
Setelah selesai membereskan rumah, Aji dan Mei pun sangat kelelahan. Pada saat itu juga masih sangat pagi sekali.
Mei sangat lelah telah melakukan pekerjaan rumah dan membereskan lantai satu dan lantai 2 rumah.
Sedangkan Aji hanya mencuci mobil saja, perbandingan pekerjaan mereka sangat jauh. Ya, mau bagaimana lagi itu semua memang seharusnya pekerjaan wanita.
Mei yang merasa lelah dan juga pada saat itu belom mandi pun pergi ke kamar untuk ngadem menggunakan AC kamarnya.
Aji yang sudah selesai mencuci mobil langsung duduk di teras rumah, aji tidak kelelahan sama sekali pada pagi itu, jadi setelah selesai mencuci mobil Ia pun duduk di teras rumah sedangkan Mei beristirahat di kamarnya.
Mei pada saat itu belum mandi dan juga dia sudah lelah dan bau keringat, Aji Memanggil Mei dari teras untuk membuatkan kopi.
Mei Mei Mei....
teriakan Aji dari teras Memanggil Mei.
Tidak ada jawaban sama sekali pada saat Aji memanggil mei, karena saat itu Mei sudah tertidur di kamarnya.
Aji yang pada saat itu malas bergerak, ia menelepon Mei yang sedang tertidur, kebetulan saat Mei tertidur HP yang ia miliki Ia letakan di atas kepalanya.
Drink drink drink......
Suara HP Mei bergetar dan juga berdering pada saat ia tidur.
Mei pun merasakan getaran HP tersebut langsung saja terbangun.
Ahh..Siapa sih orang lagi kelelahan menelepon begini.
Mei pun terduduk dan melihat handphonenya bahwa ada panggilan.
Mei melihat bahwa panggilan tersebut adalah kakaknya Ya, itu benar sekali bahwa Aji yang meneleponnya.
Mei pada saat itu geram, karena Aji sangat lama mencuci mobil dan tiba-tiba ia mengganggu Mei yang sedang kelelahan.
Mei langsung mengangkat telepon dari Aji, Iya dalam keadaan geram dan juga emosi.
"Halo kak Aji, Ada apa menelepon kan bisa langsung masuk ke rumah." Mei pada saat itu sudah emosi karena kelelahan dan ia diganggu pada saat tidur.
"Halo Mei, Bisakah Kakak Aji minta tolong kepadamu, Kakak Aji ini haus sekali, Tolong kamu buatkan segelas kopi untuk kakak dan antar kan ke teras rumah Kakak sedang duduk." Aji duduk dengan santai karena ia ingin menikmati segelas kopi sambil menikmati Hawa pagi hari.
__ADS_1
Dengan keadaan emosi, saat itu juga Mei langsung tensi karena Aji menyuruhnya membuatkan kopi, dengan lantang Mei langsung menjawab dengan tegas.
"Tidak Bisakah Kakak Aji membuat kopi sendiri, Mei sangat lelah karena sudah menyapu lantai 1 dan juga lantai 2 serta telah mengepelnya" ucap Mei.
"Kenapa kamu membantah, kakak hanya minta tolong buatkan segelas kopi Apakah kamu tidak bisa lagi disuruh." bentak Aji di telepon.
"Mei sedang capek Kak, tolong mengerti, kakak hanya mencuci mobil saja, sedangkan Mei sudah lelah sangat membersihkan semua rumah ini dan kakak sangat lama mencuci mobil" ucap Mei.
"Kamu sekarang melawan sama kakak, kakak akan datangi kamu ke atas dan memarahi kamu" ucap Aji.
"Mei mau istirahat Kak, kakak buat saja sendiri Mei tidak peduli, Mei sudah sangat capek." Mei langsung menutup telepon, dan langsung melanjutkan tidurnya.
Karena mei langsung menutup telepon dengan cepat, Aji pun naik darah. darah tinggi yang dimiliki Aji langsung naik pada saat itu, Iya langsung ingin segera mendatangi Mei yang sedang tidur di kamarnya untuk memberikan pelajaran.
"Sialan, berani-beraninya Mei sekarang membantah kepada kakaknya, Apakah ia ingin menjadi pembangkang." Aji emosi dan langsung berdiri ingin berjalan menuju kamar Mei.
Setelah itu Aji pun langsung berjalan menuju kamar Mei yang pada saat itu Mei sedang tertidur.
Tuk..tuk..tuk .
Langkah kaki Aji yang sedang menuju ke kamar Mei.
Setibanya di kamar Mei, Aji dengan lantang langsung membuka kamar Mei dengan kuat.
crek..crek..crek
Suara pintu dibuka oleh Aji.
Ternyata, pada saat Aji ingin membuka pintu, pintu tersebut tidak terbuka. Pintu saat itu dikunci oleh Mei menggunakan engsel dari dalam pintu kamarnya.
Aji pun emosi sangat membara pada saat itu. Gedoran kuat pun dilakukan Aji untuk membangunkan Mei yang pada saat itu kelelahan dan langsung tertidur.
Mei..Mei..
Buka pintunya.
Aji berteriak dari luar pintu sambil menggedor-gedor dengan kuat.
Dor..dor..dor..
__ADS_1
Suara pintu di Gedor.
Mei pun terbangun karena Aji yang sangat berisik berteriak Dari pintu luar kamar Mei dan pada saat itu Mei langsung emosional.
Aji lagi dan lagi selalu menggedor pintunya sampai sangat ribut didengar oleh.
Mei yang terbangun, langsung emosi membuka pintu untuk segera memarahi kakaknya tersebut.
Krecek..
Suara pintu di buka.
Pintu pun dibuka oleh Mei, dengan cepat Mei langsung mengeluarkan kata-kata kasar kepada Aji yang masih berdiri di depan pintu.
"Ada apa sih kak Aji, kenapa dari tadi ribut sekali menggedor pintu dengan deras dan memanggil-manggil Mei, Ada perlu apa Kakak dengan Mei." Mei membukakan pintu dan langsung menegur kakaknya.
"Hey Mei, Kenapa kamu tidak mau kakak suruh untuk membuatkan kopi, Kenapa kamu sekarang jadi membantah kepada kakak Apakah kamu tidak bisa lagi Kakak atur." ucap Aji.
"Kak Aji, Kakak kan tidak lelah hanya mencuci mobil saja, Apakah kakak tidak bisa membuat kopi sendiri Kan Kakak juga sudah besar Kenapa nyuruh-nyuruh Mei." Memang mengucapkannya dengan suara lantang dan keras.
Aji pun langsung emosi karena Mei mengucapkan semua kata-katanya dengan naik urat lehernya dan membuat Aji emosional.
"Kenapa kamu jadi marah-marah kepada kakak Mey, apa-apaan kamu ini sekarang sudah melawan kepada kakak" ucap Aji.
"Bagaimana Mei tidak emosi, kakak hanya membuat kopi saja tidak bisa, hanya menyuruh-nyuruh Mei saja lebih baik kakak turun untuk membuatnya sendiri Mei ingin istirahat." Mei langsung menutup pintu kamarnya kembali dengan dorongan yang sangat keras.
Duar..........
Suara pintu di tutup.
Aji pun tidak terima Mei hanya menutup pintunya dengan keras dan langsung meninggalkannya di dalam percakapan itu, dengan cepat Aji menahan pintu agar tidak di engsel oleh Mei.
Aji pun mendorong kembali pintu saat Mei sedang ingin Mengunci pintu tersebut dari dalam kamar.
"Hey Mei, Tunggu kakak, kakak ingin bicara denganmu dengan jelas sekarang, Kamu jangan pergi dulu Kakak emosi melihat kamu seperti ini." Aji yang mendorong pintu dan membukanya kembali menarik tangan Mei.
"Ada apa lagi sih Kak, Kenapa Kakak tarik-tarik tangan Mei, Sudahlah kakak buat saja sendiri." Mei berbicara dengan lantang.
Mei pun langsung menghempaskan tangan Aji dan pergi naik ke atas tempat kamarnya.
__ADS_1