AGATHA

AGATHA
2


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Agatha masuk sekolah. Kakaknya benar, Agatha langsung masuk ke kelas sebelas. Kini, ia sedang menyusuri koridor untuk mencari letak kelasnya.


"Widiiih! Cantik banget, tuh!" celetuk salah satu siswa yang melihat Agatha berjalan dari kejauhan.


"Iya. Sejak kapan sekolah kita ngundang artis?" ujar teman dari lelaki itu. Sedetik kemudian, mereka bersiul ketika Agatha melewati mereka.


"Neng cantik mau kemana?" goda salah satu dari mereka. Namun, Agatha sama sekali tidak merespon. Ia hanya melemparkan tatapan tajamnya pada cowok itu.


"*****, cuek amat!"


Agatha berhenti di depan ruang guru. Ia menyerah karena tidak bisa menemukan dimana kelasnya. Agatha ingin bertanya pada salah satu guru yang lewat.


"Permisi, bu, "


"Iya, ada apa?"


"Saya anak baru disini. Saya nggak tau letak kelas saya dimana, "


"Oh, kamu kelas apa?"


"Sebelas IPA satu, "


"Ayo, ikut saya. Biar saya tunjukin kelas kamu dimana, " ajak guru perempuan itu. Agatha langsung mengikuti langkahnya. Sampai ia tiba di satu kelas. Mungkin ini kelas gue, pikirnya.


"Nah, ini kelasnya. Yuk, masuk!" Guru perempuan itu kembali mengajak Agatha. Agatha bisa mendengar suara-suara gaduh di dalamnya. Sepertinya kelas ini sedang free class.


Ketika pintu dibuka, suara gaduh itu mendadak senyap. Hanya terdengar dentingan jam dinding. Semua pandangan mengarah ke Agatha. Mungkin mereka bisa menebak kalau Agatha ini anak baru.


Bu Widya---guru yang mengantar Agatha ke kelasnya--- memasuki kelas. Saat guru itu memasuki kelas, semua murid di sana langsung berdiri dan mengucapkan salam.


"Selamat pagi, Bu!" ucap mereka.


"Selamat pagi semuanya. Silahkan duduk!" perintah Bu Widya. Setelah semua murid nya duduk, guru itu kembali buka suara.


"Anak-anak, disini Ibu bawa teman baru buat kalian. Nah, kamu silahkan perkenalkan diri kamu, " ucapnya pada Agatha yang hanya dibalas anggukan singkat.


Agatha menghela napasnya dan berkata, "Hola a todos! Mi nombre es Agatha. Me mudé de España a Indonesia. Espero que te sientas cómodo con mi actitud (Hai semuanya! Nama saya Agatha. Saya pindah dari Spanyol ke Indonesia. Saya harap Anda merasa nyaman dengan sikap saya), "


Seisi kelas dibuat ternganga dengan bahasa Agatha. Bahkan, Bu Widya juga membuka setengah mulutnya. Agatha sendiri lupa kalau ia sedang berada di Indonesia. Dengan refleks, ia menepuk dahi nya.


"Maaf, Bu! Saya lupa, "


Agatha berdehem sebelum memulai lagi acara perkenalannya.


"Hai, semua! Perkenalkan nama saya Agatha. Saya pindah dari Spanyol ke Indonesia. Semoga kalian bisa menerima saya dengan semua sifat saya, " ucap Agatha yang sama sekali tidak menunjukkan senyumnya.


Ada satu anak cowok yang mengangkat tangannya. Agatha melihat kearah cowok itu dengan tatapan datar.


"Itu tadi bahasa kecoa, ya?" tanyanya yang langsung mengundang gelak tawa satu kelas. Satu kelas tertawa riang, kecuali Agatha. Ia hanya membuang mukanya ke samping. Bahasa gitu aja nggak tau! pikirnya.


"Samuel, diem! Kamu ini ada anak baru malah diketawain, " Bu Widya memarahi Samuel, cowok yang tadi mengatakan kalau bahasa Spanyol itu bahasa kecoa.


"Saya nggak ketawa, Bu. Saya, kan, cuman nanya, "


"Udah, kamu diem! Bisanya cuman berisik, "


"Iya, Bu, " Akhirnya anak itu diam.


"Emm, Agatha, kamu duduk di bangku dua dari belakang itu, ya? Kebetulan di sana ada yang kosong satu, " kata Bu Widya setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Guru itu menunjuk ke salah satu meja yang hanya diisi oleh satu siswi. Karena merasa ditunjuk, siswi itu langsung menatap Bu Widya dan Agatha.

__ADS_1


"Sama saya, Bu?" tanya siswi itu.


"Iya. Sama siapa lagi kalau nggak sama kamu?"


"Yeay! Akhirnya gue punya temen sebangku lagi, Ya Allah, " ucap gadis itu dengan penuh rasa syukur.


"Ya udah, silahkan, Agatha!"


Agatha berjalan menuju bangku yang kosong. Setibanya di bangku itu, dia bisa melihat keceriaan di wajah gadis yang akan menjadi teman sebangkunya. Agatha menaruh tasnya dan mendaratkan pantatnya tepat di atas kursi.


"Hai, " sapa gadis itu sembari mengulurkan tangannya. Sepertinya ia ingin berkenalan dengan Agatha.


Agatha hanya melirik kearahnya tanpa berniat membalas uluran tangan gadis itu. Perlahan gadis itu menarik uluran tangannya dengan kecewa. Tapi, sedetik kemudian...


"Hai, nama gue Moza. Lo siapa?" tanya nya yang langsung kembali dengan wajah ceria.


"Tadi nggak denger nama gue siapa?" Agatha malah bertanya dengan jutek nya.


"Ya ... denger, sih. Kan cuma buat basa-basi doang, "


"Gue nggak suka basa-basi, "


"Ya udah, sih, tinggal jawab apa susahnya? Judes amat, sih?!" gerutu Moza dengan suara kecil. Ia takut kalau Agatha akan mendengarnya. Tapi, indera pendengaran Agatha sangat kuat. Ia mampu mendengar Moza, teman sebangkunya sedang menggerutu.


"Apa lo bilang?" tanya Agatha dengan suara lirih.


"Eng--enggak, " jawab Moza terbata-bata.


Dua jam telah berlalu. Pelajaran kimia tadi berjalan dengan cepat. Kini sudah saatnya istirahat. Ada yang ingin makan di kantin, ada juga yang memakan bekal makan siangnya di kelas.


Tadi, Bu Widya meminta Moza untuk menunjukkan seluruh penjuru sekolah pada Agatha. Awalnya Moza menolak, tapi Bu Widya mengancam Moza sehingga gadis itu mau menurutinya. Entah ancaman seperti apa yang diberikan pada Moza.


"Nah, Tha, ini tempat kantin. Tempatnya deket sama koperasi siswa, deket juga sama ruang BK. Nanti, kalo lo kepo sama anak yang dihukum di BK, lo liat aja dari kantin. Nggak bakal ketahuan guru, kok! Ngeliatnya juga lumayan jelas. Lo bisa tau mereka dihukum apa aja sama guru, " jelas Moza yang masih setia berdiri di samping Agatha sambil menunjukkan tempat-tempat yang ia sebutkan tadi.


"Gue bukan tipe orang yang kepo sama urusan orang lain, " Lagi dan lagi, Agatha berbicara dengan jutek+judes+ketus+cuek. Hal itu membuat Moza menghela napasnya dengan kasar. Ia tidak pernah kepikiran kalau ada manusia seperti Agatha.


"Iya, deh, iya, " Moza sudah frustasi. Ia melanjutkan langkahnya diikuti Agatha disampingnya.


"Toilet mana?" tanya Agatha.


"Toilet cowok apa cewek?" Bukannya menjawab, Moza malah melemparkan pertanyaan yang receh.


"Gue itu cowok apa cewek, sih?!"


"Cewek, "


"Itu artinya gue nanya dimana tempat toilet cewek! Ngapain lo pake nanya toilet cewek apa cowok, sih?!"


"Iya-iya. Jangan ngegas, dong! Dari tadi kalo ngomong ngegas mulu, "


Agatha dan Moza kembali melanjutkan langkah mereka. Tiba-tiba Moza berhenti saat melihat ada segerombolan cewek yang menghadang mereka.


"Duit?!" ucap salah satu dari mereka sambil mengulurkan tangannya, membuat gerakan meminta uang pada Moza.


"Enggak ada. Uangnya abis buat bayar kas kelas, " jawab Moza.


"Boong, lo! Mana duit lo?!" bentak cewek itu. Cewek dengan rambut yang sedikit di semir itu maju selangkah menghadap Moza.


"Gue bilang nggak ada! Emang uang lo tadi pagi masih kurang?!" tanya Moza dengan emosi yang akan memuncak.

__ADS_1


"Ya kurang lah! Kalo nggak kurang, mana mau gue minta uang sama lo?!"


"Dasar gak tau diri?!?!" hardik Moza pada gadis itu. Gadis di hadapannya itu benar-benar menguras emosinya.


Plakkk


Dengan tidak sopan, gadis itu langsung menampar Moza. Membuat pipi yang tertampar itu berdenyut kencang, warna pipi kiri nya Moza pun sudah berubah sedikit memerah.


"Woy! Maksud lo apa nampar temen gue?!" Agatha mendorong keras bahu gadis yang menampar Moza. Bahkan gadis itu akan terjatuh di lantai jika tidak ditahan oleh teman-temannya.


"Lo sendiri ngapain dorong-dorong gue?!"


"Metta, ini uang buat lo. Jangan gangguin gue sama temen gue, " ucap Moza pada Metta---gadis yang bersikap tidak sopan pada Moza--- setelah memberikan selembar uang lima ribu pada gadis kurang ajar itu. Sebenarnya hanya itu sisa uang milik Moza hari ini. Karena diberikan pada Metta, Moza pun sudah tak punya uang untuk hari ini.


"Lima ribu doang? Buat jajan gue juga kurang kali!"


"Gue udah nggak ada uang lagi, Met! Uang gue cuma tinggal lima ribu itu, "


"Ya udah lah, ya. Yang penting gue ada tambahan uang. Sekalipun cuma lima ribu. Dasar miskin!" hardik Metta sambil melangkah sombong meninggalkan Moza. Dibelakang Metta, ada empat temannya yang mengikuti Metta.


"Itu tadi senior?" tanya Agatha to the point pada Moza.


Moza menggeleng, "Bukan. Dia adik kelas kita, "


"Adik kelas?! Masih kelas sepuluh aja udah belagu. Lo juga, sama adik kelas aja takut!"


"Udahlah, Tha. Gue kasih tunjuk toilet ceweknya, ya?" ajak Moza yang dibalas anggukan oleh Agatha. Kini, mereka berdua sedang berjalan menuju keberadaan toilet cewek.


Setibanya di depan toilet cewek, Agatha hendak masuk ke dalamnya. Sebelum masuk ke toilet, Agatha menengok ke belakang dan mendapati figur Moza sedang berdiri sambil tersenyum kearahnya.


"Ngapain lo disitu?" tanyanya pada Moza yang berdiri di belakangnya. Tak lupa, Agatha selalu memasang wajah juteknya.


"Nungguin lo sampe lo selesai memenuhi panggilan alam, "


"Bu Widya itu nyuruh lo buat nunjukin semua tempat di sekolah ini, bukan nyuruh lo buat nungguin gue di toilet!"


Moza berdecak kesal, "Ck, iya-iya, gue ke kelas, "


Setelah Moza pergi, barulah Agatha memasuki toilet. Jika Agatha ditanya apakah ia ingin tahu mengapa Moza mau memberikan uangnya pada Metta, tentu saja jawabannya tidak. Seperti yang Agatha tadi bilang, ia bukanlah tipe orang yang selalu kepo dengan urusan orang lain.


🌷🌷🌷


Holaaa👋🏻


Disini aku mau nunjukin foto Agatha, Moza, Clara, dan Metta


Ini Agatha 👇🏻



Ini Moza 👇🏻



Ini Clara 👇🏻



Ini Metta yang kurang ajar 👇🏻

__ADS_1



__ADS_2