![ABHIYASA [ END ]](https://asset.asean.biz.id/abhiyasa---end--.webp)
Di sela-sela agenda pijat, tukang pijat menyinggung masalah bunga yang berserakan di halaman rumah makan ketika ia datang. Ia pun menanyakan hal itu kepada Arif dan juga Abhi.
"Mas, pas saya datang tadi, ada banyak bunga berserakan di depan. Emang sengaja dikasih atau ada orang iseng yang nyebarin?" tanya si tukang pijat.
"Bunga.. oh, itu emang sengaja disebar kok pak sama pemilik rumah makan ini," jawab Arif.
"Oh ya sudah, saya kira ada orang lain yang iseng."
"Memangnya kenapa pak?" sahut Abhi.
"Tidak apa-apa sih mas. Namanya usaha, kuatirnya tuh kembang dari orang lain yang memiliki niat tidak baik," jelas tukang pijit.
"Guna-guna ya pak? bikin usahanya hancur gitu ya?" sahut Arif.
"Iya mas Arif, kuatirnya begitu."
"Sudah pak, sudah beberapa kali rumah makan ini digituin."
"Ohya, sudah tahu siapa pelakunya mas?"
"Sudah, rumah makan depan tuh pelakunya."
"Jangan nyebar fitnah Rif!" sahut Abhi.
"Siapa yang fitnah? bu Indah kan sudah cerita kalau orang pintarnya tuh sudah ngasih tahu dengan sangat jelas. Aku gak fitnah Bhi. Memang dia pelakunya, ini fakta," kilah Arif.
Abhi diam.
"Ya.. namanya juga bisnis, usaha mas. Lumrah sudah yang pakai cara yang curang. Sangat merugikan tapi banyak sekali pelakunya. Makanya pas lihat kembang, jadi kepikiran saya. Takutnya seperti yang saya utarakan tadi."
"Iya pak tapi tenang, kalau kembang itu, bukan guna-guna. Melainkan penangkal dari guna-guna rumah makan sebrang," jawab Arif lagi.
"Syukur deh mas kalau bukan."
"Iya pak, lagian aneh juga mereka (rumah makan sebrang). Sudah pakai pesugihan, masih saja gak PD ( Percaya Diri ). Masih ngirimin guna-guna ke sini. Kurang ajar sekali kan pak?"
"Rif! jangan disebarluaskan begitu! aib namanya," sela Abhi.
__ADS_1
"Haduh Bhi, kita ini korban. Coba kalau bu Indah gak cepat-cepet cari solusi. Jadi apa kita? lontang-lantung gak ada pekerjaan? kita korban, mereka pelakunya, gak perlu ditutup-tutupin!"
"Iya mas Abhi, hal seperti ini tuh sudah umum terjadi. Mau dibilang aib tapi mereka gak ada sungkan tuh melakukan praktik pesugihan. Bahkan sampai menutup sumber rejeki orang lain," sahut si tukang pijit.
"Nah bener itu, kamu jangan sama kan semua hal dengan di pesantrenmu Bhi! dunia luar itu keras," timpal Arif.
"Mas Abhi ini dulunya santri ya?"
"Iya pak."
"Nyantri di mana mas?"
"Di pesantren ****** kota *******."
Perbincangan itu pun berlanjut hingga merembet ke banyak hal. Semakin asik sembari memijit.
...🌟🌟🌟...
Setelah si tukang pijit pergi. Arif dan Abhi mengobrol sembari memainkan ponsel masing-masing dan entah kenapa, Abhi tiba-tiba merasa terganggu oleh apa yang sempat tukang pijit katakan.
"Aku lagi mikir Rif, siapa orang pintar yang bu Indah datangi? kok dikasih kembang?"
"Tahu, aku juga tahu kalau kembang itu hasil dari beli tapi kenapa pake kembang setaman, maksudnya mawar dan kawan-kawan? itu kan kembang yang biasa ditabur di kuburan. Lengkap dengan wewangiannya juga loh."
"Ya karena kalau pakai bunga anggrek, mahal. Pakai tulip, gak ada di sini. Sakura pun jauh di jepang," ledek Arif disusul cekikikan.
"Hais.. bukan gitu juga lah. Maksudku tuh, bu Indah ngedatengin ustad atau dukun? kok medianya kembang setaman, identik dengan Jin."
Arif sempat terdiam sesaat sebelum kemudian memberikan jawaban.
"Mana ada identik begitu. Gini ya, kenapa kuburan dikasih bunga? tujuannya adalah untuk menyamarkan bau busuk dari mayat yang dikuburkan di kuburan. Biar pun sudah dalam tapi tetap dikasih bunga biar wangi."
"Nah itu, tujuannya kan bisa seperti itu tapi pada kenyataannya, banyak dukun yang memakai media kembang setaman untuk hal-hal klenik yang erat kaitannya dengan Jin, sesajen, atau semacamnya," jelas Abhi.
Arif menghela napas panjang.
"Masalah itu, gak perlu kamu pikirkan! tugas kita hanya kerja. Syukur alhamdulillah rumah makan ini kembali ramai. Artinya, kita bisa lanjut kerja untuk waktu yang lama. Siapa tahu bisa dapat bonus juga? gak mau kamu?"
__ADS_1
"Ya mau Rif tapi.."
"Cukup Bhi! ada baiknya kalau kita tidak mencampuri segala sesuatu yang bukan urusan kita. Jalani kehidupan masing-masing tanpa mencampuri urusan orang lain!"
"Bu Indah ya bukan orang lain Rif."
"Jadi menurutmu, yang dilakukan bu Indah itu, salah?"
"Aku tidak menyalahkannya tapi begini.."
"Bhi, percaya sama aku! semakin sedikit yang kita tahu, semakin baik. Kebanyakan, orang yang terlalu banyak tahu, umurnya gak panjang."
Abhi diam seketika, yang dikatakan Arif ada benarnya. Namun, batinnya merasa sangat gusar. Ada rasa penasaran yang memuncah. Ingin tahu tentang siapa orang pintar yang bu Indah datangi dan syarat apa saja yang harus dipenuhi? jika menyimpang dari agama, ingin sekali Abhi mengingatkan. Abhi memiliki empati yang tinggi pada bu Indah yang telah mempertahankannya bekerja di sana meski keadaan sedang sulit karena diguna-guna. Karnanya, Abhi tidak ingin kalau bu Indah melakukan sesuatu yang dilarang. Namun, untuk saat ini, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
...🌟🌟🌟...
Keesokan harinya, rumah makan buka seperti biasa. Suami bu Indah pun melakukan hal yang sama. Melaksanakan amalan yang diperoleh dari orang pintar lalu menyiramkan air beserta bunga ke sekitar rumah makannya. Jam sepuluh pagi tepat, para pembeli telah berdatangan. Tidak hanya makan di tempat, banyak juga yang membungkus untuk dibawa pulang. Hal ini cukup membuat iri bos rumah makan sebrang. Ia mendengus berulang kali sembari menggerutu di dalam hati. Ia masih tak menyangka kalau aksinya kali ini, mengalami kegagalan.
"Dukun mana yang dia pakai sampai-sampai bisa menangkal kirimanku?" gumam si bos di dalam hati.
"Lihat saja! aku akan mencari dukun yang jauh lebih hebat lagi untuk membuatmu tersungkur," benaknya lagi.
Sementara itu, bu Indah, suaminya beserta Abhi dan Arif sangatlah sibuk. Pembeli tiada henti-hentinya. Pergi satu, tiga datang. Begitu terus hingga jam menunjukkan pukul dua siang. Barulah keadaan mulai lenggang. Jam segitu pulalah, bu Indah dan yang lainnya baru bisa makan siang. Beristirahat sejenak sembari menunggu jam sibuk berikutnya.
"Ini Bhi, Rif, ibuk masakin cumi saos padang untuk kita semua!" seru bu Indah sembari meletakkan hasil masakannya di atas meja.
"Ayo makan!" ucapnya kemudian.
"Mantap ini bu, terima kasih bu!" jawab Arif.
"Iya bu, terima kasih," sahut Abhi.
"Iya, ayo kita makan! ayo pak!" ucap bu Indah seraya mengajak semuanya untuk makan.
"Alhamdulillah nikmat sekali," ucap Abhi, mensyukuri nikmat yang Alloh beri.
"Tambah lagi Bhi!'
__ADS_1
"Iya bu nanti saja! ini sudah banyak," jawab Abhi.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...