![ABHIYASA [ END ]](https://asset.asean.biz.id/abhiyasa---end--.webp)
"Hancurkan dia sehancur-hancurnya! bikin ambruk dan juga bangkrut!" pinta pak Rahmat ketika si orang pintar hendak memulai ritual.
"Baik," jawab si orang pintar.
Kemarahan pak Rahmat tak lagi dapat ia redam. Baginya, seluruh sakit yang dirasakan anak dan istrinya harus dibalaskan. Sudah cukup baginya bersabar dan sudah cukup untuk mengalah. Memberikan waktu agar sadar tapi malah kian menjadi di setiap harinya. Kini, tiada lagi kata maaf, semua harus dibalas.
...🌟🌟🌟...
Di rumah sakit, Abhi dan Arif dikejutkan oleh bercak-bercak merah yang tiba-tiba muncul di tubuh Della. Jika itu berupa bintik, mereka akan menduga kalau Della menderita demam berdarah tapi ini bukan bintik, lebih terlihat seperti bercak yang kian membesar.
"Mungkin mbak Della alergi," celetuk Abhi.
"Bisa jadi Bhi, alergi bisa dari makanan atau mungkin.. obat. Bisa jadi mbak Della alergi obat sekarang," sahut Arif.
"Kita sampaikan ke suster dulu!"
"Iya."
Usai diperiksa dan ditanyai beberapa hal, suster mengatakan kalau hal ini akan dilaporkan terlebih dahulu kepada dokter. Perihal tindakan apa yang akan di ambil, menunggu instruksi dari dokter juga.
"Baik sus," jawab Arif dan Abhi besamaan.
...🌟🌟🌟...
Sekitar pukul delapan malam, pak Rahmat kembali ke rumah sakit. Arif, Abhi dan anak sulung pak Rahmat menceritakan perihal bercak-bercak merah yang muncul di tubuh Della. Bercak yang kini perlahan mengeluarkan aroma tidak sedap. Pak Rahmat memandangi putri bungsunya yang tengah tergolek lemah lalu menanyakan kabar istrinya.
"Bagaimana dengan ibuk?" tanya pak Rahmat.
"Ibuk masih sama pak. Hanya tidur seharian sama beberapa kali mendengkur. Ngorok tapi.. ngoroknya itu nyeremin pak. Kayak ketahan nafasnya, kami sempat panik tadi," jelas anak sulungnya.
"Lalu bagaimana?"
"Lalu.. itu terjadi hanya beberapa detik. Mungkin gak sampai satu menit. Setelah itu, ibuk kembali normal lagi."
"Hemm..."
"Bagaimana hasil bapak ke orang pintar? bagaimana katanya? apa benar seperti dugaan bapak?" cerca putrinya.
"Benar, ibu dan adikmu benar dikirimi teluh. Mereka disantet sama orang gila, rumah makan sebrang!" jawab pak Rahmat dengan mata memerah.
__ADS_1
"Wah, masalah besar ini," benak Arif.
"Astagfirulloh pak! lalu gimana nasib ibuk dan Della?"
"Bapak sudah meminta agar mereka disembuhkan dan untuk manusia laknat itu, bapak minta agar santet dikembalikan!"
...Wwuuussshhhhh......
Suasana mendadak hening, baik Arif, Abhi maupun anak sulung pak Rahmat tahu kalau ini bukanlah hal yang akan berujung baik. Peperangan telah dimulai dan nyawa yang sedang dipertaruhkan. Tak ingin terlihat lebih jauh, Arif menyela meminta izin untuk kembali ke mess terlebih dahulu. Pak Rahmat mengizinkan seraya mengucapkan terima kasih.
"Baik pak, kami pamit dulu! assalamualaikum!" ucap Arif dan Abhi.
"Waalaikumsalam," jawab pak Rahmat dan putri sulungnya.
...🌟🌟🌟...
Di sepanjang jalan menuju parkiran, Arif dan Abhi memasang raut yang tegang. Mereka menyadari kalau masalah besar telah ada di depan mata. Kembali berbincang tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan. Jika keluar kerja sekarang akan terlihat sangat mencurigakan tapi untuk bertahan, jauh lebih membahayakan. Pertarungan teluh semacam ini, tidak menutup kemungkinan turut menyeret orang lain juga. Dalam hal ini, posisi Arif dan Abhi, tidak dapat dikatakan aman.
"Lalu bagaimana Rif?" tanya Abhi.
"Cari momen yang pas dulu Bhi! jangan sekarang pokoknya. Masalah kapan waktu yang tepat, aku juga belum bisa menjawab," jawab Arif.
...🌟🌟🌟...
"Sepertinya pak Rahmat menang," celetuk Arif sembari menatap nanar ke arah Abhi.
"Iya Rif alhamdulillah."
"Ini bisa permanent dan bisa juga sementara."
"Iya aku paham lalu kapan sebaiknya kita keluar?"
"Itu... bagaimana ya? apa kita tunggu rumah makan buka dulu kurang lebih sebulan lalu cari alasan untuk keluar? jangan mendadak pokoknya!" jawab Arif memberi saran.
"Apa tidak terlalu lama? terlepas dari santet itu bisa mengenai kita atau tidak, tetap saja sebaiknya kita tidak terlibat."
"Benar Bhi, untuk itu pertimbangkan sambil jalan! Perlu kita lihat juga gimana rumah makan sebrang. Maksudku, perkembangannya gimana? masih terus bersaing atau sudah mulai sadar atau apalah pokoknya kita lihat dulu keadaan ke depan!"
Abhi manggut-manggut.
__ADS_1
...🌟🌟🌟...
Beberapa hari kemudian, Della dan bu Indah telah sembuh total. Minggu berikutnya, rumah makan kembali dibuka. Para pembeli kembali berdatangan. Rumah makan ramai seperti sebelumnya. Berbanding terbalik dengan rumah makan sebrang yang masih tutup dan tak ada tanda-tanda akan buka dalam waktu dekat. Bahkan setelah lebih dari sebulan, rumah makan sebrang belum buka. Arif dan Abhi saling melempar pandang, penuh makna.
...🌟🌟🌟...
Suatu malam Arif mengajak Abhi nongkrong di sebuah warung kopi. Lokasinya tak seberapa jauh dari rumah makan bu Indah. Pelanggannya pun mayoritas warga setempat. Sudah beberapa kali keduanya ngopi di sana. Cukup kenal juga dengan pemiliknya.
"Bro, lama gak kelihatan," sapa si pemilik warung kepada Arif dan Abhi.
"Iya, maklum pemuda pekerja keras lagi sibuk mengembangkan kekayaan si bos," canda Arif membuat si pemilik warung tertawa.
"Gorengan anget bro, baru kelar masak."
"Siap!" jawab Arif seraya duduk di salah satu bangku yang kosong.
Hal biasa yang mereka lakukan. Menikmati kopi dan gorengan sembari berbincang. Perbincangan ringan yang mengantarkan pada suasana akrab. Perlahan saling mengenal dan menjadi teman setongkrongan. Mengobrol panjang lebar tanpa memandang latar belakang. Asap-asap rokok mengebul dan mengudara tersapu angin malam. Sesekali badan bergidik menahan dingin yang mulai tidak ramah hingga sesuatu yang sama sekali tak pernah terpikirkan, didengar Arif dan Abhi melalui warga sekitar.
"Gimana pak?" tanya Arif coba memperjelas.
"Itu loh si bos rumah makan, sudah lama sakit. Kabarnya karena disantet seseorang."
"Rumah makan mana pak?" tanya Arif lagi.
"Rumah makan di depannya rumah makan bu Indah."
...Deg.....
"Oh.. yang punya itu rumahnya situ ya pak?" tanya Arif dengan ekspresi senormal mungkin.
"Iya, pendatang juga sih dia. Baru nempatin rumah itu terus ya.. buka usaha rumah makan. Berapa bulan ramenya tiba-tiba sakit gak sembuh-sembuh. Apalagi coba kalau bukan diguna-guna? sempat ada orang yang membenarkan hal itu juga."
"Orang pintar pak?"
"Semacam itulah, ada orang sini juga yang punya sedikit kelebihan dalam hal itu. Katanya memang benar diguna-guna tapi, dia gak bisa nyembuhin," jelas warga itu lagi.
Sementara Arif dan Abhi hanya bisa menelan ludah sembari mengunyah gorengan di mulutnya.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...
__ADS_1