![ABHIYASA [ END ]](https://asset.asean.biz.id/abhiyasa---end--.webp)
Hari berikutnya, rumah makan dibuka tapi hingga siang menjelang, belum ada satu pun pembeli yang datang. Sementara rumah makan di sebrang, telah berdesak-desakan. Abhi beserta para pegawai yang lain hanya bisa pasrah sekaligus kasihan melihat raut lesu bu Indah. Rasanya jadi tidak tega untuk menerima gaji di saat rumah makan begitu sepi.
Tak lama kemudian, terlihat seorang bapak-bapak yang menuntun sepeda motornya dari kejauhan. Tampaknya, motornya mogok atau mungkin, kehabisan bensin. Ketika si bapak telah mendekat, Abhi memintanya berhenti seraya memberikan segelas air putih dingin. Keduanya pun bercakap-cakap perihal apa yang terjadi pada sepeda motor si bapak.
"Mogok ini mas, bensinnya sih masih full," jelas si bapak.
"Bengkel terdekat di mana Rif?" tanya Abhi sedikit mengeraskan suaranya.
"Hah? bengkel? di.. sana tuh ada setelah belokan," jawab Arif seraya menghampiri Abhi.
"Saya bantu dorong saja pak motornya," tambah Arif menawarkan bantuan.
"Iya terima kasih," ucap si bapak sembari memandangi rumah makan di depannya.
"Oh.. ada rumah makan toh di sini," gumam si bapak.
"Iya pak, kami semua pegawai di sini," jawab Abhi.
"Oh.. iya-iya, saya kira tutup. Kayaknya kemarin dan kemarin lusa, juga tutup ya warungnya?"
Abhi memandang Arif sesaat lalu menjawab:
"Kita buka terus kok pak."
"Em, mungkin saya saja yang kurang memperhatikan."
Abhi manggut-manggut sedangkan Arif telah menangkap sesuatu yang aneh dari kesaksian si bapak. Setelah dirasa cukup beristirahat, Arif lantas meminta izin bu Indah untuk mengantar si bapak ke bengkel sebentar, bu Indah mengizinkan.
...🌟🌟🌟...
"Bhi, jangan-jangan bener kata si bapak tadi," celetuk Arif.
"Benar apanya Rif?"
"Kayaknya ada yang macem-macem ke rumah makan ini. Si bapak bilang kalau tiga hari terlihat tutup rumah makan ini. Siapa tahu semua orang juga melihatnya begitu."
__ADS_1
"Wah, ketularan si Soni kamu. Hati-hati Rif! takutnya fitnah. Belum lagi kalau kedengaran bu Indah, tambah kepikiran nanti, kasihan."
"Duh Bhi.. Bhi.. kamu tuh sudah gak di pondok lagi. Aura di luar tuh banyak negatifnya. Jangan terlalu polos untuk hidup di dunia sekeras ini!"
Abhi mendengus.
"Kasihan juga kalau begini terus. Aku harus ngomong ke bu Indah biar bu Indah bisa cari orang pintar buat buka guna-gunanya."
Abhi hanya diam, sementara Arif beralih ke Didin dan Soni untuk berdiskusi dengan keduanya. Setelah mencapai kesepakatan, Arif mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan unek-unek di hatinya. Ada kekhawatiran juga kalau bu Indah menolak mentah pendapatnya. Namun ternyata, bu Indah beserta suaminya sangat berlapang dada. Mereka berinisiatif untuk meminta beberapa temannya lewat di depan rumah makan, sebagai bukti apakah rumah makannya terlihat tutup atau buka. Hal yang mengejutkan pun terungkap. Ternyata benar, dari semua orang yang diminta lewat, semuanya mengatakan kalau rumah makan bu Indah sedang tutup. Dari situ bu Indah hanya bisa terduduk lemas dengan bulir-bulir air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.
"Sudah bu, jangan terlalu sedih! sabar! kurang ajar memang tapi ya sudah, kesehatan lebih penting. Kalau ibu seperti ini, takutnya malah jatuh sakit," ucap suami bu Indah.
"Pak, saya usul saja. Apa bapak dan ibu ada kenalan orang pintar? gak perlu balik nyerang, cukup untuk membuka guna-gunanya saja supaya rumah makan ini bisa ramai, normal seperti sebelumnya," ucap Arif.
"Siapa ya? em, nanti deh saya cari tahu. Kalian tutup saja dulu. Besok sama lusa libur. Saya pamit pulang, ibu kurang sehat."
"Iya pak."
Bu Indah beserta suaminya pun pulang ke rumah. Sementara para pegawai hanya bisa mematuhi perintah.
"Ayo masak cap cai sendiri buat makan siang!" ajak Soni yang mana lekas disetujui oleh semuanya.
...🌟🌟🌟...
Dua hari kemudian, bu Indah datang dengan membawa belanjaan. Sementara suaminya tengah sibuk membaca sesuatu seraya menyiramkan air ke sekitar rumah makan.
"Kita buka lagi bu?" tanya Didin.
"Iya Din, insha Alloh lancar," jawab bu Indah.
"Itu, air dari orang pintar ya bu?"
"Iya."
"Alhamdulillah!"
__ADS_1
"Sudah cepat, siapkan bahan-bahan!"
"Siap bu."
Suasana Rumah Makan pun kembali sibuk. Semua bahan disiapkan dan bu Indah juga sibuk memasak. Tak lama kemudian, pembeli pertama datang, disusul pembeli ke dua, ke tiga dan seterusnya. Tak sedikit dari pelanggan yang menanyakan perihal tutupnya rumah makan bu Indah yang hanya bisa dijawab senyuman oleh bu Indah. Hanya kepada pelanggan tetapnya saja, bu Indah bersedia untuk bercerita.
"Ya Alloh tega bener, siapa bu pelakunya?" tanya si pelanggan.
"Gak tahu bu, gak dikasih tahu tapi yang penting, sekarang sudah kembali normal."
"Apa yang di sebrang sana pelakunya? kurang ajar banget kalau iya. Iya sih namanya usaha pasti ada pesaing tapi kok ya keterlaluan," keluh si pelanggan.
"Saya benar-benar tidak tahu siapa pelakunya. Mohon doanya saja agar usaha saya selalu lancar dan dijauhkan dari hal-hal semacam itu!"
"Iya bu aamiin!"
Seiring dengan kembali ramainya rumah makan bu Indah, rumah makan sebrang pun mulai menurun pembelinya. Terlihat juga beberapa pegawai rumah makan rival yang mengamati rumah makan milik bu Indah. Meski begitu, bu Indah dan para pegawai tidak terlalu menghiraukan. Yang terpenting, sekarang telah kembali normal seperti sebelumnya.
...🌟🌟🌟...
Satu minggu berselang dengan kondisi pembeli yang ramai sungguh melegakan. Bu Indah sangat bersyukur, begitu pun dengan para pegawainya. Setidaknya, mata pencaharian banyak orang masih aman. Urusan perut dan segala kebutuhan, tetap dapat terpenuhi dengan lancar.
"Sudah habis bu, daging, ayam, dan udang," ucap Didin.
"Ya sudah, tunggu dua orang itu selesai makan lalu tutup rumah makannya!" titah bu Indah.
"Siap bu."
"Alhamdulillah ya Alloh, terima kasih!" seru bu Indah.
...🌟🌟🌟...
Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Semua menu masakan terjual dan rumah makan, bisa tutup lebih awal. Arif yang mulai punya teman dekat, lekas mandi dan kemudian pergi menemui calon kekasihnya. Ya, masih calon yang sudah diyakini betul akan berhasil Arif dapatkan. Teman-temannya hanya bisa meledek Arif yang berdandan sangat klimis.
"Pergi dulu ya! assalamualaikum!" ucap Arif.
__ADS_1
"Waalaikumsalam!" jawab yang lain.
... 🌟 BERSAMBUNG 🌟 ...