
Rey tampak sangat tampan dengan jas hitam nya.
Namun ada sedikit keraguan dalam hatinya. Mengapa ia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Dan berapa lama ia harus menjalani pernikahan itu. Kapan tuhan akan mempersatukannya dengan wanita yang ia cintai yaitu Risa. Didepan semua keluarganya Rey memang tak pernah menunjukan semua itu, seakan dirinya memang mencintai Syafira. Semua itu Rey lakukan agar Umi bahagia.
"Rey.. Ayo..! Semua nya sudah menunggu nak" Ucap umi sembari menggandeng pengantin pria yang tampan tersebut.
Rey berjalan menuju keluar rumah. Tiba tiba ia teringat sesuatu . Seketika Rey berhenti berjalan.
"Ada apa Rey ?" Ucap Umi sembari menatap heran pada Rey.
"Tunggu Umi..!" Rey berbalik ke kamarnya dan mengambil jam tangan pemberian Risa. Rey mencium jam tangan itu . "Tunggu aku sayang..! semua ini hanya untuk sementara , kamu benar dengan jam tangan ini , aku akan selalu mengingatmu setiap waktu" . Rey segera bergegas menuju ke mobil bersama keluarga besarnya .
Sampailah mereka di sebuah desa yang asri dan sangat begitu indah pemandangannya . Rey dan keluarga besarnya tiba di rumah kecil Syafira.
Tampak janur kuning yang melintang dan hiasan hiasan yang indah dan sederhana . Keluarga Syafira menyambut kedatangan keluarga Rey dengan sangat gembira . Rey duduk disebuah kursi pelaminan dengan tata rias yang sederhana dengan didampingi Umi dan Abi.
Di samping Rey adalah tempat yang disiapkan untuk Syafira. Namun Syafira belum ada disana.
Jika biasanya orang yang akan menikah akan merasa sangat gugup , tidak pada Rey. Rey tampak rileks dan biasa saja. Yang ada dalam fikiran Rey hanyalah Risa.
Rey terus saja memandangi jam tangan pemberian Risa.
Umi menyenggol Rey "Rey lihat..!" ucap Umi sembari menunjuk ke arah dimana tanpa Rey sadar Syafira sedang berjalan menuju ke pelaminan .
Syafira begitu sangat cantik dengan balutan kebaya yang sangat indah. Sungguh Syafira sangat cantik. Bahkan jika dibandingkan dengan Risa , Syafira saat ini jauh lebih cantik.
Rey yang sedari tadi menunduk melihat jam tangan pemberian Risa kini bangkit . Rey tak mengerti ,tiba tiba saja Rey merasa gemetar saat melihat Syafira.
"Kalau aja kamu gak secantik ini , mana mungkin aku mau nikahin kamu Ra " ucap Rey dalam hati. Dirinya menjadi semakin bingung pada dirinya sendiri. Jika ia tak mencintai Syafira , kenapa ia merasa senang jika Syafira ada disampingnya.
Syafira duduk di samping Rey dengan sangat anggun. Tak banyak tamu undangan yang hadir karena memang sedang pandemi.
Wajah Rey Mulai memerah , jantungnya berdetak sangat kencang. Ini pertama kalinya ia seperti ini di depan Syafira. "tenang..tenang.. Rey !" ucap Rey dalam hati. Sesekali ia tersenyum pada Syafira agar kegugupannya tak terlihat oleh orang orang.
"ijab kobul nya dimulai sekarang ya..!" ucap penguhu.
"Baik pak "
"Saya nikahkan anda dengan Syafira............................. dibayar tunai."
Rey tampak berkeringat, saking gugupnya didepan pak penghulu. Syafira yang melihat itu hanya tersenyum senyum sendiri.
"Saya terima nikahnya Syafira................................."
" Bagaimana para saksi ? sah ?"
"sahhhh...!" ucap para saksi yang ada disana secara serentak.
__ADS_1
"Alhamdulilah"
Akhirnya kini mereka resmi menjadi suami istri. Umi dan Abi sangat bahagia .
Rey menarik nafas panjang.
Syafira menatap Rey dan memegang tangannya karena sedari tadi Rey tak bicara sedikitpun padanya.
Rey menatap wajah Syafira yang tampak meneteskan air mata bahagia.
Rey memeluk Syafira , karena ia merasa kasihan padanya. Kenapa dirinya harus permainkan Syafira seperti ini. Tak terasa air matanya jatuh . Entah kenapa ia seolah merasakan , bagaimana jika ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi . Pasti saja hidup Syafira akan sangat hancur. "jangan menangis sayang !" ucap Rey sembari menghapus air mata Syafira.
Syafira tersenyum pada Rey ."ini air mata bahagia" ucap Syafira.
Mendengar perkataan Syafira , Rey semakin merasa sedih . Ia kembali meneteskan air mata , bahkan lebih deras.
"kenapa semua ini harus terjadi sama kamu Ra..?" ucap Rey dalam hati.
"Kak Rey kenapa nangis..?" tanya Syafira.
"Ini juga air mata bahagia " jawab Rey sembari mencium kening Syafira.
"aku mungkin menyayangimu Ra, tapi aku tidak mencintaimu. Maaf..!" ucap Rey dalam hati.
...****************...
Tangis haru bahagia tampak diwajah Bu Suti dan pak Burhan. Begitu juga dengan Syafira, ia terus saja menangis ketika kedua orang tua Syafira melepasnya untuk hidup bersama sang suami.
Syafira hanya berdua dengan Rey dalam satu mobil.
Rey melajukan mobilnya ke arah yang Syafira tidak ketahui . Syafirapun merasa heran mengapa jalannya berbeda, bukan ke arah rumah Umi dan Abi.
"Kak kok kita kesini sih ? Ini kan bukan jalan ke rumah kamu." Tanya Syafira sembari mengerutkan dahinya.
"Itu rumah Umi dan Abi , bukan rumah aku." Jawab Rey dengan singkat.
"Lalu..?" lagi lagi Syafira merasa semakin heran . Sebenarnya apa rencana Rey.
"yaa.. Kita pulang ke rumah kita lah."
"Maksudnya ?"
"Udah kita lihat aja nanti."
Tibalah mereka di sebuah rumah yang tak kalah mewahnya dengan rumah Umi dan Abi.
Syafira merasa bingung kenapa Rey membawanya kesini. "kak kenapa kita kesini ? Emangnya ini rumah siapa ?"
__ADS_1
"Ini rumah kita. Sebenernya dari dulu aku udah punya rumah sendiri. Cuman aku disini sendirin di rumah sebesar ini , kan gak enak , jadinya aku tinggal sama Umi dan Abi." Ungkap Rey.
"Dulu ada pembantu di rumah ini . Tapi sekarang , aku udah punya istri , jadi aku mau kamu yang mengurus semuanya ya..!" sambung Rey.
"Dengan senang hati aku akan melalukan tugasku kak" ucap Syafira sembari tersenyum.
"Bagus kalau begitu."
Mereka pergi ke kamar untuk beristirahat setelah kelelahan diperjalanan. Tak ada malam pertama atau kemesraan lainnya.
Sekilas tak ada yang aneh bagi Syafira . Mungkin karena dirinya terlalu polos .
Pagi pagi Syafira bangun , lalu membereskan rumah . Setelah selesai Syafira lanjut ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Tampak Rey turun dari tangga dan sudah siap untuk berangkat kuliah.
"Kak ini sarapannya sudah siap !"
"Aku sarapan diluar aja " jawab Rey dengan singkat sembari berjalan menuju garasi mobil.
"Aku ada urusan" sambungnya sambil membuka pintu mobil.
"Aku berangkat sama siapa kak ?"
"Naik angkot..!"
Syafira menurut saja dengan apa yang dikatakan Rey. Hari semakin siang dirinya kini belum bersiap siap untuk pergi kuliah . Belum lagi harus menunggu angkutan umum. Hampir saja ia kesiangan , untung saja pelajaran masih belum di mulai tetapi dosennya sudah berada di kelas.
"Maaf bu saya kesiangan"
"Gak apa apa , pelajaran baru mau dimulai sekarang." Jawab dosen wanita itu.
Untung saja dosennya berbaik hati , mengizinkannya untuk mengikuti pelajaran.
Tak terasa bel istirahat berbunyi.
"Hey Syafira ! Lo pasti kesiangan gara gara semalam ya ?" ucap Via meledeknya.
"Semalam ?" ucap Syafira dengan heran sambil mengerutkan dahi.
"Halahh gak usah pura pura deh !" Ledek Rumi sembari menyenggol Syafira.
"Maksudnya ?"
"Malam pertama " bisik via .
"Malam pertama apa ?" lagi lagi Syafira tak memgerti apa yang dikatakan Via dan Rumi.
__ADS_1