ABHIYASA [ END ]

ABHIYASA [ END ]
TERROR [ END ]


__ADS_3

Malam harinya, Abhi bermimpi buruk. Dalam mimpinya, sosok yang ia lihat di dalam gudang ( ruangan penyimpanan barang bekas di lantai tiga ) datang. Sosok yang awalnya berwujud lengkap, lama kelamaan samar dalam kobaran apa yang menyalak. Sosok itu mendekat ke arah Abhi hingga panasnya mulai terasa. Abhi berusaha untuk menghindar tapi tubuhnya tidak dapat ia gerakkan. Alhasil kulitnya pun terbakar. Sosok itu seolah mendekap kencang tubuh Abhi membuat Abhi sangat kesakitan. Kulitnya melepuh, nyaris terbakar seluruh tubuh dan kemudian, ia terbangun. Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar. Beberapa detik kemudian, Arif juga terbangun dalam kondisi yang sama seperti Abhi. Keduanya pun saling menanyai dan menceritakan perihal mimpi masing-masing. Yang mengejutkan adalah fakta kalau keduanya memimpikan hal yang sama.


"Kok bisa sama mimpi kita?" desah Abhi.


"Kalau seperti ini Bhi, masalah besar namanya. Sudah pasti ada sesuatu nih. Ibuk dan bapak pasti pakai pesugihan dan sosok di atas itu, peliharaan mereka."


"Lalu kita gimana Rif?"


"Udahlah gak usah banyak cing cing. Kita packing barang-barang terus pamit ke bapak dan ibuk nanti pagi!"


"Kita mau ke mana? belum dapat kerjaan baru juga."


"Balik kampung dulu lah kita atau kita keliling cari kosan. Setelah itu, kita cari-cari kerjaan lain!"


"Oke Rif."


"Bahaya ini Rif, nyawa kita taruhannya. Ini juga badanku masih bisa ngerasain panasnya padahal cuma mimpi loh."


"Iya Rif sama."


Arif dan Abhi mulai mengemasi barang-barang hingga tanpa terasa, adzan subuh berkumandang.


...🌟🌟🌟...

__ADS_1


Setelah bu Indah dan pak Rahmat tiba, Arif dan Abhi menghadap. Keduanya mengutarakan maksud untuk mengundurkan diri dari sana. Keduanya mengatakan kalau mereka diminta orang tua kembali dan bekerja di sana saja. Terlebih orang tua yang telah lanjut usia, agar lebih mudah merawatnya. Selain itu, keduanya juga mengucapkan banyak terima kasih atas semua kebaikan, kesempatan dan pengalaman yang telah diberikan. Meski sebenarnya bu Indah dan pak Rahmat merasa berat tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Keduanya mengizinkan dan meminta Arif dan Abhi membantu dulu di hari terakhir itu. Besok pagi, keduanya sudah diizinkan untuk pergi. Abhi memandang ke arah Arif seolah mengonfirmasi, keputusan apa yang akan mereka buat. Arif hanya bisa tersenyum sembari mengatakan kalau dia dan Abhi akan bekerja sampai jam dua siang. Setelah itu, mereka akan melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman. Pak Rahmat menghela napas dalam lalu mengangguk menyetujui. Kesepakatan telah dibuat yang tak ayah membuat Adi dan Yudi bertanya-tanya.


"Kenapa kok tiba-tiba keluar? mendadak sekali. Apa karena penampakan semalam?" cerca Adi.


"Iya nik, kenapa sih?" sahut Yudi.


Sementara Arif dan Abhi hanya bisa mengulas senyum seraya meminta kedua temannya yang lain untuk lanjut kerja.


...🌟🌟🌟...


Lepas jam dua siang, kondisi rumah makan sedikit lenggang. Saat itulah Arif dan Abhi berpamitan. Bu Indah memberikan gaji mereka seraya mengucapkan terima kasih. Saling meminta maaf dan mendoakan masing-masing. Datang baik-baik, pergi pun juga pamit secara baik. Setelah itu, Arif dan Abhi mulai melaju. Bukan untuk pulang ke kampung halaman melainkan mencari kosan.


Setelah berputar-putar selama dua jam, akhirnya mereka menemukan kosan yang tepat. Cocok di kantong dan strategis lokasinya. Hari itu juga mereka tempati. Setelah meletakkan ransel di dalam kosan, keduanya pergi membeli tikar, bantal, galon, kipas angin, gelas, piring dan sendok. Barang-barang yang memang harus dimiliki. Perihal makanannya, mereka sepakat untuk beli. Setidaknya, sementara begini, jika ke depannya ingin masak sendiri, akan mereka bicarakan lagi.


...🌟🌟🌟...


Satu minggu berikutnya, keduanya mendapatkan pekerjaan. Meski gaji tak sebanyak sebelumnya tapi batin merasa tentram. Sementara kedua temannya yang lain, Adi dan Yudi belum tahu kabarnya. Barulah pada dua bulan berikutnya, Arif iseng mengirimkan pesan kepada Yudi, menanyakan kabar rumah makan. Yudi bercerita kalau rumah makan semakin ramai dan dalam waktu dekat, bu Indah akan membuka cabang baru. Cabang baru akan dijalankan Della. Mengetahui hal itu, Arif kembali mengulik tentang sosok yang ada di gudang lantai tiga. Anehnya, Yudi maupun Adi tidak dapat melihat tulang belulang dan darah yang ada di sana. Dalam penglihatan mereka, ruangan itu telah bersih dan sangat rapi. Memang benar tidak digunakan untuk menyimpan barang bekas lagi tapi kondisinya sangat bersih. Arif dan Abhi menjadi bertanya-tanya.


"Kok bisa gitu ya Rif? jelas-jelas tulang belulang menumpuk di sana."


"Ya pasti sudah dibungkam sama bu Indah Bhi. Dikasih air dukun biar nurut dan ya.. terlena atau semacamnya lah. Apapun itu biarkan saja!"


"Iya Rif Alhamdulillah kita sudah lepas. Hanya menyayangkan saja karena ibuk dan bapak sebelumnya kan taat beragama, sekarang malah salah jalan."

__ADS_1


"Itulah tugas jin di bumi, kalau gak menggoda manusia, mereka kerja apa?"


"Gak gitu juga konsepnya Rif."


"Lah gimana hahaha."


Begitulah akhirnya, Arif dan Abhi meniti karier baru mereka dengan tenang. Pun sama dengan bu Indah dan bisnisnya yang kian berkembang. Perihal perjanjian ghaib yang bu Indah lakukan, bukan urusan manusia untuk menghakimi. Arif dan Abhi hanya bisa berdoa di dalam hati. Semoga bu Indah beserta keluarganya bertaubat sebelum nyawa diambil.


...🌟 TAMAT 🌟...


🌟 Alhamdulillah, sudah kelar novel Horror ke 13 saya ini.


🌟 Terima kasih banyak untuk para pembaca dan segenap management NT.


Tak dapat saya pungkiri, saya cukup mendapatkan benefit di sini selama ini.


🌟 Perihal regulasi yang diberlakukan per tanggal 19 Juni 2023, saya tetap menaruh harapan semoga akan ada regulasi baru lagi di kemudian hari yang bisa membuat penulis tersenyum kembali.


🌟 Terima Kasih atas segala dukungan selama ini dan mohon maaf apabila ada perkataan dan perilaku saya yang kurang berkenan.


🌟 Tetap semangat dan Berkarya.


🌟 Salam Hangat dari Penulis *Siyuk Sie*

__ADS_1


__ADS_2