![ABHIYASA [ END ]](https://asset.asean.biz.id/abhiyasa---end--.webp)
Hari berikutnya, sekitar pukul lima pagi, Abhi bergegas menuju terminal. Berbekal Uang secukupnya dan juga restu dari ibunya. Ia mantap untuk mengadu nasib ke luar kota. Di bis, Abhi memilih untuk tidur sebab, perjalanan yang ia tempuh, lumayan jauh. Membutuhkan waktu empat hingga lima jam perjalanan untuk sampai ke tujuan. Musabab badan yang bisa dibilang lelah, Abhi dapat dengan cepat terlelap. Beberapa saat kemudian, Abhi terbangun. Namun, Ketika Abhi sedikit bingung karena langit di luar, terlihat temaram. Seperti telah memasuki waktu senja. Demi memastikannya, Abhi lantas meraih ponselnya dan anehnya adalah jaringan dalam ponselnya, hilang. Pun sama dengan tampilan jam yang tertera pada layar handphone, turut menghilang juga.
"Wah rusak apa gimana ya handphoneku? masya Alloh, duit belum ada juga kalau harus service sekarang," desah Abhi sembari mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Dalam keadaan heran, Abhi berpikir. Rasanya tidak mungkin kalau sekarang telah memasuki waktu senja. Jelas-jelas ia berangkat pagi. Saat tidur pun hanya terasa sebentar. Kalau pun lama, tetap tidak akan sampai sore hari. Perjalanan ke kota tujuan pun hanya butuh empat sampai lima jam yang mana artinya, siang hari, ia pasti telah sampai di lokasi. Sementara pemandangan saat ini, sudah temaram menanti petang untuk datang.
"Aneh sekali," gumam Abhi sekali lagi.
Abhi lantas celingukan, melihat ke depan, ke samping dan juga ke belakang. Penumpang dalam bis tidak padat. Bahkan, ada banyak ruang yang rumpang. Untuk sejenak Abhi menduga kalau sebagian penumpang telah turun lebih dulu. Namun, dugaan itu segera ia patahkan ketika ia kembali mengamati satu persatu wajah penumpang.
"Loh, rasanya tidak asing. Mereka adalah penumpang yang sama ketika aku, pertama kali naik."
...Deg.....
Abhi kembali terheran-heran sebab setahunya, bis akan berulang kali berhenti untuk mengambil penumpang sebanyak-banyaknya. Kecuali bis patas atau bis cepat dengan tarif yang lebih malah ketimbang bis kelas ekonomi biasa. Meski ragu, otaknya masih belum menemukan sesuatu uang membuatnya begitu gelisah kecuali pergantian waktu yang menurut Abhi, tidak masuk akal. Oleh sebab itu, Abhi memutuskan untuk bertanya ke salah satu penumpang, yang duduk di belakang kursinya tepat.
"Permisi pak!" sapa Abhi.
Penumpang itu pun menoleh tanpa menyahuti sapaan dari Abhi.
__ADS_1
"Maaf pak mau tanya, ini sampai di mana ya? dan sekarang jam berapa? handphone saya rusak jadi tidak bisa lihat jam," jelas Abhi.
Sayangnya, penumpang itu bersikap sangat dingin. Seolah tidak senang pada Abhi yang sedang bertanya. Penumpang itu hanya menjawab kalau dirinya tidak tahu dan meminta Abhi untuk duduk tenang sampai tiba di tujuan..Mendapati respon yang di luar dugaan, Abhi hanya bisa mengangguk seraya mengucapkan terima kasih. Setelah itu, ia kembali duduk dengan lebih banyak tanda tanya dalam benaknya.
"Apa-apa an ini? ya Alloh, di mana ya? apa bis ini tersesat? tidak mungkin sampai sore begini, masih belum sampai ke lokasi. Penumpang belakang juga tidak ramah. Aku harus tanya ke siapa lagi ya?" ucap Abhi di dalam hati.
Abhi lantas mengedarkan pandang ke sekeliling. Melirik penumpang lain yang mungkin, akan lebih bersahabat saat ia tanyai nanti. Akhirnya, Abhi maju ke dua kursi di depannya seraya menyapa seorang ibu-ibu di sebrang kursinya. Ibu-ibu itu hanya menatap Abhi tanpa membalas anggukan kepala yang Abhi lakukan. Tak ingin berpikiran negatif, Abhi lanjut bertanya tentang sampai di mana, mereka sekarang. Ibu itu pun menjawab yang mana dari jawaban itu, diketahui kalau tak lama lagi, Abhi akan sampai di kota tujuan. Setelah itu, Abhi mengucapkan terima kasih lalu kembali duduk ke kursinya yang semula. Meski si ibu bereaksi datar tapi setidaknya, ia bersedia untuk menjawab pertanyaan. Abhi merasa sedikit lega dan mulai memeriksa barang-barangnya agar ketika turun, tidak ada yang tertinggal.
...🌟🌟🌟...
Entah kenapa, tiba-tiba Abhi merasa sangat tidak nyaman. Abhi sendiri sampai kebingungan. Selain karena langit yang temaram, batinnya bergejolak tidak tenang. Dalam kebingungan tersebut, ia meraih al-quran kecil dari dalam tasnya lalu mulai melantunkannya sebab selama ini, membaca al-quran selalu berhasil menenangkan hati di kala gusar dan keanehan berikutnya pun terjadi.
Bus yang Abhi tumpangi, berhenti mendadak. Kepala Abhi sampai terbentur sandaran kursi di depannya.
"Astaghfirulloh!" pekiknya.
Seorang laki-laki yang juga merupakan kondektur bis, berjalan menghampiri Abhi. Abhi diam menantikan apa yang hendak kondektur katakan.
"Kamu.. turun!" perintah kondektur itu tanpa Abhi tahu penyebabnya.
__ADS_1
"Turun pak? apa ini sudah sampai? seperti-nya.. be-lum."
"Kamu.. turun!" perintah kondektur itu lagi.
"Maaf pak! saya bingung. Kenapa saya disuruh turun padahal belum sampai? ohya, saya juga belum bayar pak. Saya harus bayar berapa?"
"Turun!!!"
Kali ini, si kondektur mengatakannya dengan nada nan lantang. Di matanya terlihat jelas raut marah yang seolah ia tahan. Melihat hal itu, Abhi lekas meraih ranselnya lalu berdiri dari tempat duduknya. Ia lantas mengangguk lalu sekali lagi, meminta maaf. Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih sebab telah diantarkan sampai sejauh ini. Namun, baik sopir maupun si kondektur, sama sekali tak bergeming. Abhi melangkah sembari memandangi para penumpang yang lain. Dingin, itulah gambaran yang paling tepat untuk menjelaskan kondisi dari para penumpang yang lain. Keributan yang baru saja terjadi pun seolah mereka tak peduli. Menoleh ke arah Abhi pun, tidak. Setelah Abhi turun, bus kembali melaju. Abhi cukup tercengang sebab yang diturunkan, hanya dia. Penumpang lain tetap melanjutkan perjalanan dengan bus yang sama.
"Ya Alloh, aku salah apa sih? apa aku menyinggung kondektur tadi? apa? apa yang aku lakukan? dan yang lebih parah dari itu, aku tidak tahu sedang ada di mana sekarang. Kok hutan semua di kiri kanan. Semacam tak ada kehidupan saja."
Tak ada pilihan lain selain coba berjalan.
"Bus tadi ke arah sana. Aku jalan ke sana juga deh, harusnya itu jalur yang benar kan? ya Alloh, semoga cepat ketemu bus lain biar gak lama-lama jalannya!"
Abhi memulai langkah pertamanya yang segera disusul langkah kedua, ke tiga, ke empat dan seterusnya.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...
__ADS_1