ABHIYASA [ END ]

ABHIYASA [ END ]
KEMENANGAN TELAK


__ADS_3

Pulang dari warung kopi, Arif dan Abhi kembali membahas tentang si bos rumah makan sebrang yang ternyata masih sakit hingga sekarang. Mereka paham betul kalau hal ini adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Namun, pak Rahmat juga turut andil dalam hal ini. Abhi merasa kalau si bos pasti telah menyesal. Baginya, masih patut si bos diberikan kesempatan.


"Apa tidak sebaiknya pak Rahmat menyudahi teluh kirimannya ya? dengan sakitnya si bos rumah makan sebrang pasti telah membuktikan kalau pak Rahmat tidak bisa diremehkan. Harusnya dia akan berpikir ribuan kali untuk melanjutkan pertarungan. Harapannya dia memilih untuk hidup tenang dan memulai usaha tanpa melakukan kecurangan. Apalagi bertindak untuk mencelakai orang lain," ucap Abhi.


"Itu bayanganmu dan harapanmu Bhi. Apa yang akan dia lakukan umpama diberi kesempatan, belum tentu seperti yang kamu ucapkan tadi," jawab Arif.


"Hemm.. iya juga sih."


"Sudahlah! jangan ikut campur masalah ini! fokus kerja dan cari kesempatan yang pas untuk keluar!"


"Kita melamar di tempat lain saja dulu Rif! kalau sudah dapat, baru kita keluar. Namanya juga sudah dapat pekerjaan, masak iya ditahan? alasannya juga sudah pas kan?" saran Abhi.


"Ya sudah, kira lakukan sesuai saranmu dulu!"


"Iya Rif."


Begitulah akhirnya, Arif dan Abhi sepakat untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Perihal bagaimana cara izinnya ke bu Indah akan mereka pikirkan nanti.


...🌟🌟🌟...


Beberapa hari berikutnya, Rumah makan tutup lebih awal, membuat Arif dan Abhi dapat nongkrong di warung kopi langganan. Kali ini, mereka turut mengajak Adi dan juga Yudi. Sialnya, hari itu warung kopi terlihat sepi. Hanya ada satu dua orang yang datang dan pergi. Arif menyapa si pemilik warung sembari bertanya perihal sepinya pelanggan hari ini.


"Pada takziah, tuh di rumah itu!" jawab si pemilik warung sembari mengangkat dagu, menunjukkan rumah si bos rumah makan sebrang.


"Innalillahi wa inna illaihirojiun! siapa yang meninggal?" tanya Abhi.


"Ya si bos rumah makan, yang meninggal. Yang sakit lebih dari sebulan. Kapan hari kita omongin juga di sini," jawab si pemilik warung, memperjelas.


Arif dan Abhi saling melempar pandang penuh arti.


"Bro, sorry ya! saya juga mau takziah dulu! besok mampir sini lagi ya!" ucap si pemilik warung, mengatakan kalau ia akan tutup lebih awal.


"Oke bro oke, silakan! kami balik dulu ya!" ucap Arif seraya berjalan ke motor dan bersiap untuk kembali.

__ADS_1


Malam itu, Arif, Abhi, Adi dan Yudi memutuskan untuk kembali ke mess dan tidak pergi ke mana-mana lagi. Bermain ponsel serta game dari ponsel masing-masing. Sementara Arif dan Abhi, membicarakan perihal kematian si bos pemilik rumah makan sebrang tadi. Tanpa menyebut nama agar kedua rekan kerjanya yang lain tidak mengetahuinya.


"Gila ini Bhi, bapak ( pak Rahmat ) menang telak. Sekalinya membalas sampai... ma-ti," ucap Arif penuh penekanan.


"Benar-benar dibikin mati," imbuh Arif dengan nada yang pelan.


"Iya Rif, mungkin gak sih kalau si bos murni meninggal karena sakit medis?"


"Gak mungkin lah Bhi. Kamu tahu sendiri apa yang dilakukan bapak. Sudah begini, mana bisa otak diajak mikir positif lagi? itu faktanya. Meski pun mereka yang mulai tapi saat tahu kalau dia mati.. rasanya kok ngeri. Bapak tega bunuh orang Bhi. Meski pun pembunuhan itu tidak akan pernah bisa dibuktikan dan dihakimi."


"Iya Rif," jawab Abhi sembari menghela napas dalam-dalam.


...🌟🌟🌟...


Entah kenapa Arif dan Abhi merasa kian jauh dengan bu Indah dan juga pak Rahmat. Padahal, keduanya terbilang pegawai senior yang cukup akrab dengan majikan. Gaji keduanya pun dinaikkan, lebih tinggi dari Adi dan Yudi. Penjualan rumah makan meningkat drastis. Bisa dikatakan dua kali lipat dari sebelumnya. Empat pegawai sampai kewalahan. Bu Indah mempertimbangkan untuk merekrut dua pegawai lagi. Hal ini turut disampaikan ke seluruh pegawainya agar mengajak teman-teman mereka untuk bekerja di sana. Bukannya senang, Arif dan Abhi malah gusar. Untuk pertama kali, Abhi memiliki pemikiran yang sama dengan Arif. Keduanya menduga kalau bu Indah melakukan pesugihan, sama seperti yang dilakukan si bos rumah makan sebrang yang telah meninggal.


"Kok tumben kamu mikir gini Bhi?" tanya Arif.


"Karena... gimana ya... lonjakan pembeli ini sulit diterima nalar. Wajar sih kalau bisnis mengalami peningkatan tapi ini... aku bingung jelasinnya, Rif" jawab Abhi.


"Apa Rif?"


"Aku takut aja sih Bhi kalau kematian si bos rumah makan sebrang karena ditumbalin bu Indah dan pak Rahmat."


"Hussstt! jangan sembarangan bicara!"


"Takutnya Bhi, takut aja karena kan setelah dia meninggal, rumah makan langsung ramai begini. Bisa saja karena dia mengirimi teluh kepada keluarga pak Rahmat akhirnya pak Rahmat minta teluh dibalikin sekaligus pelakunya dijadikan tumbal sekalian."


"Bisa banget cocokologimu Rif."


"Lah gak percaya, semua bisa jadi mungkin."


"Beneran bisa begitu?"

__ADS_1


"Namanya juga perjanjian dengan jin. Si onoh juga pakai jin buat mencelakai bu Indah kan? tipu muslihat jin sih ada saja. Coba kalau kamu mau diikutin jin Hanif waktu itu, pasti sekarang jadi banyak tahu kamu hahaha."


"Sialan! kamu aja sana kalau mau."


"Kamu bisa panggil dia Bhi?"


"Ngawur! jangan bicara melantur!"


Arif tertawa terbahak-bahak.


"Eh iya Bhi, kalau bu Indah pakai pesugihan, harusnya kamu bisa lihat kan? pas di rumah makam sebrang, kamu lihat pocong dan sosok tambun itu. Di sini, kamu lihat apa?" tanya Arif lagi.


"Di sini..?"


Abhi mengedarkan pandang ke segala arah tapi tak mendapati apa-apa.


"Gak ada ya?"


"Gak ada Rif."


"Masak sih gak ada? penunggu gedung juga gak lihat kamu?"


"Gak ada."


"Masak sih Bhi? bukannya di setiap bangunan pasti ada penunggunya? masak iya kamu gak lihat sama sekali?"


"Mereka gak mau nunjukin diri kali."


"Wah, kurang sakti ilmumu," ledek Arif yang lekas mengundang gelak tawa keduanya.


...🌟🌟🌟...


Seolah membantah dugaan Arif dan Abhi. Tiba-tiba pak Rahmat berhenti melakukan ritual menyiram kembang setaman yang direndam di dalam air. Entah karena pesaing liciknya yang telah tiada atau memang mulai tidak mempercayai. Sengaja mengabaikan, toh sekarang, rumah makannya jauh lebih ramai dari sebelumnya. Tidak perlu lagi melakukan ritual yang merepotkan. Dapat fokus membantu istrinya menyiapkan bahan-bahan dan memasak. Untuk sesaat Arif dan Abhi merasa lega. Keduanya menduga kalau majikan mereka telah kembali seperti dulu lagi. Menjalankan bisnis yang baik. Tak ada ritual yang terlihat menyimpang. Arif dan Abhi mengucap syukur di dalam hati.

__ADS_1


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2