ABHIYASA [ END ]

ABHIYASA [ END ]
PESUGIHAN POCONG


__ADS_3

Keesokan harinya, Abhi dan Arif menelpon bu Indah untuk memintanya berbelanja sedikit saja asal semua menu bisa disajikan karena mereka telah mendatangi ustad semalam. Besar harapan kalau hari ini akan ramai pembeli. Mendengar hal itu, bu Indah mengiyakan. Dua jam kemudian, bu Indah datang dan lekas menyiapkan beberapa menu yang biasa mereka jual. Benar saja, baru sepuluh menit rumah makan dibuka, pembeli pertama telah datang disusul dengan pembeli-pembeli yang lainnya. Musabab bahan masakan yang disiapkan gak begitu banyak, setengah hari saja, semua telah ludes tak bersisa. Rumah makan pun tutup lebih awal.


"Alhamdulillah! terima kasih ya Bhi, Arif juga terima kasih!" ucap bu Indah.


"Iya bu, kami hanya membantu sedikit. Kami yang harusnya berterima kasih karena masih ditampung untuk bekerja di sini," jawab Abhi.


"Kalian keluar uang berapa buat ke ustad? kebutuhan kalian ini banyak."


"Tidak apa-apa bu, sekali ini juga," jawab Abhi.


"Terima kasih sudah peduli tapi lain kali, tidak usah ya! kebutuhan kalian cukup banyak. Kamu juga Bhi, kamu harus kirim uang ke ibumu kan? saya sangat mengerti posisi kalian jadi tidak ingin membuat kalian lebih kesulitan. Masalah rumah makan ini, saya dan bapak sebenarnya sudah ada solusi. Ada teman yang menyarankan ke orang pintar. Kami sedang mempertimbangkannya, kalian jangan khawatir ya! sabar dulu! setelah kami siap, rumah makan ini pasti ramai lagi," jelas bu Indah.


Abhi dan Arif tidak banyak bertanya. Hanya menyimak lalu mengiyakan. Sementara pemilik rumah makan sebrang, hanya mengulas senyum sinisnya. Baginya, rumah makan bu Indah tidak akan lama bertahan. Nasibnya akan sama seperti sebelum-sebelumnya, ramai dalam beberapa hari lalu redup kembali.


"Bos, rumah makan depan ramai lagi tuh. Kirain bakal tutup seterusnya," celetuk salah satu pegawai rumah makan rival bu Indah.


"Dia sih bukan ancaman. Tunggu saja, lusa palingan udah sepi lagi. Tergantung moodku saja, kalau lagi enak, bolehlah ramai sampai seminggu dulu," jawab si bos disusul tawa cekakakan.


Begitu pun dengan beberapa pegawainya.


...🌟🌟🌟...


Abhi dan Arif sedang duduk santai di balkon lantai dua sembari menikmati mie instan. Ngobrol ngalor ngidul sembari sesekali mengucap syukur. Keduanya merasa sangat senang sebab usaha yang mereka lakukan, ada hasilnya. Meski mereka pun tahu, kalau rival bu Indah tidak akan tinggal diam.


"Kalau dikirim guna-guna lagi gimana Bhi? bisa sepi lagi kita."


"Wallohu a'lam Rif, gak tahu. Bu Indah juga sudah mewanti-wanti agar kita gak ke ustad lagi. Kita nurut saja dulu sama bu Indah. Bu Indah kan bilang kalau sedang mempertimbangkan untuk datang ke orang pintar sesuai yang temannya sarankan," jawab Abhi.


"Ya semoga saja semuanya dapat normal kembali. Kasihan sekali bu Indah, baik pula orangnya."


"Iya."


Abhi menyuapkan segumpal mie yang digulung ke dalam mulutnya seraya mengedarkan pandang ke sekeliling. Tanpa sengaja pula, ia melihat sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia lihat. Abhi sampai berhenti mengunyah demi menegaskan pandangannya. Bergeser dari posisi duduk semula untuk melihat lebih jelas.


"Kamu kenapa Bhi? ada apa? lihat apa?" cerca Arif.


"Apa aku salah lihat Rif?"


"Lihat apa?"


"Tuh, ada pocong tuh berdiri di samping kanan dan kiri rumah makan sebrang," jawab Abhi sembari tetap melihat ke titik yang sama.


"Mana sih?"


Arif yang penasaran lekas mendekat seraya melihat ke arah yang Abhi lihat.

__ADS_1


"Mana Bhi? aku gak lihat apa-apa."


"Masak kamu lihat? jelas banget ada dua di sana."


Arif kembali celingukan tapi tetap tak ada satu pun pocong yang dapat ia lihat. Saat itulah Arif sadar kalau Abhi memang memiliki kelebihan yang tidak dimilikinya.


"Kayaknya cuma kamu yang bisa lihat Bhi."


"Hemb..."


"Apa pocong itu penunggu rumah makan? sebelumnya kan memang hanya tanah kosong."


"Gak tahu ya Rif, bisa jadi begitu."


"Em.. atau.. jangan-jangan.. itu pesugihan mereka."


"Hah? pesugihan?"


"iya Bhi, sepertinya pocong itu pesugihannya dah. Coba kamu perhatikan Bhi. Wah berarti benar dugaan kita selama ini."


Abhi hanya sesekali memandang Arif lalu kembali mengalihkan pandangannya ke rumah makan sebrang.


"Coba kita lihat lebih dekat!"


"Lihat gimana? kita ke sana? ngapain?" sahut Abhi.


"Ah yang benar saja? ngawur! gak usah ikut campur! sudah lihat ada pocong di sana, malah gak mau aku ke sana," tolak Abhi.


"Lewat doang Bhi, pura-pura motor ada kendala gitu, habis bensin kek atau apa. Alasan aja biar bisa berhenti sebentar di dekat sana sambil kamu menelisik hati-hati. Terlanjur penasaran nih, aku yakin pocong itu pesugihannya."


Abhi terdiam sesaat sebelum kemudian melahap habis mie nya lalu segera bangkit, mengajak Arif bergegas.


"Oke!" seru Arif seraya mengikuti langkah Abhi.


Keduanya berdiskusi sesaat sebelum memulai acting mereka. Berpura-pura mogok di sebrang warung rival bu Indah. Arif lekas turun mengecek motornya. Sementara Abhi berdiri memperhatikan Arif sembari sesekali melihat rumah makan di sebrangnya. Setelah merasa cukup, Abhi memberi kode kepada Arif untuk mengakhiri acting mereka.


"Nah, sudah bisa Bhi, yok lanjut!" seru Arif.


Abhi mengangguk seraya lekas naik ke boncengan motor Arif.


"Gimana Bhi?" tanya Arif.


"Nanti saja pas turun, cari tempat enak buat nongkrong sebentar!" ucap Abhi.


"Oke," jawab Arif.

__ADS_1


...🌟🌟🌟...


Abhi menarik napas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya. Sementara Arif telah berada pada posisi serius menantikan cerita dari Abhi.


"Sepertinya kamu benar Rif, dua pocong itu adalah pesugihan."


"Tuh kan.. terus gimana? kamu lihat apa? ngapain mereka?"


"Yang aku lihat, dua pocong ini berjalan dari satu meja ke meja yang lain yg untuk.."


"Hais, untuk apa Bhi?"


"Aduh agak jijik Rif."


"Halah, lakik ngapain jijik sih? kayak perawan aja kamu."


"Em.. pocong-pocong itu netesin liurnya ke mangkok-mangkok pembeli."


Mendengar ucapan Abhi, Arif terdiam seketika. Mematung dalam posisinya sebelum kemudian muntah.


"Huuwekk.. huwekk.. Hwekk.."


"Rif.. Rif.."


"Gak apa-apa Bhi, aku.. huweekk..."


Arif muntah tanpa ada apa pun yang dimuntahkan.


"Mau minum Rif?"


"Enggak-enggak."


"Katanya lakik, ngapain jijik?" ledek Abhi disusul tawa kecil.


"Ya bukan gitu Bhi tapi kan kita sempat makan masakan dari sana pas Soni beli."


"Em.."


Gantian Abhi yang terdiam dan kemudian, Arif tertawa.


"Baru sadar kamu Bhi?"


Arif meledek ganti Abhi sembari tertawa terbahak-bahak.


"Wah iya lagi, kita pernah makan," desah Abhi.

__ADS_1


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2