ABHIYASA [ END ]

ABHIYASA [ END ]
AMBRUK


__ADS_3

Persaingan bisnis yang tidak sehat antara bu Indah dan rivalnya berlanjut pada pertarungan sengit tanpa henti. Bos rumah makan sebrang telah berhasil menemukan dukun yang dapat meramaikan lagi rumah makannya. Bukannya berhenti dan fokus pada bisnis yang dijalankan. Kedengkian bos rumah makan sebrang kian mendalam hingga muncullah ide untuk mematikan mata pencaharian bu Indah agar tak dapat bangkit lagi. Lebih parahnya, ia tidak sekedar ingin mematikan usaha bu Indah saja tapi sekaligus ingin menghabisi nyawa bu Indah. Rasanya, tak ada lagi nurani antar sesama manusia yang tersisa. Amat menyeramkan hati manusia yang dipenuhi kebencian. Orang yang sebenarnya tidak bersalah pun bisa kehilangan nyawa. Tak menutup kemungkinan juga, nyawa Arif dan Abhi turut terancam.


Setelah berdiskusi panjang lebar dengan si dukun, bos rumah makan sebrang menyepakati seluruh persyaratan dan bersedia menanggung seluruh resikonya. Ia berniat mengirimkan santet atau teluh ke bu Indah agar ambruk, sakit untuk jangka waktu yang lama. Musabab bu Indah yang selama ini memasak di rumah makan maka harapannya, rumah makan itu tidak akan dapat berjualan jika bu Indah kurang sehat atau sakit untuk waktu yang lama. Bahkan, bisa tutup untuk selamanya jika kesehatan bu Indah terus memburuk di setiap harinya.


"Buat senatural mungkin mbah! perlahan saja, jangan langsung dibikin mati!" pinta si bos disusul senyum nan sinis.


"Baik, akan saya lakukan sesuai yang kamu inginkan," jawab si dukun membuat si bos tertawa lepas.


...🌟🌟🌟...


Keesokan harinya, rumah makan bu Indah buka seperti biasa. Rutinitas harian pun dilakukan. Bu Indah masih sibuk dengan bumbu-bumbu masakan. Masih belum ada tanda-tanda teluh merasuk ke tubuhnya. Namun, sekitar tengah hari ketika rumah makan ramai pembeli, tiba-tiba tubuh bu Indah gemetar. Hanya sebentar tapi cukup membuatnya terkejut juga. Belum habis keheranannya, tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Pandangannya taj lagi bisa fokus.


"Kenapa buk?" tanya suaminya.


"Pandangan ibuk berbayang."


"Loh.. kok bisa? duduk dulu buk! Rif sini! tolong lanjutin ngaduk kwetiaw nya!"


"Iya pak," jawab Arif.


Bu Indah dipapah suaminya untuk duduk di kursi dapur.


"Mau minum buk?"


Bu Indah menggelengkan kepalanya.


"Merem dulu saja buk! tutup mata kalau pusing!"


Bu Indah menurut.


"Ini ditambah bumbu apa lagi pak?" tanya Arif dengan hati-hati.

__ADS_1


"Sudah-sudah, tinggal tunggu matang saja itu, cicipi lalu sajikan!" sahut bu Indah dengan mata yang masih terpejam.


"Apa ibuk masuk angin kok tiba-tiba begini?"


Bu Indah hanya berdehem.


"Bapak buatkan teh hangat ya?"


"Iya."


"Sudah Rif! sudah matang itu. Kamu sajikan ya ke pembeli!" perintah suami bu Indah sembari mengambil gelas untuk menyeduh teh.


"Baik pak," jawab Arif.


...🌟🌟🌟...


Setelah meminum setengah gelas teh hangat, kondisi bu Indah sedikit membaik. Hanya saja, ia belum kuat untuk kembali memasak. Alhasil, suami bu Indah lah yang akhirnya mengambil alih pekerjaan itu. Beliau yang memasak dengan dipandu oleh istrinya. Sekitar pukul setengah tiga, kondisi rumah makan mulai lenggang. Suami bu Indah kembali memeriksa kondisi istrinya seraya menawarkan untuk mengajaknya ke dokter saat itu juga. Namun, bu Indah menolak.


"Kalau begitu, ibuk ingin dibelikan obat apa? bapak akan belikan!"


"Apa ya pak? rasanya lemas."


"Masing berkunang-kunang dan gemetar gak?"


"Sudah enggak."


"Kalau lemas sih memang biasanya diberikan minuman yang manis pak," sahut Abhi.


"Apa bu Indah mau teh manis hangat lagi bu?" imbuh Abhi.


"Boleh Bhi."

__ADS_1


"Makan sekalian ya buk? meski pun sedikit tetap harus makan!" bujuk Abhi lagi.


"Ita boleh, tolong ambilkan sedikit saja!"


"Baik bu," jawab Abhi seraya bergegas mengambilkan masakan dan juga membuatkan minuman.


...🌟🌟🌟...


Satu jam kemudian, kondisi bu Indah jauh lebih baik dan sudah dapat berdiri lagi. Bahkan, ia berniat untuk kembali memasak tapi dilarang oleh suaminya. Bu Indah diminta untuk memandu saja. Khawatir jika dipaksakan memasak akan ambruk kembali. Tak ada pilihan lain, bu Indah pun menyetujui. Hari itu pun dijalani hingga selesai. Meski sedikit terhambat tapi semua pekerjaan dapat diselesaikan.


...🌟🌟🌟...


Keesokan harinya, suami bu Indah mengabarkan kalau rumah makan akan tutup sehari. Tentu saja dikarenakan bu Indah yang sedang kurang sehat dan butuh istirahat. Arif dan Abhi senang-senang saja kalau diberikan libur. Namun, dalam sudut hati keduanya, merasa iba serta berdoa agar bu Indah lekas diberikan kesembuhan. Sementara itu, melihat rumah makan bu Indah tutup membuat bos rumah makan sebrang, tertawa puas.


"Ini baru permulaan, setelah ini akan semakin menarik," ucap si bos di dalam hati.


...🌟🌟🌟...


Keesokan harinya, rumah makan buka. Bu Indah pun memasak seperti biasa. Namun, lagi-lagi hal yang sama terulang. Mendekati tengah hari, tubuh bu Indah gemetar disertai mata yang berkunan-kunang. Segera ia duduk sembari meminta suaminya untuk mengambil alih pekerjaan. Bu Indah menutup matanya sembari memberikan arahan. Yang berbeda adalah, kali ini kondisinya tak kunjung membaik. Alhasil suaminya mengambil keputusan untuk menutup rumah makan lebih awal lalu mengajak bu Indah ke dokter terdekat. Sekitar pukul delapan malam, suami bu Indah mengabarkan kalau besok, rumah makan akan tutup sementara. Saat inilah Arif dan Abhi mulai gusar. Selain mengkhawatirkan kondisi bu Indah, Mereka juga berdiskusi. Mencari cara agar rumah makan tetap bisa buka.


"Apa tidak sebaiknya bu Indah mengajarkan cara memasak beserta seluruh bumbu kepada suaminya agar rumah makan tetap dapat berjualan meski pun bu Indah sedang pemulihan di rumah?" celetuk Arif.


"Sejujurnya, aku juga sempat mikir begitu tapi ini kan masih awal. Biarkan dulu bapak merawat bu Indah di rumah. Kondisi bu Indah juga belum bisa ditinggal sendirian. Kita lihat dulu saja! kalau memang berlangsung semakin lama, usulan itu bisa kita sampaikan. Yang jadi pertimbangan lagi, apa bapak gak tersinggung kalau kita menyampaikan usulan itu? seolah-olah kita tidak peduli dengan kesehatan bu Indah dan hanya terfokus pada pekerjaan kita saja."


"Hemm.. kalau itu sih tergantung gimana kita menyampaikannya Bhi. Lagi pula, ibu dan bapak tetap membayar gaji kita secara penuh sekali pun kerjaan tidak ada. Ingat kan kamu saat rumah makan ini diguna-guna? gak ada alasan buruk dari usulan kita. Bapak pasti memahami itu. Kita ini murni ingin memberikan solusi agar semuanya tetap berjalan dan bukannya mengharapkan rumah makan terus beroperasi agar kita tetap dapat uang karena nyatanya, saat sepi pelanggan pun, kita tetap dibayar."


"Hemm.. ya sudah, kita lihat dulu gimana ke depannya!"


"Iya," jawab Arif.


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...

__ADS_1


__ADS_2