ABHIYASA [ END ]

ABHIYASA [ END ]
BEKAS MAYIT


__ADS_3

Keesokan harinya adalah hari pertama Abhi bekerja. Untuk urusan belanja, sudah dihandle si pemilik rumah makan yaitu bu Indah dan suaminya. Sekitar pukul tujuh pagi, pemilik rumah makan sudah datang membawa semua belanjaan. Segera setelah itu, para pegawai mempersiapkan bahan-bahan. Mulai dari memotong sayuran, bumbu-bumbu, daging dan yang lainnya. Abhi membaur begitu saja, membantu bagian mana pun yang butuh bantuan. Sudah seperti para ibu-ibu yang membantu acara hajatan tetangga.


Sebelum toko dibuka, lebih dulu meja dilap dan lantai dipel. Khusus untuk mengepel dan membersihkan kamar mandi, ada jadwal tugasnya. Jam sepuluh pagi tepat, toko telah buka meski belum semua menu siap untuk disajikan. Pembeli juga belum seberapa. Barulah saat jam makan siang tiba, para pembeli membludak. Jam-jam krusialnya adalah saat makan siang dan juga selepas adzan maghrib berkumandang. Hari pertama Abhi bekerja, cukup melelahkan. Namun, ia tetap antusias menjalaninya.


...🌟🌟🌟...


Setelah tutup di malam hari, meja kursi dilap, dirapikan dan semua bejana dicuci hingga bersih. Lantai sekedar disapu dan untuk mengepel, dilakukan di pagi harinya. Setelah semua rentetan pekerjaan selesai dikerjakan, satu persatu pegawai mandi lalu bersantai di lantai dua yang juga merupakan mess untuk mereka. Mereka akan mengobrol sembari bersenda gurau sebelum kemudian, tidur dengan sendirinya. Begitu pun dengan Abhi. Ia masih belum dibelikan kasur sehingga harus tidur di atas dipan bambu yang keras.


Sebenarnya, tidur tanpa kasur bukanlah masalah hanya saja, ia kembali mengalami mimpi buruk dan melihat penampakan wanita tua yang sama ketika tidur di atas dipan itu. Berawal dari didatangi di mimpi lalu lanjut muncul di hadapan Abhi. Untuk kedua kalinya ia terjingkat tapi tak bisa mengatakan apa-apa. Sosok wanita tua itu menyeringai, memasang wajah nan tajam seolah marah kepadanya. Abhi hanya bisa turun perlahan seraya menjauh dari sosok itu. Setelah Abhi turun, wanita tua itu kembali naik ke atas dipan lalu merebahkan diri di sana. Saat itulah Abhi menyadari kalau dipan itu adalah tempat bersemayamnya sosok tersebut. Abhi kembali beringsut ke ranjang single milih Arif dan keduanya kembali berdesak-desakan hingga pagi menjelang.


...🌟🌟🌟...


Keesokan harinya, Abhi menceritakan terror yang ia alami kepada Arif dan juga rekan-rekannya yang lain dimana semuanya menyimpulkan hal yang sama yakin sosok wanita tua memanglah penghuni dari dipan yang Abhi tempati. Seketika semua mata memandang ke arah dipan yang tengah dibicarakan.


"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Abhi.


"Ceritakan saja ke bu Indah dan minta izin untuk memindahkan dipan ini keluar ruko rumah makan. Biar di luar sajalah! serem juga kalau di sini terus-terusan," ucap Arif.


"Kalau pun tidak ditaruh luar juga tidak apa-apa asalkan tidak di mess kita saja," sahut pegawai lain yang bernama Didin.


Rekan-rekan yang lain mengiyakan dan Abhi pun sepakat dengan saran yang diberikan. Alhasil Abhi memberanikan diri untuk menceritakan pengalaman mistisnya kepada bu Indah dan juga suaminya. Beruntung, keduanya menyambut baik keluhan Abhi dan segera memerintahkan pegawainya untuk menurunkan dipan di lantai dua ke teras rumah makan. Namun, masalah belum selesai sampai di sana. Malam harinya, Abhi kembali bermimpi didatangi sosok yang sama. Kali ini, bukan sekedar memasang wajah marah saja melainkan betul-betul melontarkan makian.

__ADS_1


"Bocah lancang! berani-beraninya kamu pindah tempatku tinggal. Sudah mengusik ketenanganku, sekarang lancang memindahkan tempat tinggalku!" bentak sosok wanita tua yang lekas membangunkan Abhi dari tidurnya.


"Astagfirullohal adzim!" ucap Abhi di dalam hati.


Sekarang, Abhi mulai bingung. Mimpi itu seolah peringatan untuknya. Sepertinya, sosok wanita tua tidak terima kalau dipannya dikeluarkan. Abhi pun tidak ingin tidur di dipan itu lagi. Sekedar bersebelahan dengan dipan itu saja, ia enggan.


"Gimana ya? masak iya dinaikin ke sini lagi? wah, gak bakalan bisa tenang tidurku nanti. Jelas-jelas dipannya ada yang nempatin. Kalau aku tidur disebelahnya, pasti horror sekali. Duh, gimana ya enaknya? mana sudah minta izin bu Indah untuk diturunin ke depan. Masak mau minta dimasukin lagi sih?"


Abhi sangat bingung, ia hanya bisa memandangi satu persatu teman-teman kerjanya yang sedang tidur dengan nyenyak.


"Sudahlah! apa kata besok saja! sekarang, aku mau tidur dulu!"


Abhi pun kembali merebahkan dirinya di ranjang sembari mulai membaca surat-surat pendek termasuk juga, ayat kursi sebelum kemudian, dilanjutkan dengan membaca dzikir hingga terlelap.


...🌟🌟🌟...


"Sewaktu nenek saya meninggal, jenazahnya diletakkan di atas dipan itu. Setelah itu, dipan yang tadinya ada di rumah, dipindahkan ke rumah makan ini. Niatnya sih untuk meletakkan barang-barang saja tapi akhirnya mangkrak di lantai dua," jelas bu Indah.


"Oh, pantas saja bu. Kalau menurut kepercayaan di kampung saya, dipan bekas mayit akan segera dihancurkan lalu dibuang. Dibuang atau dibakar pokoknya dimusnahkan bu. Takutnya ya kayak begitu itu bu," jawab Abhi.


"Begitu ya? saya tidak tahu kalau bakal begini jadinya. Dulu sempat beberapa kali, saya pakai untuk meletakkan sayuran tapi karena di dapur semakin sempit, akhirnya saya naikkan ke lantai dua. Selama ini pun tidak pernah terjadi hal-hal yang tidak wajar."

__ADS_1


"Emm, jadi bagaimana ya bu enaknya?"


"Dibakar saja deh seperti yang kamu bilang."


"Apa boleh bu? kan sosok itu marah-marah pas dipan dipindah ke depan. Bagaimana jadinya kalau dibakar?"


"Iya ya Bhi, gimana ya pak?" tanya bu Indah kepada suaminya.


"Gini saja bu, dimasukkan ke sini, untuk meletakkan apa gitu di lantai satu saja!" usul suaminya.


"Ya sudah begitu saja. Kamu angkat ke sini ya Bhi! ajak yang lain buat bantu ya!"


"Baik bu, saya masukkan lagi!"


"Iya Bhi."


Setelah menata dipan sesuai arahan dari suami bu Indah, semua pegawai kembali bekerja. Menyiapkan segala sesuatunya sembari bu Indah yang memasak menu yang akan dijual. Hari itu pun berlanjut dengan rutinitas yang sama.


...🌟🌟🌟...


Malam harinya ketika hendak beristirahat, Abhi kembali teringat akan mimpi buruk yang menghampirinya selama dua hari terkahir ini. Jujur, ada rasa khawatir kalau mimpi itu akan terulang kembali. Banyak sudah yang ia bayangkan. Mulai dari sosok yang sama datang ke dalam mimpi hingga kemydian menemui dirinya dalam alam yang nyata. Entah marah-marah atau sekedar menatap tajam padanya. Namun ternyata, Abhi yang terlalu banyak berpikir sebab ternyata, malam itu adalah malam yang tenang dan sama sekali tak ada mimpi buruk yang hinggap. Abhi dapat tidur nyenyak hingga pagi menjelang.

__ADS_1


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2