![ABHIYASA [ END ]](https://asset.asean.biz.id/abhiyasa---end--.webp)
Di kelas, apa yang menimpa Abhi dan teman-temannya menjadi perbincangan hangat. Yang paling syok di antara semuanya, tentu saja Abhi. Dia yang melihat dan bahkan sempat berkomunikasi. Setelah dipikir kembali, Abhi baru menyadari kalau Tirta sudah mengikuti dirinya sejak hari pertama pertemuan mereka. Tirta juga mengikuti Abhi hingga ke asram di pondok pesantrennya. Ternyata, yang dikatakan jin Hanif melalui mimpinya adalah benar. Jika memang seperti itu maka, jin Tirta ini telah berusia ratusan tahun.
...Deg......
...🌟🌟🌟...
Sepulang sekolah, Arif kembali membahas tentang jin Tirta dan menceritakannya kepada Achmad. Achmad menanggapinya dengan antusias. Keduanya pun sepakat kalau Abhi memanglah peka terhadap hal-hal demikian. Buktinya, sudah dua kali ini ia mengalami hal ghaib yang tidak dialami oleh santri yang lain.
"Memang benar, kita hidup berdampingan dengan makhluk ghaib tapi, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat sosok mereka," ucap Achmad.
"Iya betul dan kamu Bhi, kamu ini peka. Kalau bahasa kerennya sih semacam indigo ya?" timpal Arif.
"Tapi aku gak mau kayak begini. Rasanya sulit membedakan antara manusia dan juga jin karena wujud mereka seperti manusia pada umumnya," jawab Abhi.
"Anggap sebagai berkah! lama-lama akan terbiasa," timpal Arif.
"Memangnya kamu mau kalau aku bagi berkah ini?"
Arif lekas nyengir sembari menggelengkan kepala, mendengar pertanyaan Abhi.
"Huh dasar!"
Arif cekikikan.
__ADS_1
...🌟🌟🌟...
Di pondok, Abhi sempat berpapasan dengan pak kyai dan kemudian, pak Kyai mengajaknya berbincang. Beliau menanyakan perihal kabar Abhi akhir-akhir ini?
"Alhamdulillah pak kyai, lancar," jawab Abhi dengan sangat sopan.
"Alhamdulillah, apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?"
Abhi lantas memandang sesaat ke arah pak kyai lalu kembali menunduk.
"Ada apa? coba katakan!" ucap pak kyai, lagi.
Seolah sudah tahu tentang apa yang dialami Abhi. Akhirnya, Abhi pun mulai bercerita. Ia menceritakan tentang sosok jin yang mengaku bernama Tirta. Jin muda yang berusia ratusan tahun menurut penuturan jin Hanif yang datang ke dalam mimpinya. Pak kyai mendengar dengan seksama hingga Abhi menyelesaikan ceritanya. Setelah itu, beliau tersenyum sembari sesekali melirik ke sebuah sudut di belakang Abhi berdiri.
"Jadi begitu ceritanya, pantas saja kok saya melihat sosok yang asing di sini," ujar pak kyai yang lekas membuat Abhi membulat.
"Saya sudah melihat sosok jin Tirta yang kamu ceritakan. Seperti yang pernah saya katakan ke kamu. Kamu ini mudah sekali menarik sosok-sosok ghaib untuk mengikutimu. Itulah kenapa saya selalu menekankan agar kamu selalu menolak setiap kali ada sosok yang hendak ikut denganmu. Sosok jin Tirta ini pun sama. Sama seperti jin Hanif yang ingin ikut denganmu. Jin Hanif sudah langsung kamu tolak karena kamu sudah tahu identitas aslinya. Sementara jin Tirta ini kan kamu belum tahu kalau sebenarnya dia adalah jin. Awalnya, kamu menganggapnya sebagai teman sekolahmu kan?"
"Iya pak kyai, perwujudannya seperti manusia, saya sulit membedakannya. Kakinya juga menapak ke tanah, saya tidak tahu kalau ternyata, dia bukan manusia," jelas Abhi.
"Iya-iya, tidak apa-apa. Semua butuh proses, lambat laun, kamu akan bisa membedakannya."
"Iya pak kyai, lalu untuk sekarang bagaimana ya?"
__ADS_1
"Ini.. cukup tekankan dalam hatimu saja kalau kamu menolak untuk diikuti. Tidak masalah, meski di dalam hati, dia bisa mendengar. Selebihnya, biar saya yang urus!"
Abhi mengangguk lalu berucap di dalam hati sesuai yang diperintahkan pak kyai. Setelah itu, pak kyai mempersilakan Abhi untuk pergi. Namun, sebelum itu, pak kyai kembali mengingatkan kalau Abhi, akan semakin sering melihat hal-hal dari alam lain.
"Jangan takut! pokoknya imanmu tetap kuat. Jangan goyah dan jangan pernah menerima bangsa mereka untuk ikut denganmu!"
"Baik pak kyai, akan saya laksanakan sesuai yang pak kyai perintahkan."
"Ya sudah, kamu bisa bergabung dengan teman-temanmu sekarang!"
"Iya pak kyai, terima kasih!"
Abhi pun salim lalu diam sebentar, menunggu pak kyai berjalan pergi. Barulah setelah itu, ia menuju kelas, bergabung dengan teman-temannya yang lain.
...🌟🌟🌟...
Seperti yang telah dikatakan pak kyai, Abhi semakin sering melihat penampakan-penampakan ghaib. Mulai dari seklebatan, penampakan dalam wujud manusia yang tiba-tiba menghilang hingga penampakan wujud jin yang menyerupai setan-setan yang populer di kalangan manusia seperti pocong atau pun kuntilanak. Meski demikian, Abhi sudah tidak terlalu memikirkan. Mungkin, perlahan mulai terbiasa. Mencoba membiasakan diri kalau memang begini keadaannya. Ia merupakan salah satu orang yang diberikan Alloh kelebihan. Ia harus menerima dan berusaha membiasakan diri agar tidak menyusahkan dirinya sendiri. Instingnya pun mulai peka, meski penampakan muncul dalam wujud manusia, Abhi mulai bisa mendeteksinya. Mulai bisa membedakan secara pelan-pelan.
Hari demi hari, ia lalui hingga tanpa terasa telah sampai di hari kelulusan. Masa SMA nya telah usai bersamaan dengan berakhirnya proses nyantri di pesantren. Abhi beserta teman-temannya pun harus berpisah. Melanjutkan pendidikan atau pun tidak Yang jelas, semua santri melanjutkan kehidupan masing-masing. Abhi sendiri tengah menanti berita tetang usahanya untuk menembus bea siswa ke perguruan tinggi. Sama dengan sebagian teman-temannya yang lain.
Sayangnya, takdir seolah memiliki rencana lain. Ayah Abhi jatuh sakit dan tak lama setelahnya, Alloh memanggil. Abhi beserta adiknya yang masih duduk di bangku kelas dua SMP, lekas kehilangan sosok ayah. Ibunya menjadi janda yang kian mempersulit ekonomi keluarga mereka. Keadaan inilah yang akhirnya membuat Abhi mengubur keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan. Abhi memilih untuk mengambil peran ayahnya, menjadi tulang punggung keluarga. Meski rencana ini sempat ditentang sang ibu. Namun, Abhi menjelaskannya dengan hati-hati. Ibunya pun hanya bisa meminta maaf karena keadaan orang tuanya yang serba terbatas yang akhirnya membuat Abhi mengubur mimpi dan kian terperosok dalam kehidupan nan keras. Abhi mengulas senyum sembari menenangkan ibunya. Menghibur ibunya agar tak terlalu merasa bersalah.
...🌟🌟🌟...
__ADS_1
Selepas tahlil tujuh hari kematian ayahnya, Abhi mulai mencari-cari pekerjaan. Apa pun ia kerjakan asalkan halal. Mulai dari pekerjaan serabutan hingga menjadi karyawan di sebuah toko sembako. Hal ini ia kerjakan selama kurang lebih tiga bulan hingga kemudian, ia mendapatkan tawaran dari salah seorang teman untuk menjadi karyawan rumah makan di luar kota. Gajinya dua kali lipat ketimbang sekarang. Selain itu, mess dan makan sudah disediakan. Sepintas terdengar begitu menjanjikan. Segera Abhi menyampaikan hal itu kepada ibunya. Ibunya hanya bisa mengantarkan kepergian Abhi dengan doa agar putra berbaktinya itu selalu dilindungi dan dipermudah segala urusannya.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...