![ABHIYASA [ END ]](https://asset.asean.biz.id/abhiyasa---end--.webp)
Keadaan damai pada bulan-bulan berikutnya hingga Arif dan Abhi melupakan rencana mereka untuk pindah dari sana. Pikir keduanya, selama bu Indah dan pak Rahmat tidak melakukan praktik-praktik yang menyimpang maka, tidak ada hal apa pun yang perlu dikhawatirkan. Namun, ketenangan ini mulai terusik ketika Arif dan Abhi mencurigai sesuatu. Memang tak begitu kentara jika tidak diperhatikan dengan seksama. Beberapa bulan ini, pak Rahmat dan bu Indah meminta para pegawai untuk memisahkan kantong kresek berisi sampah tulang belulang daging sapi maupun ayam dengan sampah yang lain. Katanya agar tidak tercampur dan dapat lebih mudah dipilah untuk dijadikan kompos di tempat pengolahan sampah. Para pegawai menurut saja sebab perkataan beliau sangat masuk akal. Baru beberapa hari ini saja, Abhi dan Arif melihat kalau kantong kresek berisi tulang diangkat pak Rahmat ke lantai tiga. Di lantai tersebut, hanya ada rooftop, tempat para pegawai mencuci pakaian dan menjemur pakaian. Abhi tahu kalau di sana terdapat satu ruangan yang selalu tertutup. Ruangan yang difungsikan sebagai gudang barang-barang bekas. Beberapa bulan sekali, barang bekas akan dikeluarkan untuk dijual pada orang yang bekerja dalam bidang jual beli barang bekas. Namun, beberapa bulan terkahir, ruangan itu terkunci rapat. Jendela kaca pun diberi penutup kertas tebal dari sisi dalam. Tak pernah ada penjualan barang bekas juga. Abhi sempat heran ke mana pak Rahmat membawa kantong tulang. Jika ke atas maka seharusnya ada di sana tapi ketika Abhi naik untuk melihat, tak ada apa-apa. Bukan hal yang penting tapi entah kenapa, tiba-tiba mengganggu pikiran. Setelah beberapa kali melihat pak Rahmat, barulah Abhi menduga kalau kantong-kantong kresek berisi tulang belulang itu dibawa masuk ke ruang penyimpanan barang bekas. Arif pun sama, memikirkan hal yang sama seperti yang Abhi pikirkan.
"Menurutmu kenapa Rif, bapak dan ibuk naruh tulang sapi di ruangan atas?" tanya Abhi di sela-sela obrolan mereka.
"Mungkin tukang loak biasanya nerima tulang belulang sapi juga kali," jawab Arif dengan entengnya.
"Ngawur kamu! mau dibikin apa sama dia?"
"Buat campuran kuah masakan Bhi."
"Sebanyak apa kuahnya? lagian, berdasarkan pengamatanku nih, itu tulang cuma masuk ke atas dan gak dikeluarin lagi. Masak iya sengaja disimpan di sana?"
"Emm... sebenarnya, aku juga merasa aneh. Sama kayak kamu ini tapi gak tahu juga kenapa bapak dan ibuk melakukan hal itu."
"Kebiasaan baru? agak menyimpang sih kalau ngumpulin tulang begini. Lagian, tulang kan makanan jin."
...Deg......
Arif terdiam dan seketika itu juga Abhi menyadari, apa yang dipikirkan oleh Arif.
"Rif, jangan-jangan..."
"Iya Bhi, bisa jadi iya," sahut Arif sebelum Abhi sempat menyelesaikan ucapannya.
"Bapak dan ibuk... ngasih makan jin?" tanya Abhi dengan nada berbisik.
"Gak tahu tapi bisa jadi iya."
"Kita harus cari tahu!"
__ADS_1
"Iya, kita amati diam-diam!"
Abhi mengangguk.
...🌟🌟🌟...
Selama beberapa hari berikutnya, Arif dan Abhi mengamati dan diputuskanlah untuk mencari tahu, ada apa saja di ruangan atas sekarang. Arif dan Abhi sepakat untuk memeriksa ruang atas selepas bu Indah dan pak Rahmat pulang. Arif mengangkat dagunya, memberikan isyarat kepada Abhi. Keduanya pun bergegas naik ke lantai tiga seraya berusaha membuka pintu ruangan barang bekas yang sekarang telah terkunci dari luar. Daun pintu dikoyak tapi tetap tidak dapat dibuka.
"Jangan dirusak Rif, nanti ibuk dan bapak curiga!" cegah Abhi.
"Jadi gimana sekarang?"
"Kita intip dari jendela!"
"Jendela juga ditutupin kertas dari dalam, gimana mau ngintip?"
"Kita bikin lubang sedikit saja di sana!"
Arif menyalakan obat nyamuk lalu melubangi kertas dibalik jendela. Namun, lubang sekecil itu dinilai masih kurang. Alhasil, Arif memperbesar ukurannya, sedikit lagi. Setelah itu, ia menyalakan senter untuk mengintip ke dalam.
"Bener Bhi, ada banyak kantong tulang di dalam," ucap Arif.
"Mana, aku mau lihat!"
Arif lantas mundur dan ganti Abhi yang mengintipnya sekarang. Di dalam ruangan barang bekas itu, hanya ada gundukan kantong tulang belulang. Ada banyak sekali hingga berserakan. Jika diamati lebih mendalam, bukan hanya tulang melainkan banyak darah juga yang menggenang di lantai hingga kering dengan sendirinya. Abhi menajamkan lagi penglihatannya hingga kemudian, ia melihat ada beberapa tulisan-tulisan di dinding. Tulisan yang sengaja ditulis menggunakan darah.
"Ada tulisan darah Rif di dinding."
"Mana? aku gak lihat tadi," tanya Arif seraya menarik pelan tubuh Abhi.
__ADS_1
"Oh iya Bhi, ada tulisannya tapi gak bisa dibaca loh."
"Itu aksara jawa dan tulisan arab gitu gak sih?'
"Em, kayaknya iya tapi karena darahnya netes-netes jadi susah dibacanya."
"Memangnya kamu bisa baca aksara jawa?"
"Enggak," jawab Arif sambil nyengir.
"Hais, minggir dulu, aku mau lihat lagi!"
Arif pun mundur, Abhi kembali mengamati setiap detil dalam ruangan itu hingga kemudian, pandangannya tiba-tiba terhalang oleh sesuatu. Begitu gelap dan pekat hingga tidak dapat ditembus oleh cahaya senternya.
"Kok gelap Rif? kenapa ini?"
"Di dalam emang gelap," jawab Arif yang belum mengerti, maksud Abhi.
"Ini..."
Abhi terbungkam dan terdiam kala kondisi yang tadi ia sangka petang semata ternyata adalah tubuh dari sesosok makhluk yang sangat menyeramkan. Sosok itu menundukkan wajahnya perlahan hingga berada tepat di depan mata Abhi. Abhi melihat sekilas wajah hancurnya yang kemudian muncul kobaran api di sekujur tubuhnya. Sosok itu menjadi samar di antara api yang berkobar. Abhi masih membeku, tak dapat bergerak maupun berteriak. Menyadari ada yang aneh pada Abhi, Arif lantas menepuk keras pundak Abhi lalu menariknya agar segera pergi. Barulah Abhi bisa berteriak. Keduanya pun berlari turun ke lantai dasar.
"Kalian dari mana? ngapain teriak-teriak?" tanya Yudi.
Arif dan Abhi yang ngos-ngosan hanya bisa memberikan isyarat agar teman-temannya memberikan waktu baginya untuk mengatur napas. Setelah tenang, semua pegawai duduk dan Abhi pun mulai bercerita. Mau tidak mau, Arif dan Abhi menceritakan segala seluk beluk yang pernah terjadi di tempat kerja mereka. Abhi sangat ketakutan dan mengatakan kalau sosok yang ia lihat adalah peliharaan bu Indah dan pak Rahmat.
"Kami yakin Bhi?" tanya Adi.
"Meskipun ucapanku tidak akan pernah bisa dibuktikan tapi aku yakin dengan yang aku katakan. Kalau sosok itu bukan peliharaan, kenapa ibuk dan bapak naruh tulang di sana? gak mungkin hanya kebetulan. Tulang yang dulu dibuang, sekarang dikumpulkan. Coba katakan! ada alasan masuk akal apa dari pengumpulan tulang di atas?"
__ADS_1
Semua orang menjadi diam dan sepakat dengan dugaan yang Abhi buat.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...