ABHIYASA [ END ]

ABHIYASA [ END ]
RIVAL BARU


__ADS_3

Setelah kurang lebih satu minggu, Abhi bekerja, muncul rumah makan baru di sebrang tempat kerjanya. Belum resmi dibuka tapi plangkat nama sudah terpasang. Pada awalnya, bu Indah mengabaikannya tapi, lama kelamaan kian sering mengamati calon rivalnya. Sesekali bu Indah menghela napas panjang seolah menyiratkan kekhawatiran kalau rumah makan baru itu akan lebih ramai dibandingkan miliknya. Beberapa hari kemudian, rumah makan rival bu Indah, resmi dibuka. Dengan diskon gila-gilaan yang berhasil menarik minat banyak pembeli. Bu Indah beserta para pegawai hanya bisa memandang diam. Selama dua hari lamanya, rumah makan bu Indah mengalami penurunan. Mungkin, ini adalah imbas dari rumah makan baru yang sedang diskon awal pembukaan. Bu Indah sampai mengurangi banyak belanjaan pada hari ke tiga.


"Gak usah nyiapin bahan banyak-banyak!" pesan bu Indah kepada para pegawainya.


"Iya bu, tenang saja bu! sebentar lagi pasti normal kembali. Rumah makan ini sedikit sepi karena yang depan bikin diskonan. Gak mungkin juga akan selamanya. Pasti ada berakhirnya masa diskonan rumah makan di depan," jawab Didin coba menenangkan.


"Iya Din, semoga! wajar saja kalau orang penasaran dengan pembukaan rumah makan baru, ditambah diskonan pula tapi rumah makan ini, sudah memiliki pelanggan tetap sejak dulu."


"Iya bu, sabar dulu saja, kita tunggu!"


Bu Indah menganggukkan kepalanya.


...🌟🌟🌟...


Sayangnya, ini berlangsung cukup lama. Seminggu lebih, rumah makan rival bu Indah melakukan diskon besar-besaran hingga 50% dari harga yang telah ditentukan. Selama itu pula, rumah makan bu Indah merosot pendapatannya. Bukan hanya bu Indah dan suaminya, para pegawai pun mulai khawatir juga. Jika terus menerus sepi, nasib para pegawai turut dipertaruhkan. Alhasil, ada seorang pegawai yang berinisiatif membeli di rumah makan rival bu Indah.


"Yok.. yok.. makan yok!" seru Soni usai kembali dengan beberapa bungkus makanan dari rumah makan rival bu Indah.


"Kamu beli banyak Son?" tanya bu Indah.


"Enggak kok bu, hanya dua jenis menu saja. Icip-icip saja sih, ingin tahu rasanya."


"Habis berapa Son?"


"Sembilan puluh lima ribu. Aneh ini sih, strategi marketing kali ya. Harga dinaikin dua kali lipat lalu dikasih diskonan 50%. Sama sekali gak rugi dia," jelas Soni.


"Lah tahu gitu kok masih ramai saja ya rumah makan depan?" sahut Arif.


"Nah itu dia, kita coba dulu rasanya!"

__ADS_1


"Ya sudah Son, ini saya ganti uang kamu! kita coba masakan ini sama-sama," timpal bu Indah sembari mengulurkan uang sejumlah uang yang Soni belanjakan.


"Tidak usah bu," tolak Soni berbasa-basi.


"Sudah tidak apa-apa, kamu ambil ya!"


"Emm... iya deh bu, terima kasih!"


"Iya, ayo dicicipi!"


Dua bungkusan itu pun mulai dibuka dan kemudian, bu Indah, suaminya beserta para pegawai bergantian mencicipinya. Rasanya sama saja dengan masakan bu Indah. Sama-sama enaknya tapi soal harga, tentu lebih murah di rumah makan bu Indah. Terdapat selisih harga meski tidak begitu banyak tapi entah kenapa, rumah makan rival begitu ramai hingga sekarang. Mungkin karena masih hangat dibicarakan karnanya pembeli masih membludak. Setidaknya, pemikiran itu yang dapat menenangkan kecamuk hati bu Indah untuk saat ini.


...🌟🌟🌟...


Dua minggu tepat rumah makan bu Indah sepi pembeli. Raut wajah bu Indah terlihat murung. Jauh lebih murung ketimbang biasanya. Para pegawai turut prihatin juga tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Memasuki minggu ke tiga, rumah makan rival bu Indah sudah tidak memberikan diskon. Sedikit angin segar untuk bu Indah. Namun ternyata, rumah makan rivalnya masih ramai juga, sama seperti sebelum-sebelumnya. Cukup aneh sebab harganya bisa dua kali lipat dari harga di rumah makan bu Indah. Hingga detik ini, bu Indah masih berusaha berpikiran positif. Mungkin para pembeli lain belum sempat membeli ketika masa diskonan kemarin sehingga tetap membeli sekarang meski harganya selangit.


...🌟🌟🌟...


"Semoga habis ini ramai lagi!" sahut Abhi.


"Ramenya gk ngotak di depan. Jangan-jangan mereka pakai pesugihan," timpal Soni.


"Bisa jadi, harga selangit tapi masih juga seramai itu," sahut Arif.


"Lah iya, soal rasa juga bu Indah enak. Kalau gak pakai pesugihan, gak mungkin bisa tuh."


"Jangan gitu Son! takutnya fitnah. Siapa tahu orang-orang memang demi gengsi saja makan di situ," sahut Abhi.


"Mana ada? gengsi demi apanya? rumah makan juga cuma kecil, ruko juga sama kayak kita. Rasa sama aja, harga gak masuk akal. Aneh ini Bhi, yakin aku kalau ada yang gak beres sama rumah makan di depan," jelas Soni.

__ADS_1


Tampaknya, ucapan Soni turut diiyakan oleh yang lain. Kini, semua pegawai menduga hal yang sama dan mungkin juga, bu Indah memikirkan hal itu juga. Sementara Abhi hanya bisa menghela napas sembari berdoa agar kondisi rumah makan dapat kembali normal. Bagaimana pun jika terus menerus merugi, banyak orang yang akan terdampak, termasuk juga dirinya.


...🌟🌟🌟...


Sayangnya, hingga minggu ketiga pasca pembukaan rumah makan rival, keadaan masih sama sepinya. Pembeli yang datang bisa dihitung jari dalam sehari. Bahkan, bu Indah memutuskan untuk menutup rumah makannya hingga tiga hari. Berharap setelah dibuka kembali, pembeli akan meningkat meski belum kembali ramai seperti sebelum memiliki rival. Sayangnya, harapan hanya tinggal harapan. Rumah makan bu Indah tetap sepi.


"Rif, tolong pasang di depan plangkat diskon ini!" pinta bu Indah pada suatu hari.


Bu Indah dan suaminya sepakat untuk mengadakan diskon 10% dan makan gratis untuk yang sedang berulang tahun. Namun percuma, diskon tidak efektif. Rumah makan masih sepi pembeli. Setelah satu minggu plangkat diskon dipasang, keadaan masih tak berubah. Alhasil, bu Indah meminta Arif untuk mencopotnya kembali.


"Simpan di gudang saja Rif plangkatnya!" perintah bu Indah.


"Iya bu," jawab Arif seraya lekas melaksanakan perintah yang diberikan.


...🌟🌟🌟...


"Kasihan sekali bu Indah," gumam Abhi.


"Kita juga kasihan Bhi. Gimana nasib kita kalau rumah makan bangkrut?" sahut Arif.


"Mumpung belum, kita cari kerjaan yang lain saja dulu!" usul Didin.


"Kerja apa? kapan kita bisa melamar? masak tega ninggalin bu Indah dalam kondisi begini?" sahut Soni.


Ucapan Soni cukup menjadi pertimbangan bagi pegawai yang lain.


"Ya sudahlah, kita lihat dulu perkembangan selanjutnya, baru nanti ambil tindakan," timpal Didin.


Semuanya pun diam, sepakat dengan yang Didin katakan.

__ADS_1


"Ya Alloh! semoga rumah makan ini kembali ramai. Kasihan bu Indah juga. Saya juga bingung harus kerja apa?" ucap Abhi di dalam hati.


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2