![ABHIYASA [ END ]](https://asset.asean.biz.id/abhiyasa---end--.webp)
Dua hari berikutnya, bu Indah datang dengan membawa banyak sekali belanjaan. Seperti dulu sebelum rumah makan mendadak sepi pembeli. Sementara suaminya melakukan sesuatu seperti yang telah diperintahkan oleh orang pintar. Abhi dan Arif segera disibukkan dengan bahan-bahan yang harus disiapkan. Jam sepuluh tepat, rumah makan dibuka dan tak butuh waktu lama, pembeli pertama tiba. Disusul pembeli-pembeli berikutnya. Suasana rumah makan pun kembali ramai seperti sedia kala. Melihat hal ini, bos rumah makan sebrang hanya tersenyum sinis, meremehkan.
Jam istirahat makan siang adalah puncak kesibukan. Arif dan Abhi mondar-mandir menyiapkan bahan dan juga mengantar makanan. Membereskan piring kotor dan juga menyajikan minuman. Rasanya sangat melelahkan tapi keduanya merasa sangat bersyukur juga. Keadaan ini jauh lebih baik dari pada memakan gaji buta tanpa melakukan apa-apa. Barulah sekitar pukul setengah tiga siang, keadaan sedikit lenggang. Arif dan Abhi dapat beristirahat.
"Kalian berdua makan dulu! dari tadi belum sempat makan," pinta bu Indah.
"Iya bu," jawab Arif dan Abhi bersamaan.
...🌟🌟🌟...
"Alhamdulillah bu, rumah makan kembali ramai lagi," celetuk Abhi setelah menyelesaikan makannya.
"Iya Bhi alhamdulillah," jawab bu Indah.
"Semoga kali ini gak akan bisa diguna-guna lagi ya bu!" sahut Arif.
"Gak akan bisa kali ini Rif," sahut suami bu Indah.
"Kemarin, kami minta amalan ke orang pintar, gimana caranya agar pertahanan kami bisa kuat? memang harus dikerjakan setiap hari, sebelum rumah makan dibuka dan setelah rumah makan ditutup. Sedikit repot memang tapi kan tidak perlu bolak-balik ke orang pintar. Yakin kali ini akan kuat. Mereka gak akan bisa menembusnya," imbuh suami bu Indah.
Arif dan Abhi manggut-manggut. Sementara itu, bos rumah makan sebrang masih menganggap remeh usaha bu Indah dan suaminya. Benaknya, beberapa hari lagi, ia akan membuat rumah makan itu kembali sepi. Berulang kali ia menyunggingkan senyum sini kala menatap ke arah rumah makan bu Indah.
...🌟🌟🌟...
Jam sibuk kedua setelah waktu makan siang adalah usai adzan maghrib berkumandang. Arif dan Abhi kembali sibuk dengan banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Namun, mereka mengerjakannya dengan hati nan riang hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam, toko pun ditutup. Rolling door ditarik separuh agar tak ada lagi pembeli yang masuk. Arif dan Abhi membersihkan semuanya, mencuci seluruh peralatan masak dan makan juga. Sementara suami bu Indah, melaksanakan amalan sesuai arahan dari orang pintar. Setelah itu, bu Indah dan suaminya pamit pulang. Seperti biasanya, Arif dan Abhi membersihkan diri sebelum kemudian beristirahat.
"Heemmm... enak banget," pekik Arif sembari menggemeretakkan punggungnya.
"Ikut senang rasanya, rumah makan bisa balik ramai lagi," ucap Abhi.
"Kita tunggu saja, tindakan apa yang bakal diambil rumah makan sebrang!"
__ADS_1
"Apa pun itu, semoga tidak berhasil mencelakai tempat kerja kita lagi!"
"Iya tapi Bhi, kalau rumah makan balik ramai seperti dulu, bisa kewalahan kita. Bu Indah harus merekrut pegawai lagi!"
"Masalah itu pasti bu Indah ngerti sendiri. Tanpa kita minta pun kalau memang semakin ramai, pasti akan cari pegawai lagi."
"Iya Bhi. Eh, si duo pocong masih bertugas?" tanya Arif dengan ekspresi mengejek.
Abhi terkekeh seraya memandang ke arah rumah makan sebrang.
"Gak kelihatan dari sini, harusnya sih masih kerja mereka," jawab Abhi sembari meledek.
Keduanya pun terkekeh bersama.
...🌟🌟🌟...
Hari-hari berikutnya, rumah makan bu Indah tetap ramai dan kian ramai di setiap harinya. Sudah dua hari lamanya, rumah makan tutup lebih awal karena semua menu makanan telah habis terjual. Hal ini membuat bos rumah makan sebrang kelabakan. Segera ia melakukan ritual-ritual untuk membuat rumah makan bu Indah sepi pelanggan. Sayangnya, hal itu tidak berhasil. Untuk pertama kalinya mengalami kegagalan dan membuat si bos terheran-heran.
"Kok bisa gagal ya? tumben-tumbenan begini. Sepertinya, dia cari dukun yang lebih kuat dari yang biasanya," gumam si bos dengan kesal.
"Rif, Bhi.. kalau ada teman kalian yang cari kerja, coba ditawarin kerja di sini ya! butuh tambahan tenaga kerja lagi sekarang," ucap bu Indah.
"Baik bu, nanti coba saya infokan ke beberapa teman," jawab Arif.
"Sepertinya, pelanggan semakin banyak ya bu? lebih banyak dari kondisi awal yang dulu," sahut Abhi.
"Iya Bhi, saya juga ngerasa begitu. Pembeli meningkat, saya sedang mempertimbangkan untuk menambah bahan masakan agar tetap bisa tutup jam sembilan malam."
"Coba ditunggu beberapa hari lagi saja bu! kalau memang konsisten sebanyak ini, tidak apa-apa ditambah sedikit lagi bahan masakannya!"
"Iya Bhi, begitu juga boleh. Nanti, kalau dalam sebulan pendapatan meningkat pesat, kalian berdua akan saya berikan bonus sepantasnya. Kalian juga cukup setia kerja dengan saya."
__ADS_1
"Wah, terima kasih sekali bu!" ucap Arif.
"Iya bu, kami sangat berterima kasih. Justru kami yang sangat bersyukur karena bu Indah tetap bersedia menampung kami di saat rumah makan dalam keadaan sulit. Gaji kami juga tetap dibayar penuh. Kami sangat berterima kasih bu," timpal Abhi.
"Sama-sama Bhi, Rif. Kita ini sama-sama saling membutuhkan. Bantu doa ya semoga rumah makan ini tetap dapat menjadi mata pencaharian kita. Segala kebutuhan kita dapat tercukupi dari hasil rumah makan ini."
"Iya bu Aamiin, itu adalah doa kami juga," ucap Abhi.
"Ya sudah, bapak sudah selesai. Kami pamit pulang dulu ya!"
"Iya bu hati-hati."
Bu Indah beserta suaminya pun bertolak pulang.
...🌟🌟🌟...
"Bhi, aku manggil tukang pijet, bentar lagi datang. Kamu mau pijet sekalian atau enggak?" tanya Arif kepada Abhi.
"Kami kenal tukang pijet dari mana Rif? kayaknya serba tahu kamu ini."
"Loh, jangan meremehkan, aku ini google versi mini," jawab Arif disusul cekikikan.
"Em, boleh deh, aku pijet sekalian."
"Oke."
Beberapa menit kemudian, datangnya seorang bapak-bapak, usia sekitar empat puluh tahunan. Arif membukakan rolling door lalu mengajaknya ke lantai dua.
"Pak, setelah mijit saya, gantian mijit teman saya ini ya!"
"Iya mas Arif, boleh."
__ADS_1
Arif mengangguk lalu menelungkupkan tubuhnya dan si bapak pun mulai mengoleskan minyak. Sementara Abhi, memainkan sosial media miliknya sembari menunggu giliran.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...