![ABHIYASA [ END ]](https://asset.asean.biz.id/abhiyasa---end--.webp)
Keesokan harinya, Abhi dan Arif menceritakan perihal apa yang dilihat pada rumah makan sebrang kepada bu Indah dan juga suaminya. Bu Indah tampak tak terlalu terkejut sekaligus merasa semakin yakin kalau yang mengganggu usahanya adalah rumah makan sebrang juga. Merasa tidak ingin tersaingi dengan ramainya rumah makan milik bu Indah. Padahal rezeki sudah ada yang mengatur. Para penjual sayur di pasar berjajar dengan jualan serupa tapi tetap saja memperoleh hasil juga. Semua sudah ada takarannya.
"Ya sudah pak, kalau setelah ini mereka (rumah makan sebrang) kembali membuat ulah, kita berangkat ke orang pintar. Kita pagari rumah makan kita. Ibuk capek kalau begini terus. Capek badan, capek hati, capek pikiran," keluh bu Indah.
"Iya buk, bapak setuju saja," jawab suaminya.
Ternyata benar, ketenangan ini hanya berlangsung selama tiga hari. Di hari ke empat, rumah makan bu Indah kembali sepi. Mendadak sepi tanpa ada satu pun pembeli. Bu Indah hanya bisa menghela napas panjang lalu mengajak suaminya untuk pulang.
"Kita tutup dulu sampai ada info sari saya," ucap bu Indah kepada Arif dan Abhi.
"Baik bu," jawab Arif dan Abhi serentak.
Bu Indah dan suaminya pun beranjak pulang. Sementara Arif dan Abhi, kembali bergumul dengan kebosanan. Seharian penuh tak ada pembeli, sungguh membosankan. Biasanya sibuk, kini lontang-lantung tak ada pekerjaan.
"Ya ampun Bhi, parah ini!" keluh Arif.
"Iya Rif, tega sekali mereka."
...🌟🌟🌟...
Di tempat lain, bu Indah tampak sedang berkemas di kamar. Sementara suaminya, sibuk menelpon temannya yang tempo hari memberikan saran orang pintar untuk memagari usaha mereka.
"Gimana pak?" tanya bu Indah ketika suaminya mengakhiri sambungan teleponnya.
"Besok pagi jam 09.00 ketemu di rest area lalu berangkat bersama ke sana."
"Oh begitu, ya sudah. Ini sudah ibuk siapkan barang-barang yang harus kita bawa. Uangnya juga sudah siap dalam amplop ini."
Suami bu Indah memeriksa barang bawaan sebentar lalu mengangguk, isyarat semua telah lengkap.
"Apa tidak apa-apa kita begini pak?"
"Kita sudah mempertimbangkannya berulang kali. Keputusan pun sudah dibuat. Tidak perlu dibahas ulang. Mantapkan hati dan melangkah dengan yakin!"
__ADS_1
"Iya pak," jawab bu Indah seraya duduk di tepian ranjang.
...🌟🌟🌟...
"Bhi, kita jalan-jalan yuk besok!" ajak Arif.
"Ke mana?"
"Cewekku ngajak liburan ke air terjun. Kamu ikut ya!"
"Aku naik apa Rif? belum ada motor nih."
"Tenang, cewekku bawa temen. Kamu bisa naik motor temennya itu, boncengan."
Abhi sedikit ragu sebab sebenarnya, dia sama sekali belum pernah berboncengan dengan lawan jenis selain ibunya.
"Jangan kebanyakan mikir Bhi! mau kan?"
"Emm.. iya deh boleh."
"Iya."
...🌟🌟🌟...
Keesokan harinya, bu Indah dan suaminya berangkat ke rumah orang pintar sesuai arahan yang ditunjukkan teman mereka. Rumahnya cukup jauh hingga membutuhkan waktu sekitar empat jam perjalanan untuk sampai ke sana. Rumah si orang pintar terlihat biasa, jauh dari kesan menyeramkan. Seorang yang alim pun sepertinya juga tidak. Bu Indah dijamu dengan sangat baik di sana. Mereka membahas tentang keluhan bu Indah perihal usahanya. Bu Indah yang sudah penasaran pun turut menanyakan perihal siapa yang selama ini mengusik usaha rumah makannya dan di situlah ia mendapatkan jawaban.
"Mungkin ibu dan bapak sudah dapat menduganya. Orang yang mengirim guna-guna atau berusaha menutup usaha kalian ya pesaing kalian di sebrang rumah makan itu. Dia orangnya dan dia juga memakai pesugihan."
"Tuh kan benar," celetuk bu Indah.
"Sebetulnya, kalau mau bersaing dengan sehat kan bisa tapi namanya manusia, ada saja yang demikian. Kalian ini tidak bersalah. Kalian juga yang lebih dulu buka usaha di sana tapi malah diusik oleh mereka. Aneh memang tapi begitulah hati manusia. Lebih menyeramkan dari jin yang katanya, buruk rupa."
"Benar pak, karena itulah kami kemari. Saya ini sudah capek setiap kali bolak-balik ke orang pintar. Saya ingin usaha saya lancar seperti sedia kala. Saya tidak salah kok malah menderita," keluh bu Indah menumpahkan semua yang dirasakan.
__ADS_1
"Iya bu, pak.. seperti yang sekilas saya sampaikan, apakah bapak dan ibu telah memikirkannya matang-matang?"
"Sudah pak, kami sudah memikirkannya dan telah mantap memutuskan," jawab bu Indah.
"Baik kalau begitu, bisa kita lakukan ke proses selanjutnya."
"Iya pak."
...🌟🌟🌟...
Di tempat lain, Abhi terlihat gugup saat membonceng Intan, teman dari pacarnya Arif. Ini adalah kali pertamanya membonceng lawan jenis selain ibunya. Terlebih sebelumnya, ia hanya berinteraksi dengan sesama laki-laki di pesantren. Melihat hal ini, Arif tak henti-hentinya tertawa seraya melontarkan ledekan. Sementara Intan, tampak tertarik dengan kepribadian serta paras manis yang dimiliki Abhi.
"Gak biasa bonceng cewek ya?" tanya Intan kepada Abhi.
"Hemmm.. iya," jawab Abhi disusul tawa kecil.
Intan tak menyangka akan bertemu dengan laki-laki yang seperti Abhi. Kian kagum saya, ia dibuatnya hingga tanpa sadar, Intan senyum-senyum sendiri.
...🌟🌟🌟...
Di tempat lain, rumah makan rival bu Indah terlihat semakin ramai pembeli. Antrian mengular panjang hingga ke parkiran. Belum lagi yang makan di tempat. Pun sama seperti yang Abhi lihat. Dua pocong berkeliling melaksanakan tugasnya, menjatuhkan liur ke setiap mangkok pembeli. Entah bagaimana menjelaskan liur dapat menyedapkan masakan. Selain mangkok-mangkok pembeli, masakan yang dihidangkan di etalase pun tak luput dijatuhi liur juga. Si bos pemilik rumah makan tertawa senang kala melihat rumah makan bu Indah, kembali tutup.
"Berani-beraninya melawanku, mau ke berapa orang lintar pun, nasibmu itu tetap di tanganku," seloroh si bos dengan sombongnya.
...🌟🌟🌟...
Sementara itu, Abhi dan yang lain telah sampai di lokasi. Segera mereka memarkir motornya lalu bergegas menuju ke air terjun yang dituju. Udara segar dan pepohonan hijau terhampar sejauh mata memandang. Tak jauh berbeda dengan kampung halaman Abhi tapi kali ini, ada seorang gadis di sampingnya. Seorang gadis yang cukup berhasil membuatnya gugup, salah tingkah dan terbata-bata dalam berkata.
"Ayo Bhi, ajak ngobrol si Intan! jangan diam saja!" bisik Arif yang malah menambah parah kegugupan Abhi.
Wajah Abhi yang memerah membuat Arif merasa puas dan terus melontarkan ledekan padanya. Arif baru berhenti ketika Intan pasang badan, membela Abhi.
"Oke deh oke, aku diam," ucap Arif disusul tawa cekikikan.
__ADS_1
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...