![ABHIYASA [ END ]](https://asset.asean.biz.id/abhiyasa---end--.webp)
Abhi bersama dengan yang lain menikmati indahnya alam nan asri. Deburan air terjun menghantam bebatuan tanpa ampun. Hamparan pepohonan nan rindang, menyegarkan mata kala memandang. Tak ingin menyiakan kesempatan, Abhi dan yang lainnya mengambil potret bersama sebagai kenangan mereka. Bermain air dan tertawa. Sejenak melupakan segala penat yang ada dan lambat laun, Abhi dapat mengendalikan rasa gugupnya. Sesekali berani mengajak Intan berbincang lalu tertawa bersama. Menertawakan kekonyolan yang tanpa sengaja dilakukan hingga perlahan menjadi akrab dengan sendirinya.
Puas bermain air dan mengabadikan momen, mereka berempat beranjak dari lokasi lalu mampir ke sebuah warung yang ada di tepi aliran sungai. Memesan teh hangat dengan beberapa gorengan yang baru diangkat dari penggorengan. Lezat betul, satu persatu gorengan memulai perjalanan panjangnya mulai dari mulut hingga ke lambung. Tak lama setelahnya, masuk seorang kakek bersama istrinya. Dari tampilan keduanya, seperti warga asli di sana. Keduanya mengendarai motor yang usianya, telah sepuh juga.
"Kopi hitam 1 sama teh panas 1 ya!" ucap perempuan yang sepertinya adalah istri dari si kakek tadi.
"Iya," jawab si pemilik warung.
Tak butuh waktu lama, segelas kopi hitam dan segelas teh panas telah disajikan. Si kakek melinting rokok tembakau lalu menyulutkan api untuk kemudian mulai dihisap. Kepul-kepul asap mengudara. Tidak ada yang aneh atas pemandangan itu kecuali gelagat si kakek yang terlihat jelas tengah memperhatikan Arif dan juga Abhi. Tentu saja hal ini membuat keduanya sedikit risih hingga Arif mengajak pergi untuk melanjutkan perjalanan ke parkiran.
"Oke, ayo!" seru Abhi yang lekas ditahan oleh kakek tadi.
"Mau ke mana kamu Le (Nak)?" tanya si kakek.
Abhi terdiam sesaat sebelum kemudian memberikan jawaban.
"Saya kek? kami.. kami mau balik ke parkiran habis dari atas, ke air terjun tadi," jawab Abhi.
"Kenapa terburu-buru?"
"Emm.. tidak terburu-buru kok kek, kami sudah sejak tadi di sini," jawab Abhi lagi.
"Memangnya mau ngapain lagi setelah ini?"
Melihat Abhi yang kebingungan, Arif menyahuti.
"Kami izin kerja setengah hari, sore ini harus balik untuk kerja lagi," timpal Arif.
Si kakek menghisap rokoknya lalu mengembuskan asap-asap ke udara.
"Benarkah? bukannya rumah makan tempat kalian bekerja sedang libur sekarang?
...Deg......
Arif dan Abhi terhenyak sebab si kakek mengetahuinya.
"Ngeri nih kakek, kenal juga enggak tapi kok bisa tahu?" gumam Arif di dalam hati.
"Emm.. iya kek tapi kami tetap harus kembali. Perjalanan yang kami tempuh juga lumayan jauh," jelas Abhi.
"Buat apa kembali? kalian itu seharusnya pergi sejauh-jauhnya! tidak usah kembali lagi ke sana!"
Arif dan Abhi saling memandang.
__ADS_1
"Memangnya kenapa, kami tidak boleh kembali?" tanya Abhi.
"Buat apa kembali untuk mempertaruhkan nyawa? mending pergi selagi masih ada kesempatan," jawab si kakek membuat Abhi kian kebingungan.
Arif lantas menyenggol lengan Abhi seraya memberi isyarat untuk tidak lagi meladeni. Abhi pun mengulas senyum seraya mengucapkan terima kasih atas nasihat yang diberikan. Setelah itu, ia pamit undur diri. Si kakek mengangguk seraya berpesan agar jangan sampai terlambat untuk mengambil keputusan. Abhi mengangguk lalu berbalik arah, berjalan menjauh menuju parkiran.
"Gak usah dipikirin omongan si kakek tadi!" ucap Arif.
"Tapi Rif, dia bisa tahu loh kalau kita sedang berbohong."
"Biasa itu sih."
"Biasa gimana?"
"Kan memang banyak orang-orang yang mempelajari ilmu sakti kayak begitu yang ternyata fisiknya gak kuat akhirnya keblinger dah kebablasan alias agak-agak gak waras."
"Hust! jangan bicara sembarangan kamu Rif!"
"Lah emang bener kan?"
"Iya yang jangan bicara begitu! gak baik," sela pacar Arif.
"Iya-iya sayang, aku gak ngomong gitu lagi."
...🌟🌟🌟...
"Terima kasih banyak pak atas bantuannya!" ucap suami bu Indah.
"Apalah saya yang hanya perantara. Semoga usaha bapak dan ibu selalu lancar!" ucap si orang pintar.
"Iya pak, kalau begitu, kami pamit pulang!"
"Iya silakan, hati-hati di jalan!"
Kunjungan itu pun berakhir. Bu Indah bertolak pulang dengan harapan besar pada usaha rumah makannya.
"Jangan khawatir buk! setelah ini, semua akan kembali seperti sedia kala!" ucap suaminya.
"Iya pak."
...🌟🌟🌟...
Abhi dan Arif telah sampai di rumah pacar Arif. Di sana mereka berpisah. Arif berpamitan lalu berboncengan kembali ke rumah makan bersama dengan Abhi. Ketika hampir sampai, Arif kembali teringat pada sosok dua pocong pesugihan rumah makan sebrang. Ia pun lantas bertanya kepada Abhi.
__ADS_1
"Bhi, coba kamu lihat! apa pocongnya masih ada?"
Reflek Abhi menoleh ke rumah makan yang dimaksud.
"Ada," jawab Abhi singkat.
"Masih dua apa nambah?"
"Masih dua."
"Ya udah biarin! lagi kerja dia," ledek Arif.
Abhi pun tertawa.
...🌟🌟🌟...
Malam harinya, sebuah pesan singkat diterima Abhi. Nomer yang tidak ia kenal mengirimkan beberapa foto padanya yang ternyata adalah nomer dari Intan. Abhi melirik ke arah Arif, mencurigai temannya itu yang telah memberikan nomernya. Namun, Arif seolah tak tahu apa-apa. Abhi mengabaikan Arif lalu mengirimkan sebuah pesan ucapan terima kasih.
[ Jangan lupa disimpan ya Bhi, nomerku ini! Aku Intan ]
Membaca pesan tersebut, Abhi mengulas senyum seraya mengirim pesan balasan.
[ Iya, akan aku simpan ]
Setelah itu, Abhi menamai nomer Intan dalam kontak teleponnya. Ternyata, pesan pembuka tadi turut membuka jalur komunikasi keduanya. Abhi dan Intan saling berkirim pesan balasan. Mulai dari membahas keseruan di air terjun tadi hingga merembet ke banyak hal. Sepertinya, Intan telah jatuh hati pada sosok Abhi yang manis ini. Namun, entah dengan Abhi, dia membuka lebar pertemanan tapi untuk membuka hati, masih butuh waktu lebih lama lagi.
"Tidur Bhi sudah malam! mentang-mentang dapat nomer Intan jadi lupa diri," ledek Arif yang memang sedari awal sudah tahu kalau Abhi dan Intan saling berkirim pesan.
"Tuh kan, bener kamu kan yang ngasih nomerku?"
"Lah emang siapa lagi kalau bukan aku? si kakek di warung tadi? gak mungkin kan?" ledek Arif yang lekas mengundang gelak tawa keduanya.
"Kayaknya si Intan naksir kamu Bhi."
"Gak tahu, baru juga kenal."
"Memangnya jantungmu gak berdebar pas lihat dia tadi?"
"Berdebarlah, dari tadi sampai sekarang juga masih berdebar. Orang masih hidup gini."
"Ah.. sialan!"
Abhi tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...