AGATHA

AGATHA
6


__ADS_3

Hari kedua sekolah sudah dimulai. Agatha berjalan menyusuri koridor. Seperti biasa, Agatha berjalan tanpa ekspresi.


Agatha berhenti ketika ada seseorang yang lebih tinggi darinya menghadang jalannya. Agatha menggerakkan kakinya ke kiri, tapi cowok itu juga mengikutinya. Agatha ke kanan, cowok itu juga ikut.


Agatha berdecak sebal, lalu membentak cowok yang menghadang jalannya, "Ngapain, sih?!"


Samuel mengerjapkan matanya berkali-kali karena takjub dengan mata elang milik Agatha. Bukannya merasa takut, Samuel malah membalas tatapan Agatha dengan senyuman yang lebar.


"Hai, Tha! Ketemu lagi sama gue, " ucap Samuel.


Agatha memutar bola matanya jengah. Lalu ia berjalan dengan kasar, bahkan ia sempat menabrak bahu Samuel. Hal itu membuat Samuel mengejarnya. Samuel berusaha untuk mengimbangi langkahnya dengan Agatha.


"Gue bareng ke kelas, ya, Tha, "


"Nggak. Gue mau ke kelas sendiri, "


"Lah, kenap--" Belum selesai Samuel bertanya, Agatha langsung berlari meninggalkannya. Samuel kira Agatha akan berlari menuju kelasnya yang ada di belokan. Tapi, perkiraannya salah ketika mendapati Agatha berlari ke kerumunan siswa. Samuel mengikutinya.


"MINGGIR!!!" titah Agatha yang langsung membelah kerumunan itu. Ia melihat ada dua perempuan yang sedang bertengkar. Agatha melangkah menuju dua perempuan itu. Ia mengenal keduanya.


"Lo apain Moza, hah?!" tanya Agatha sedikit membentak pada Metta.


"Gue cuma minta duit ke dia. Salah?" Metta malah bertanya, atau lebih tepatnya sedang menantang Agatha.


"Salah!"


"Terus apa urusannya sama lo?!" bentak Metta tepat dihadapan Agatha.


"Ini jelas ada urusannya sama gue, karena lo malak duit temen gue!!!"


"Gue nggak malak duit temen lo. Gue cuma minta duitnya, "


"Cara lo minta duit ke Moza itu lebih mirip sama preman pasar, bego!"


"Maksud lo apa ngatain gue bego?!" bentak Metta sambil mendorong kedua bahu Agatha.


"Ya emang lo itu BEGO! Orang bego nggak mau dibilang bego! Dasar bego kuadrat!"


"IIIIIHHHH!" Dengan secepat kilat, Metta langsung menjambak rambut Agatha. Ia tidak mempedulikan apakah Agatha ini kakak kelasnya atau bukan. Karena tidak terima, Agatha membalas perlakuan Metta. Ia menarik-narik rambut hitam legam milik Metta.


Pertarungan semakin sengit. Tidak ada yang bisa melerai. Kedua cewek itu terlihat sangat kuat. Mereka saling menjambak rambut satu sama lain. Hingga seorang guru gendut yang ditebak berasal dari ruang BK datang melerai mereka, dan kini guru itu menjewer telinga Agatha dan Metta, lalu menyeretnya masuk ke ruang BK.


"Kalian ngapain, sih, pagi-pagi berantem?" tanya guru itu ketika Agatha dan Metta sudah duduk anteng dihadapannya.


"Dia yang gangguin saya, Bu, " Metta mengadu.


"Dia yang jambak rambut saya dulu, Bu. Lagian saya juga nggak gangguin dia, "


"Lo gangguin gue, "


"Nggak. Gue nggak gangguin lo, gue cuma nolongin Moza dari lo. Gue nggak mau dia jadi korban pemalakan lo lagi, "


"Gue nggak pernah malakin Moza!!" seru Metta.


"Tunggu-tunggu. Malak? Ada yang bisa jelasin ada masalah apa disini?" Bu Arini, guru BK yang saat ini sedang bertanya pada Agatha dan Metta.

__ADS_1


Dengan cepat, Agatha langsung mengangkat tangan kanannya. Ia takkan memberi kesempatan pada Metta untuk menjelaskan pada Bu Arini, karena Agatha tau kalau Metta pasti akan mengada-ada.


"Silahkan, Agatha, " ujar Bu Arini.


"Tadi pagi saya melihat kerumunan siswa di koridor, Bu. Terus saya samperin, dan ternyata di sana ada Metta sama Moza. Metta lagi malak Moza. Dia minta uang secara paksa. Dan anehnya lagi, nggak ada yang bantuin Moza. Mereka cuma diem dan nonton. Sampai akhirnya saya yang menengahi mereka. Dan tiba-tiba, Metta menjambak rambut saya dengan kuat, Bu. Saya nggak terima, dong, kalo rambut saya dijambak. Ya udah, saya jambak balik aja. Toh sama-sama dirugikan, kan?" jelas Agatha panjang lebar. Mungkin ini akan menjadi rekor pertamanya berbicara sepanjang itu.


"Saya jambak dia karena ada alasannya, Bu, "


"Alasannya apa?"


"Dia ngatain saya bego. Saya juga nggak terima lah dia ngatain saya bego, "


"Emang lo bego, " sahut Agatha.


"Gue nggak bego, ya. Jaga omongan lo itu!"


"Ogah, "


"Kalo lo nggak mau berhenti ngatain gue bego, gue bakal kasih tau ke pacar gue kalo lo udah ngatain gue yang enggak-enggak, "


"Siapa, sih, pacar lo? Anak presiden?"


"Pacar gue itu ketua geng di sekolah ini, " jawab Metta dengan menekankan kata 'ketua geng'


"Aelah, cuma ketua geng doang. Gue kira anaknya Donald Trump, " ucap Agatha sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan malas.


"Gue yakin lo nggak bakal bisa hidup tenang setelah berurusan sama pacar gue, " Lagi-lagi Metta mengancam.


"Kalian ini ngomongin apaan, sih?" tanya Bu Arini.


Tanpa menjawab pertanyaan itu, Agatha langsung berdiri meninggalkan ruangan. Baru saja ia melangkah keluar ruangan, tangannya sudah dicekal oleh Metta.


"Gue bakal aduin lo ke pacar gue, "


"Silahkan, gue nggak keberatan, kok!"


"Oke. Kalo gitu, gue bakal minta sama pacar gue buat datengin lo di kelas lo, "


"Nggak usah. Gue aja yang nyamperin pacar lo. Di lapangan belakang, nanti waktu istirahat, " Setelah mengatakan itu, Agatha langsung melengos pergi. Dibelakangnya, Metta menatap Agatha penuh dengan kebencian. Tangan Metta mengepal. Sejak saat itu, ia bercita-cita untuk balas dendam pada Agatha.


🌷🌷🌷


Sesuai janjinya, Agatha berjalan menuju lapangan belakang. Ia berjalan sendirian. Sesampainya di lapangan belakang, ia mengedarkan pandangannya pada seluruh sudut lapangan. Matanya terbidik pada satu sudut yang dipenuhi oleh laki-laki. Di sana ada sekumpulan laki-laki. Ada yang sedang main handphone, bergurau, bahkan ada yang sedang merokok. Mungkin itu geng sekolah yang dimaksud oleh Metta.


Dengan penuh keberanian, Agatha berjalan menghampiri tempat itu. Saat dirinya berhenti tepat dihadapan mereka, murid laki-laki itu langsung menatap Agatha dengan ekspresi bingung.


"Baru aja ngomongin cewek cakep, eh ternyata dateng yang lebih cakep, " Suara itu terdengar meskipun samar-samar.


"Hai, Neng! Eneng namanya siapa?" tanya salah seorang cowok. Di jari telunjuk dan jari tengah cowok itu mengapit sebuah puntung rokok yang masih menyala.


"Mana ketua geng ini?" tanya Agatha. Ia lebih suka to the point daripada harus berbelit-belit. Ia bahkan mengabaikan cowok yang bertanya tentang namanya.


"Widihhh! Alan beruntung banget, ya, bisa disamperin sama bidadari, "


Agatha langsung menatap tajam kearah cowok yang baru saja mengatakan bahwa dia ini bidadari.

__ADS_1


"Anjay, matanya tajem banget, Mbak? Sering diasah, ya?" tanya cowok tadi yang langsung mengundang tawa teman-temannya.


"Gue tanya mana ketua geng nya?!" Agatha sedikit membentak karena kesabarannya sudah mulai habis.


"Gue ketua geng disini, " seorang cowok berdiri sambil memasukkan tangan kanannya kedalam saku celana. Seragamnya keluar dari celana, dua kancing atasnya juga terbuka, tak mengenakan sabuk dan dasi, serta rambutnya sedikit acak-acakan. Namun, aroma citrus cowok itu yang terkesan maskulin.


"Ada urusan apa nyariin gue?"


"Bilangin sama cewek lo itu, jangan suka malak orang lain. Dia itu hobi malakin Moza, temen gue, " jawab Agatha. Ia hendak berbalik meninggalkan tempat, tapi sebuah tangan besar hinggap di lengan tangannya yang lebih kecil.


"Lo nggak bisa bilang sama Metta sendiri?"


Agatha tertawa meremehkan, "Sebenarnya, sih, bisa. Tapi gue nggak mau berurusan sama cewek lo yang bego itu, "


"Maksud lo apa ngatain cewek gue bego?"


Lagi-lagi Agatha tertawa meremehkan, "Ternyata kalian berdua sama-sama bego, ya. Perfect couple banget, "


"Maksud lo apa, sih? Gue nggak ngerti, "


"Bukan urusan gue kalo lo nggak paham. Yang penting, urusan gue udah selesai. Gue udah ngasih tau lo tentang sikap cewek lo itu. Jadi, gue pergi dulu. Oh iya, jangan lupa bilangin ke Metta, jangan suka berlindung dibalik ketek pacarnya, "


Agatha berjalan menjauh dari lapangan. Sedangkan Alan--ketua geng-- kembali duduk di tempatnya.


"Tuh cewek fans lo, ya?" tanya Erick, salah satu anggota geng itu.


"Bukan. Kayaknya dia itu hatersnya Metta, "


"Masa, sih? Tau darimana lo?"


"Tadi dia bilang kalo Metta itu malakin Moza, "


"Moza? Moza, kan, yang sekelas sama Samuel itu, kan?" Teddy mengarahkan pandangannya kearah Samuel yang tengah duduk-duduk santai.


Merasa diperhatikan, Samuel menoleh ke Teddy. "Apaan?"


"Lo sekelas sama Moza, Sam?" tanya Alan.


"Iya. Oh iya, kalian tau cewek yang tadi?"


"Tau. Kenapa?"


"Itu cewek yang gue suka, Bro, " jawab Samuel. Semua yang mendengar jawaban itu langsung membulatkan mata mereka masing-masing.


"Yang bener lo, Sam?" tanya Alan memastikan.


Samuel mengangguk mantap dan berkata, "Iya. Cantik, nggak?"


"Cantik, sih, iya. Judesnya juga iya, " jawab Alan.


Samuel hanya mengeluarkan cengiran khasnya.


"Nggak ada cewek lain yang bisa bikin lo jatuh cinta apa?"


"Gue juga nggak tau kenapa gue bisa suka sama Agatha. Tapi, dia itu beda sama yang lain. Disaat semua cewek ngemis-ngemis biar bisa jadian sama gue, lah dia malah nyuekin gue. Dia itu aneh, tapi gue bisa cinta sama dia. Dan gue rasa, gue harus merjuangin dia. Rasanya, tuh, gue pingiiiin banget bisa jadian sama Agatha, "

__ADS_1


"Agatha? Cewek tadi namanya Agatha?" tanya Alan.


"Iya. Savina Agatha, " jawab Samuel yang langsung tersenyum mengingat nama Agatha.


__ADS_2