![ABHIYASA [ END ]](https://asset.asean.biz.id/abhiyasa---end--.webp)
Beberapa hari berikutnya, seorang pegawai dari rumah makan sebrang datang membeli dua porsi menu ikan nila. Sama seperti pembeli yang lain, ia pun dilayani dengan baik. Namun, lagi-lagi Soni dan Arif mencurigainya. Seolah mendapat firasat atau sekedar berburuk sangka. Keduanya menduga kalau kedatangan pegawai rumah makan sebrang memiliki maksud yang lain. Jika dilihat, tidak ada gerak gerik mencurigakan. Ia hanya duduk di kursi, memesan makanan lalu menunggu makanannya disiapkan. Setelah pesanannya diberikan pun, ia lekas kembali ke sebrang. Soni dan Arif yang terlanjur curiga hanya bisa diam sebab, tidak menemukan kejanggalan apa-apa. Barulah keesokan harinya, keanehan kembali terulang. Secara tiba-tiba, rumah makan bu Indah sepi. Kembali sepi seperti beberapa waktu yang lalu. Melihat hal itu, Soni dan Arif melontarkan kecurigaannya dan segera menjadi topik hangat perbincangan.
"Memangnya kamu melihat sesuatu yang janggal Son kemarin?" tanya si bapak (suami dari bu Indah).
"Gak ada yang aneh sih pak dari gerak-geriknya. Cuma kan tumben dia ke sini. Di sana juga jual menu yang sama seperti kita."
"Tapi alasan itu saja tidak cukup untuk menuduh seseorang Son, bukannya kamu juga pernah beli makanan dari sana," sahut bu Indah.
"Iya sih bu tapi mereka kan punya niat jahat. Sudah sempat menutup rejeki bu Indah. Meski pun bu Indah tidak diberi tahu tentang siapa pelakunya, kami sudah bisa menduga kalau pelakunya ya dia (rumah makan sebrang)," kilah Soni.
"Iya bu, setelah rumah makan ini ramai lagi, rumah makan sebrang jadi sepi kan? bisa saja mereka kesal lalu kembali mengirim guna-guna ke sini. Hal itu juga sudah menyiratkan kalau memang merekalah pelakunya. Gimana ya bu? saya tidak bisa menjelaskan tapi bu Indah sendiri pasti juga merasakan," timpal Arif.
"Hemm... bagaimana pun juga tetap tidak boleh menuduh. Saya juga harus gimana? apa setiap kali diginiin, harus tutup dan cari orang pintar?" desah bu Indah.
"Bagaimana lagi bu, jalannya memang begitu agar bisa kembali normal," sahut Didin.
"Ya sudah pak, besok tutup dulu. Kita pergi lagi ke orang pintar!" ajak bu Indah pada suaminya.
"Iya buk."
...🌟🌟🌟...
Dua hari berikutnya, rumah makan kembali buka dan kembali ramai seperti sedia kala tapi hal ini tidak berlangsung lama. Hanya dua minggu berselang sebelum kemudian kembali sepi dan dugaan guna-guna pun kembali mencuat. Bu Indah merasa lelah jika terus begini. Ia bahkan sampai menangis, merasa jengah dengan keadaan. Sementara suaminya menenangkan sebab bagaimana pun, hal ghaib semacam ini tidak bisa dibuktikan. Tidak ada bukti maka tidak bisa menuduh sembarangan. Para pegawai hanya bisa diam.
Benar saja, kejadian ini terjadi berulang kali. Setiap kali ramai, selalu diguna-guna lagi. Bu Indah harus ke orang pintar agar bisa normal kembali hingga ia merasa sangat lelah. Rumah makan sempat diabaikan hingga tiga minggu, sama sekali tidak ditunggui oleh bu Indah dan hanya mengirim bahan-bahan beberapa hari sekali. Dengan terpaksa, Soni mengundurkan diri lalu mencari pekerjaan yang lain. Didin pun ingin mengikuti tapi masih tak sampai hati pergi dalam keadaan seperti ini. Tinggallah tiga orang pegawai di rumah makan bu Indah sekarang.
...🌟🌟🌟...
Dua hari berikutnya, Didin mengundurkan diri. Tinggallah Abhi dengan Arif. Meski kondisi rumah makan yang sepi, bu Indah tetap memberikan gaji penuh kepada keduanya. Meski merasa tidak enak, Abhi dan Arif tetap menerima sebab mereka pun memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi.
__ADS_1
Sepinya pembeli membuat Abhi dan Arif sangat bosan. Bahkan beberapa kali Arif mengajak teman-temannya ke rumah makan. Bersenda gurau bersama sembari sesekali bercerita tentang nasib buruk yang di alami bu Indah dalam bisnis kulinernya. Tak jarang teman-teman Arif merasa kasihan lalu memesan makanan di sana hingga suatu ketika, ada teman Arif yang mengatakan kalau rumah makan bu Indah dijaga beberapa jin di depan. Ada yang di teras, di sudut sebelah kasir dan ada yang di atap juga. Menurutnya, para jin inilah yang membuat suasana tak nyaman sehingga tak ada satu pembeli pun yang datang.
"Wah jangan-jangan sosok itu yang dikirim rumah makan sebrang biar rumah makan bu Indah kembali sepi," sahut Arif.
"Sepertinya begitu, kenapa gk ke orang pintar lagi biar bisa diusir?" tanya teman Arif kemudian.
"Nah itu, sepertinya bu Indah sudah capek bolak-balik ke orang pintar," jawab Arif.
"Lah kalau emang gitu, kenapa gak ditutup saja rumah makannya?"
"Emm.. masih sayang mungkin. Bagaimana pun kan bu Indah dan suaminya sudah lama merintis usaha ini."
"Mungkin sih Rif tapi apa bukan karena kita?" sahut Abhi.
"Karena kita gimana Bhi?"
"Wah, aku gak pernah mikir sampai segitunya loh Bhi. Kalau benar seperti yang kamu katakan, baik banget berarti bu Indah ke kita. Jadi gak enak gini..duh.. gimana ya..?"
"Kamu tahu gak orang pintar yang dimaksud bu Indah?"
"Mana aku tahu, bu Indah gak pernah cerita."
"Atau mungkin kamu kenal orang pintar dekat-dekat sini, coba kita patungan ke sana, biar rumah makan ini ramai lagi!"
"Butuh berapa duit Bhi?"
"Ya.. tanya-tanya dulu lah Rif. Setidaknya, kita pernah usaha sekali pun hanya satu kali. Itung-itung balas jasa juga. Bu Indah dan bapak sudah baik ke kita."
"Hemm.. di mana ya? kalian ada yang tahu gak?" tanya Arif kepada beberapa temannya.
__ADS_1
"Kayaknya ada Bhi, di desa ini "C****"," jawab teman Arif.
"Sudah banyak yang berhasilkah setelah datang ke dia?" tanya Arif memperjelas.
"Ampuh kok Bhi."
"Bayar berapa?"
"Gak pernah nargetin, seikhlasnya kita saja tapi kamu ya jangan keterlaluan. Masak iya cuma kamu kasih seratus ribu."
"Seratus sepuluh gimana?" tanya Arif yang lekas mengundang gelak tawa beserta ledekan.
...🌟🌟🌟...
Malam harinya, Arif dan Abhi diantarkan ke rumah seorang ustad di desa C****. Di sana sudah ada beberapa orang tamu yang juga memiliki maksud sama seperti Arif dan Abhi. Setelah berbincang beberapa saat. Arif dan Abhi mengucapkan terima kasih seraya mengulurkan sebuah amplop berisi beberapa lembar uang. Ustad itu juga berpesan agar pindah lokasi saja jika memang setelah ramai ini nanti, dikirimkan guna-guna lagi. Dari pada terus menerus begini, lebih baik mengalah, mencari tempat lain, memulai lagi semuanya dari awal tapi hati merasa tentram.
"Mana bisa begitu," keluh Arif di dalam hati.
Namun, Arif tetap mengangguk sembari menyunggingkan senyuman.
"Kami pamit dulu pak ustad, terima kasih!" ucap Abhi dan Arif.
"Iya sama-sama, semoga Alloh senantiasa melindungi kita semua!"
"Aamiin! assalamualaikum pak Ustad!"
"Waalaikumsalam."
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...
__ADS_1