
Syafira berdiri di depan jendela kamarnya sembari menatap senja .
Entah dirinya harus bahagia atau harus bersedih mendengar Rey yang ingin menikahinya. Saat ini ia sedang berjuang menuntut ilmu , ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Bagaimana ia bisa membahagiakan kedua orang tuanya jika tiba tiba ada laki laki yang mau meminangnya. Tetapi disisi lain ia sangat mencintai Rey.
Tiba tiba suara orang mengetuk pintu kamar, memecahkan lamunannya. Syafira segera membukakan pintu kamarnya.
Ternyata yang mengetuk pintu adalah Umi.
Umi..!
"Sayang.. Umi minta waktunya sebentar, ada yang harus kita bicarakan " Umi mengajak Syafira ke ruang keluarga.
Di Ruang keluarga tampak Abi yang masih berbaju kantor duduk di sofa bersama Rey. Mereka menatap Syafira seolah ada sesuatu yang penting yang harus mereka bicarakan sehingga Syafira merasa gugup.
Duduklah Syafira dan Umi di sofa.
"Ada apa ya ini ?" ucap Syafira dengan sedikit gugup.
"Begini.. Syafira.. kami berniat ingin melamar kamu untuk putra kami Rey, jika kalian saling mencintai , alangkah baiknya jika kalian menikah saja , kamu mau kan menjadi istri nya Rey ? ." Ucap Abi dengan sangat bijaksana.
"Ta.. ta.. tapi Bi.." ucap Syafira dengan sedikit gagu.
"Tapi apa nak ?" Tanya Abi.
"Kita kan baru aja beberapa hari pacaran. Emangnya harus secepat ini ?" ucap Syafira sambil mengerutkan dahi.
"Memangnya apa lagi yang kamu tunggu. Walaupun baru beberapa hari pacaran , kalian kan sudah saling mengenal." Jawab Abi.
"Bagaimana aku bisa terburu buru menikah, aku belum bisa membahagiakan kedua orang tua ku dikampung." Ucap Syafira sembari menunduk.
"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan untuk kedua orang tua kamu?" tanya Rey.
"Kami orang miskin.. Suatu saat aku ingin memperbaiki perekonomian mereka dengan tanganku sendiri." Jawab Syafira.
"Baiklah , aku akan bantu kamu untuk melakukanya Ra " ucap Rey dengan penuh keyakinan.
Rey meraih tangan Syafira sembari menatapnya . "Percayalah Ra.. meskipun kamu menikah denganku tapi kamu bebas mengejar cita cita kamu Ra , aku hanya ingin memilikimu seutuhnya."
Syafira seakan luluh dengan tatapan dan perkataan Rey padanya. Syafira terdiam sejenak untuk befikir. "Baik.. Saya bersedia, tetapi jika orang tua saya menijinkan."
__ADS_1
"Yasudah.. besok kita pergi ke tempat orang tua Syafira di kampung." Ucap Abi sambil mengendorkan dasinya , lalu beranjak pergi. Umi pun menyusul Abi seakan memberi kesempatan pada Syafira dan Rey untuk berdua.
Di ruang keluarga hanya ada mereka berdua.
"Kak , apa ini ?" tanya Syafira sambil mengerutkan dahi.
Rey tersenyum pada Syafira dengan tatapan penuh cinta. "ini adalah pembuktian yang sesungguhnya. Aku akan buktikan kalau aku memang mencintai kamu."
...***...
Akhirnya sekarang tujuan Rey untuk menikahi Syafira tinggal selangkah lagi. Namun ada sesuatu yang mengganjal dihati Rey. Bagaimana dengan Risa yang beberapa minggu ini tidak ia beri kabar sedikitpun.
Berkali kali Risa menghubungi Rey tetapi tak mendapatkan respon dari Rey. Rey memang sedang berusaha melupakan Risa tetapi masih saja Risa selalu ada dalam fikiran nya. Mungkin terlalu indah untuk dilupakan selama 5 tahun perjalanan mereka berpacaran .
Dalam situasi seperti ini , rasanya Rey perlu menenangkan fikirannya sejenak .
Akhirnya Rey memutuskan untuk pergi keluar sebentar untuk menghirup udara segar. Rey pergi ke tempat yang sering ia kunjungi bersama Risa.
Rey duduk sembari menikmati hembusan angin malam yang sejuk.
"Apakah semudah itu kamu lupakan semua kenangan kita Rey..?" tiba tiba seseorang datang dari arah belakang Rey. Suara itu tak asing baginya.
Rey langsung saja memeluk Risa.. "maafin aku Risa.."
"Apa kamu akan nyerah gitu aja ? apa kamu gak mau perjuangkan cinta kita Rey?" ucap Risa dengan mata yang berkaca kaca.
"Aku fikir aku bisa lupain kamu , tapi aku nggak bisa Ris.. aku sayang banget sama kamu." Air mata Rey tak terasa jatuh membasahi pipi nya.
" Kenapa ini harus terjadi sama kita Rey. Ini nggak adil buat cinta kita." ucap Risa sembari melepaskan pelukan Rey.
"Aku terpaksa mengikuti keinginan Umi dan Abi untuk menikahi wanita pilihan mereka. Tunggulah aku Ris, sampai suatu saat aku bisa meyakinkan orang tuaku bahwa kamu lebih baik dari dia" ucap Rey sembari meraih kedua tangan Risa.
"bukannya kamu akan menikahinya ?" Tanya Risa sembari menatap Rey dengan penuh kesedihan.
"Ya.. Tapi hanya untuk sementara. Aku akan meninggalkan dia demi kamu ." Ucap Rey sembari menatap Risa dengan penuh keyakinan.
"Baik Rey.. Aku akan menunggumu. Sampai kapanpun aku akan tetap setia menunggumu." ucap Risa dengan yakin.
"Aku akan perjuangkan cinta kita Ris."
__ADS_1
Saat ini Rey dan Risa sama sama yakin dengan cinta mereka . Tak mudah melupakan cinta yang mereka bangun selama 5 tahun lamanya. Suka dan duka mereka lewati bersama, bahkan disaat mereka tak mendapatkan restu dari kedua orang tua Rey.
...***...
Dikampung kedua orang tua Syafira seperti biasa menjalani kesibukan mereka berjualan bakso.
Ketika mereka sibuk melayani pelanggan mereka tiba tiba sebuah mobil mewah berhenti di dekat warung bakso mereka . Seketika mereka saling bertatapan karena sama sama heran . Tetapi mereka tak begitu menghiraukannya. Mereka kembali dengan kesibukan mereka masing masing.
Emaa... Bapak..!
Tiba tiba terdengar suara teriakan seperti seseorang memanggil mereka .
Seketika mereka langsung melirik ke arah suara orang itu yang berasal dari mobil mewah tadi.
Benar saja ternyata Syafira lah yang memanggil mereka . Ia turun dari mobil mewah yang dinaikinya, lalu berlari memeluk kedua orang tuanya itu.
Seketika Pak Burhan dan Bu Suti langsung melepaskan apa yang sedang mereka kerjakan. Mereka berpelukan untuk melepas kerinduan mereka setelah beberapa bulan ini tak bertemu.
"maaf Bu.. Ini saya sudah pesan bakso dari tadi !". Tiba tiba seorang pembeli memecahkan suasana haru yang sedang mereka rasakan.
"Maaf ya mbak sekarang kami libur dulu.. Gak jualan bakso dulu . Mbak boleh datang lagi besok" . Bisa bisanya ketika suasana haru seperti ini ada ada saja orang yang tak mengerti dengan situasi.
Pembeli itu hanya bisa menggaruk garuk kepala yang tak gatal. Karena memang dia sudah lama memesan bakso tapi tak kunjung dilayani. "*Kenapa saya harus menunggu lama kalau tahu akan begin*i". Gerutu orang itu dalam hati. Kemudian seorang pembeli itu pergi dengan membawa tangan kosong.
"Ema.. Bapak.. Syafira tidak sendirian kesini. Syafira datang kesini sama mereka" ucap Syafira sembari menunjuk kearah mobil mewah itu.
Pada saat itu Umi, Abi, dan juga Rey keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
"Ema.. Bapak.. Ini Umi Yani , Ini Abi Wira , dan Ini Kak Rey , seperti yang sering Syafira ceritakan sama Ema dan Bapak." Syafira mengenalkan mereka kepada kedua orang tuanya.
Mereka tersenyum ramah dan saling bersalaman.
"Ayo mari masuk..!" ajak Bu Suti kedalam rumah.
"Maaf ya, ini rumah kami memang jelek tak semewah rumah Ibu dan Bapak" kata Pak Burhan merendahkan diri.
"Ohh tidak Pak.. Bu.. Justru disini tempatnya nyaman tidak panas seperti ditempat kami." Jawab Abi Wira dengan ramah.
"Silahkan duduk..!" Pak Burhan mempersilahkan keluarga Abi Wira untuk duduk dikursi yang seadanya, tak semewah dirumah mereka. Sedangkan Ibu Suti pergi ke dapur menyajikan minuman untuk tamu istimewanya.
__ADS_1
Seketika suasana begitu hening .