ABHIYASA [ END ]

ABHIYASA [ END ]
MUNTAH DARAH


__ADS_3

Setelah dua hari rumah makan tutup, bu Indah kembali datang dan berjualan seperti biasanya. Namun, hal serupa kembali terulang dan lebih parah dari sebelumnya sebab, gejala ditambah mual hingga muntah. Suami bu Indah lekas membawa istrinya ke rumah sakit. Padahal sebentar lagi adalah jam makan siang di mana seharusnya, rumah makan akan dipenuhi pembeli. Arif dan Abhi hanya bisa mengikuti instruksi untuk menutup rumah makan.


"Apa sebaiknya kita nyusul ke rumah sakit saja Rif?" tanya Abhi.


"Ngapain?"


"Ya barang kali bapak membutuhkan bantuan kita," jelas Abhi.


"Emm.. apa tidak malah merepotkan? lagi pula, bu Indah juga memiliki anak yang bisa membantu bapak."


"Jadi gimana enaknya?"


"Besok saja kita ke sananya sekalian bawain bubur buat saran ibuk dan bapak!"


"Ide bagus itu."


Keduanya pun sepakat dan keesokan paginya, Arif lebih dulu menghubungi suami bu Indah untuk menanyakan keadaan bu Indah. Apakah bisa rawat jalan saja atau perlu dirawat di rumah sakit yang ternyata, bu Indah diharuskan untuk menjalani rawat inap. Arif pun menanyakan perihal rumah sakit mana tempat bu Indah di rawat? sekaligus dengan nama ruangan dan nomer kamarnya. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, Arif dan Abhi bergegas membeli buah tangan sebelum kemudian bertolak ke rumah sakit.


...🌟🌟🌟...


Arif dan Abhi membawakan bubur dan juga buah-buahan. Bertanya pada resepsionis lalu berjalan sesuai arah yang ditunjukkan.


"Rumah Sakitnya besar juga ya Rif? beda sekali dengan yang di desaku," celetuk Abhi.


"Jelas beda lah Bhi. Desa dengan kota, kamu samakan," timpal Arif.


Arif dan Abhi mencari ruang inap bu Indah sembari berbincang.


"Itu Bhi ruang Cempaka!" ucap Abhi sembari menunjuk ke satu arah.


"Oh iya, kita cari nomer 211!"


"Iya Rif."


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai. Abhi membuka pintu perlahan seraya mengucapkan salam. Suami bu indah menoleh seraya menjawab salam Abhi serta mempersilakannya untuk masuk.


"Sendirian saja pak?" tanya Abhi sembari bersalaman.


"Iya, anak saya barusan pulang tapi nanti sore akan balik lagi ke sini," jawab suami bu Indah.


Baru saja Arif dan Abhi hendak menanyakan keadaan bu Indah, tiba-tiba bu Indah muntah membuat panik semuanya. Terlebih ia memuntahkan banyak darah. Tombol untuk memanggil perawat pun ditekan dan dua orang perawat pun lekas datang.


"Kenapa ini pak? kenapa tiba-tiba muntah darah?" tanya salah seorang perawat.


Satu perawat lain kembali untuk membawa perlengkapan yang akan digunakan untuk membersihkan darah bu Indah. Sementara perawat yang tinggal, berusaha melakukan pertolongan agar bu Indah dapat berhenti muntah. Wajah bu Indah terlihat pucat pasi, tubuhnya pun lemas.


"Apa masih terasa mual bu?" tanya si perawat.

__ADS_1


Bu Indah menggelengkan kepala seraya mengatakan kalau tubuhnya sangat lemas.


"Kalau begitu, bu Indah istirahat saja dulu! Hal ini akan kami laporkan di dokter dan dokter yang nantinya akan memberi keputusan tindakan!" jelas si perawat.


"Iya sus," jawab suami bu Indah.


"Kami tinggal dulu ya bu, pak!"


"Iya, terima kasih sus!"


"Iya pak sama-sama."


Dua perawat itu pun pergi. Arif dan Abhi tak menyangka kalau penyakit bu Indah separah ini.


"Sebenarnya, ibuk sakit apa pak?" tanya Arif, pelan.


"Belum tahu, hasil lab darah kemarin hanya menunjukkan kalau trombosit ibuk turun. Kondisinya pun sangat lemah. Jadi diminta rawat ini dulu," jelas suami bu Indah.


"Em, begitu... ohya pak, ini kami bawakan bubur dan buah-buahan. Barangkali bapak dan ibuk mau sarapan dulu."


"Iya Rif terima kasih. Mumpung kalian di sini, apa saya bisa minta tolong jagain ibuk sebentar? saya ada perlu dulu."


"Bisa kok pak, silakan kalau bapak mau keluar. Biar saya dan Arif yang jaga bu Indah!"


"Iya-iya, saya tinggal sebentar ya!"


Suami bu indah pergi sementara bu Indah sendiri kembali terlelap dengan cepat. Sepertinya, beliau benar-benar kehilangan tenaganya. Sekedar membuka mata saja, tak bisa lama-lama.


"Kasihan bu Indah Rif," desah Abhi sembari menghela napas.


"Iya Bhi, orang baik kok gini amat ya nasibnya?"


"Sampai muntah darah begitu, kira-kira sakit apa?"


"Emm.. sakit paru-paru mungkin."


"Wah bisa juga tapi kan bapak gak merokok, sakit paru-paru dari mana?"


"Mana kita tahu Bhi? sakit paru-paru kan gak selalu disebabkan oleh perokok aktif maupun pasif."


"Semoga lekas diberi kesembuhan untuk bu Indah!"


"Aamiin!"


...🌟🌟🌟...


Sekitar satu jam berselang, suami bu Indah belum juga datang. Abhi dan Arif memainkan ponsel mereka di sela-sela obrolan hingga tiba-tiba, keduanya dikejutkan oleh suara dengkuran bu Indah yang mirip sekali dengan suara seseorang yang sedang sekarat.

__ADS_1


"Astagfirulloh bu Indah!" pekik Arif dan juga Abhi.


"Kenapa ini Bhi?" tanya Arif yang panik.


"Perawat! pencet tombolnya!" ucap Abhi memberikan perintah.


"Iya-iya."


Satu orang perawat bergegas datang untuk memeriksa. Tak lama, ia memanggil perawat lain yang lebih senior. Dua perawat itu pun menolong bu Indah hingga bu Indah dapat tenang kembali. Anehnya, bu Indah tetap memejamkan matanya seolah apa yang terjadi tadi, hanyalah sebuah mimpi.


"Sudah, bu Indah sudah tenang kembali!" ucap perawat senior berseragam hijau.


"Itu tadi kenapa ya sus?" tanya Abhi.


"Tidak apa-apa, untuk lebih jelasnya dapat ditanyakan ke dokter nanti!"


"Oh baik."


"Kami permisi!"


"Iya sus terima kasih!"


Kedua perawat itu, mengangguk lalu berjalan pergi.


"Mengejutkan," gumam Arif.


"Iya, alhamdulillah bu Indah sudah kembali baik."


"Menurutmu kenapa Bhi?"


"Gak tahu."


"Apa bu Indah.. sempat sekar.."


"Hussttt! jangan bicara macam-macam! berdoa yang baik!"


"Hais bukan begitu, jangan berburuk sangka dulu padaku! maksudku, kalau memang benar, kita kan bisa menuntun bu Indah untuk talkin!"


Abhi terdiam sesaat.


( TALKIN adalah bacaan yang diucapkan kepada orang yang akan meninggal dalam islam agar orang tersebut mengingat Alloh dan menirukan ucapan talkin tersebut ).


( Bunyi TALKIN adalah Laa illa haillalloh ).


"Apa pun itu, kita doakan saja untuk kesembuhan bu Indah!" ucap Abhi kemudian.


Arif manggut-manggut. Sekitar satu jam kemudian, suami bu Indah datang. Membawa satu tas penuh berisi pakaian bu Indah dan keperluan yang lainnya. Arif dan Abhi lantas menceritakan perihal apa yang tadi dialami bu Indah. mendengar cerita dari Arif dan Abhi, suami bu Indah tak banyak berkata selain memandangi istrinya yang tengah tergolek tak berdaya. Raut sedih tak dapat ia sembunyikan meski tak ada satu kata pun yang ia ucapkan.

__ADS_1


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2