ABHIYASA [ END ]

ABHIYASA [ END ]
AKAN KUBUAT KAMU MEMBAYAR LUNAS PERBUATANMU


__ADS_3

Sakit yang dialami bu Indah kian parah. Toko tutup hingga seminggu penuh. Alhasil, Arif dan Abhi memberanikan diri untuk mengutarakan usulan mereka agar suami bu Indah atau anaknya yang melanjutkan berjualan. Sayang juga jika rumah makan dibiarkan mangkrak mengingat itu juga merupakan mata pencaharian mereka. Suami bu Indah mengatakan kalau usulan kedua anak buahnya itu, akan ia pertimbangkan.


"Saya obrolin dulu sama ibuk dan anak-anak!" ucap suami bu Indah.


"Iya pak," jawab Arif dan Abhi bersamaan.


Tampaknya, usulan Arif dan Abhi turut diaminkan oleh suami bu Indah. Beliau juga mendiskusikan perihal hal tersebut kepada anak-anaknya yang mana akhirnya disepakati kalau anak sulung bu Indah yang akan menjalankan usaha milik orang tuanya. Hal ini dirasa sangat pas terlebih anak sulung bu Indah baru saja menyelesaikan sidang skripsi dan sedang menunggu yudisium saja.


"Ya sudah pak, untuk bumbu dan semua tata cara masak, kita rekam suara ibuk! kalau kondisi ibuk sedang baik dan bisa diminta untuk melakukan rekaman suara maka kita minta karena Della harus mempelajarinya dulu sebentar, latihan di rumah dua atau tiga kali sebelum terjun ke rumah makan langsung!" ucap putri sulung bu Indah yang bernama Della.


"Iya Del, tunggu ibuk bangun ya!"


"Iya pak."


Kesepakatan telah dibuat, tinggal menunggu pelaksanaan.


...🌟🌟🌟...


Beberapa hari kemudian, Della datang ke rumah makan sambil membawa banyak belanjaan. Arif dan Abhi lekas membantunya.


"Mbak Della yang akan menggantikan ibuk memasak?" tanya Abhi.


"Iya Bhi, sementara saja dulu sampai ibuk benar-benar sembuh."


"Iya mbak."


"Tolong kamu taruh di dapur dan potong-potong sayur! saya mau nyiram halaman dulu!"


"Iya mbak."


Menyiram halaman yang dimaksud adalah melanjutkan kegiatan yang selalu dilakukan ayahnya dulu. Kembang setaman yang direndam di dalam air itu disiramkan yang tentu saja dibacakan doa-doa dulu sesuai yang diinstruksikan ayahnya. Abhi hanya melirik sebentar lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Sekitar pukul sepuluh pagi toko dibuka. Dengan cepat para pembeli berdatangan. Lagi-lagi, bos rumah makan sebrang merasa tidak senang.

__ADS_1


"Kok sudah buka? bukannya dia masih sakit sekarang? seharusnya, tidak mungkin bisa bangun dia," gumam si bos di dalam hati.


Keesokan harinya, masih Della yang memasak dan hal ini berlanjut pada hari-hari berikutnya juga. Melihat rumah makan bu Indah yang kembali ramai, si bos rumah makan berniat mendatangi dukunnya lagi untuk menanyakan keadaan yang terjadi.


"Tidak bisa dibiarkan!" gumamnya pelan.


...🌟🌟🌟...


Suatu malam, Abhi tiba-tiba nyletuk kalau ia khawatir, Della akan sakit juga seperti bu Indah. Entah kenapa, Abhi mulai berpikiran negatif. Padahal biasanya, ia selalu berpikir positif.


"Tumben Bhi kamu mikir kayak gitu? kenapa? kamu habis ngalamin apa? ada jin yang memperingatkanmu?" cerca Arif.


"Apaan sih? gak ada jin yang memperingatiku tapi gak ngerti juga ya, hati ini kok berdenyut aneh. Tiba-tiba mikirin hal itu tanpa sebab."


"Itu feeling namanya, kalau hati sudah memperingati, tidak boleh diabaikan Bhi!" jawab Arif.


"Lalu, aku harus bagaimana?"


Seketika Abhi memasang wajah masam sedangkan Arif malah cekikikan dan obrolan itu pun berlalu tanpa pembahasan lebih jauh.


...🌟🌟🌟...


Seolah membenarkan firasat Abhi, beberapa hari kemudian, Della jatuh sakit. Dari gejalanya merujuk pada demam berdarah tapi yang mengherankan adalah dokter yang malah tidak dapat memberikan diagnosa apa-apa. Della diminta rawat inap dulu di rumah sakit sambil diobservasi. Di saat itulah, suami bu Indah mulai peka. Mulai curiga dan mengarah pada sesuatu yang tak kasat mata. Beliau menduga kalau istri dan anaknya telah dikirimi teluh oleh seseorang.


"Jika dugaanku benar, akan kubuat dia membayar lunas semuanya!" seloroh suami bu Indah dalam benaknya.


...🌟🌟🌟...


Dua hari kemudian, Arif dan Abhi menjenguk Della di rumah sakit. Pada kesempatan ini, suami bu Indah meminta bantuan Arif dan Abhi untuk berjaga. Menjaga Della dan juga bu Indah. Bergantian dengan anak sulungnya. Sementara suami bu Indah, pergi menemui orang pintar untuk menceritakan keadaan yang terjadi serta mencari tahu penyebab dari serentetan insiden ini. Abhi tahu betul maksud dan tujuan kepergian suami bu Indah tapi batinnya lagi-lagi terasa tak karuan. Sangat sulit untuk dapat ia jelaskan.


...🌟🌟🌟...

__ADS_1


Setelah melalui beberapa jam perjalanan, sampailah pak Rahmat (suami bu Indah) ke rumah orang pintar yang sebelumnya telah memberikan amalan agar rumah makan miliknya tak mudah diganggu oleh pesaing yang iri. Kedatangan pak Rahmat disambut baik sekaligus pertanyaan sebab, kedatangan pak Rahmat yang mendadak, tentu saja dikarenakan sesuatu yang sedang tidak baik. Kiranya itulah yang diperkirakan oleh si orang pintar dan ternyata memang benar. Orang pintar itu meminta sedikit waktu untuk tenang dan fokus. Ia pejamkan mata sejenak seolah dengan melakukan hal itu, reka ulang kejadian dapat terputar dalam benaknya. Hal semacam ini terlihat tidak masuk akal tapi nyatanya si orang pintar, dapat menjelaskan runtutan kejadian yang sukar untuk dibantah. Boleh percaya dan boleh juga, tidak.


"Jadi benar bajing*** itu lagi pelakunya?!" tanya pak Rahmat dengan luapan emosi yang tak bisa ia tahan.


"Benar pak."


"Sebenarnya, apa maunya? saya dan istri yang lebih dulu berjualan di sana? selama ini kami selalu diam. Bukannya berhenti malah semakin menjadi-jadi."


"Manusia kalau sudah disilaukan akan dunia, memang begitu. Banyak contohnya dan dia hanya satu dibandingkan ratusan orang pelaku yang lain."


"Saya ingin anak dan istri saya sembuh!" pinta pak Rahmat dengan wajah merah menahan amarah.


"Akan saya coba!"


"Selanjutnya, saya ingin dia merasakan apa yang telah dirasakan istri dan anak saya!"


Orang pintar itu, terdiam sesaat.


"Saya serius ingin memberi bajing*** itu pelajaran," imbuh pak Rahmat.


"Pak Rahmat yakin? jika pak Rahmat mulai membalas maka kemungkinannya, tidak akan ada yang mau berhenti."


"Lalu, apa saya terus yang harus mengalah? saat dia merusak usaha kami, kami masih bisa diam dan hanya berusaha mencari penangkal tapi ini, sudah keterlaluan. Dia ingin menghabisi anak dan istri saja. Apa saya masih harus diam?"


Si orang pintar kembali diam.


"Tolong lakukan sesuai yang saya minta!" ucap pak Rahmat.


"Apa tidak ingin dipikirkan ulang?"


"Tidak, saya sudah mantap dan yakin," jawab pak Rahmat tanpa ada ragu.

__ADS_1


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2