ABHIYASA [ END ]

ABHIYASA [ END ]
MENGHILANG


__ADS_3

Abhi berjalan sambil memandang ke kiri dan ke kanan. Ia amati benar-benar hingga kemudian, ia mulai tersadar kalau di sana, hanya ada hutan belantara. Hutan lebat yang terbelah oleh aspal jalan. Sementara kota yang ia tuju, termasuk kota yang padat penduduknya. Secara logika, semakin mendekati kota yang ia tuju, akan semakin ramai pemukiman tapi ini, sungguh jauh dari yang Abhi bayangkan. Kendati ini baru kali pertamanya, tetap saja di luar nalar.


"Apa ini jalan yang benar?"


Abhi mulai bertanya-tanya sembari terus melangkahkan kakinya. Beruntung, Abhi yang semula tinggal di desa, telah terbiasa berjalan kaki sebelumnya sehingga, tidak begitu berat berjalan saat ini. Namun, tetap saja muncul kekhawatiran kalau sampai waktu yang lama, tak ada bis lain yang lewat. Abhi mendengus sembari sesekali menoleh ke belakang hingga beberapa saat kemudian, ia melihat sebuah warung di tepi jalan. Merasa ada secercah harapan, Abhi lantas mempercepat langkahnya agar dapat segera sampai di sana.


Warung itu berada di sisi kiri jalan dan ditunggu oleh seorang laki-laki juga seorang perempuan. Tampaknya, kedua beliau inilah pemiliknya. Ketika Abhi tiba, kondisi warung belum seberapa ramai. Hanya ada dua orang laki-laki yang sedang makan di sana. Selain itu, sesekali datang pembeli tapi hanya membungkus makanan saja lalu kembali pergi dengan berjalan kaki. Entah kenapa, Abhi diam saja. Seharusnya, ia bisa bertanya sebab, dijalanan sepi dan berapa di tengah hutan begini, hendak ke mana si pembeli berjalan? jika ia tidak terdampar seperti Abhi, kenapa tidak membawa kendaraan? ah sudahlah, kondisi Abhi, berbeda dari kondisi normalnya.


"Mau pesan apa mas?" tanya ibu penjual.


Abhi pun balik bertanya, si ibu menjual apa saja?


"Ada pecel dan soto ayam mas."


"Soto boleh bu, satu mangkok ya! sama es teh manis," jawab Abhi.


"Mau dibungkus atau makan di sini?"


"Makan di sini saja bu!"


"Iya mas, silakan duduk dulu!"


"Iya, terima kasih!"


Abhi lantas membalik badan dan dilihatnya seorang pembeli yang sedang memperhatikan dirinya. Abhi tak begitu menghiraukan dan memilih untuk duduk di deret bangku yang kosong. Hanya sebentar ia duduk, makanan dan minuman telah disajikan. Abhi melingkarkan tas slempang miliknya dan bersiap untuk menyantap makanannya. Namun, tiba-tiba seorang pembeli yang tadi melihat ke arahnya, sudah duduk di sampingnya.


"Loh..."


Abhi sedikit terkejut sebab tak tahu dan tak menyadari saat pembeli itu menghampiri.


"Dari mana kamu?" tanya pembeli itu dengan suara yang terdengar berat dan dalam.


"Saya dari kabupaten *J* pak," jawab Abhi.

__ADS_1


"Tujuanmu ke mana?" tanya si pembeli itu lagi.


"Ke kota *S* pak."


"Lalu, kenapa kamu di sini sekarang?"


Abhi terdiam sesaat, bingung mendapat pertanyaan yang menurutnya aneh saja.


"Karena.. saya sedang dalam perjalanan menuju kota *S* pak," jawab Abhi kemudian.


"Kota *S* yang mana? kota *S* sisi yang gelap?"


Abhi terhenyak dan kian dibuat kebingungan. Ia hanya bisa nyengir sembari menanyakan maksud dari yang dikatakan si bapak.


"Apa maksudnya pak? saya tidak mengerti."


Bapak itu pun menatap Abhi lekat-lekat lalu menggeser makanan dan minumannya. Abhi hanya melihat dalam diam sembari menunggu, tindakan apa yang akan si bapak lakukan berikutnya.


"Makanan ini, jangan dimakan!" larang si bapak.


"Ini bukan makananmu."


"Em, saya memang belum bayar tapi ini, makanan pesanan saya," jelas Abhi.


Si bapak kembali menatap Abhi lekat-lekat laly mengatakan sesuatu yang cukup membuat Abhi bergidik.


"Kalau kamu makan ini, kamu... gak akan bisa pulang."


...Deg......


Abhi terbelalak.


"Pergilah selagi masih ada kesempatan!"

__ADS_1


Abhi yang terkejut dan bingung hanya bisa diam.


"Kamu jalan ke sana!" ucap si bapak sembari menunjuk ke dalam hutan belantara.


"Lurus terus sambil baca doa! muslim tapi gak mau baca doa. Baca! nanti kamu akan keluar dari tempat ini dengan sendirinya!" imbuh si bapak.


Abhi hanya mengangguk lalu berpamitan. Sebelum itu, iya menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada ibu si pemilik warung. Setelah itu, ia melangkah masuk ke dalam hutan seperti yang si bapak perintahkan. Dalam hatinya tentu berontak, bagaimana bisa ada jalan yang akan membawanya keluar sementara di sekitarnya, hanya ada hutan. Jalan aspal yang juga dilewati bis, malah tidak boleh ia susuri.


"Ya Alloh, bagaimana ini? saya tidak tahu ini benar atau salah. Tolong tuntun saya! bantu saya! jaga saya! saya bingung ya Alloh, harus terus ke sana atau kembali ke jalan raya," gumam Abhi.


Abhi masih melangkah sembari terus berdoa di dalam hati hingga pada suatu titik, vegetasi tanaman kian merapat. Abhi berusaha menyibaknya dan terus berdzikir hingga akhirnya, sebuah cahaya menyilaukan membuat Abhi menutup mata dan seketika itu juga suara klakson terdengar bersahut-sahutan. Adhi berada di tengah-tengah jalan raya yang penuh dengan kendaraan.


"Woiii minggir! cari mati ya?" bentak salah seorang pengendara.


Abhi yang masih syok hanya bisa mengatupkan kedua telapak tangannya lalu berjalan ke bahu jalan. Benar-benar di luar nalar. Ia yang semula berapa di hutan belantara, tiba-tiba berpindah ke tengah jalan raya.


"Apa yang terjadi? bagaimana bisa? kenapa aku ke sini? lewat mana?"


Abhi mengedarkan pandangan ke segala dan hanya ada jalanan dengan pertokoan. Sama sekali tidak terlihat hutan sejauh mata memandang.


"Aku ini barusan bermimpi atau bagaimana? kok bisa sih? astaghfirulloh!"


Tubuh Abhi mendadak lemas. Ia pun memilih duduk sejenak di trotoar. Setelah beberapa saat berselang, ia raih ponselnya dan terlihat beberapa panggilan juga pesan.


"Ponselku tidak jadi rusak, alhamdulillah!"


Segera ia buka histori panggilan dan pesan tersebut yang ternyata berasal dari ibunya dan juga Arif, teman yang menawarinya pekerjaan. Abhi lantas berdiri lalu menghampiri orang yang terdekat dengan posisinya untuk menanyakan, sedang berada di mana ia. Ternyata, ia telah sampai di kota *S* sesuai tujuannya. Ia juga menunjukkan alamat yang hendak dituju serta menanyakan arah mana serta kendaraan apa yang harus dinaiki untuk menuju ke sana. Orang itu pun menunjukkan semuanya. Abhi mengucapkan terima kasih lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Arif.


"Arif.."


"Bhi! dari mana saja kamu? katanya berangkat ke tempat kerjaku tapi ngilang selama tiga hari."


...Deg.....

__ADS_1


Abhi terhenyak seketika.


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2