arah Abhi memandang.
"Bhi.."
Sadar ada yang aneh dengan temannya, Arif lantas menarik Abhi lalu menyelimutinya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Udah di sini saja, kita sempit-sempitan gak apa-apa! besok pagi baru cerita!" ucap Arif dengan nada pelan.
__ADS_1
Abhi hanya menganggukkan kepala dan rasa takut yang Abhi rasakan, menjalar ke Arif pada akhirnya. Keduanya pun terjaga selama beberapa jam sebelum kantuk benar-benar tak dapat lagi di tahan dan kemudian berhasil membuat mereka ketiduran.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...