
Saat ini bel pulang baru saja berkumandang. Satu hari di sekolah baru telah berhasil Agatha jalani. Ia bertemu dengan Moza, teman sebangkunya yang memiliki sifat yang bertolak belakang dengan dirinya. Agatha cuek, sedangkan Moza itu cerewet. Agatha jutek, Moza ceria. Agatha itu nggak terlalu aktif, Moza malah hiperaktif.
Agatha berdiri didepan gerbang sekolah yang terbuka lebar. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Kakaknya yang tak kunjung menjemputnya.
Suara motor terdengar dari belakang Agatha. Motor itu berhenti tepat di sebelahnya. Orang yang menduduki itu menatap Agatha dari samping dengan lekat-lekat. Memang Agatha sudah merasa kalau ia sedang diperhatikan dari samping, tapi Agatha memilih untuk mengabaikannya. Toh, mungkin cuma cowok iseng yang ingin menjahili Agatha.
"Hai, Tha!" sapa cowok itu. Agatha refleks menoleh saat cowok itu menyebut nama belakangnya. Dia tau nama gue?, tanyanya dalam hati. Perlahan cowok itu membuka helm nya. Memperlihatkan wajah manis yang sangat memesona. Tapi, pesona nya itu tidak berlaku bagi seorang Savina Agatha.
"Kok nggak dibales, sih, sapaan gue?" tanya cowok itu.
"Nggak penting, " jawab Agatha sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
"Kalo bahasa kecoa penting, nggak?" tanya cowok yang masih bertengger di motornya. Pertanyaan itu membuat Agatha menoleh. Sejenak Agatha menatap cowok itu. Sepertinya dia pernah melihatnya. Tapi dimana dan siapa?
"Kalo lo nggak tau bahasa Spanyol, mending diem. Daripada ngatain bahasa orang, nggak baik!"
Cowok itu masih menatap Agatha. Satu alisnya terangkat. Lalu, ia bertanya, "Lo nggak ada niatan buat nanya nama gue siapa?"
"Nggak, "
"Kenapa? Kok nggak kepo sama nama gue?" tanya cowok itu lagi.
"Gue bukan orang yang kepo, " jawab Agatha masih dengan jurus judes andalannya.
"Ya udah lah, kalo gue nungguin lo buat nanya siapa nama gue, pasti kelamaan. Jadi, biarin gue kenalin diri gue sendiri. Oke?" ujar cowok itu.
Cowok itu berdehem terlebih dahulu sebelum ia mulai membuka suara.
"Nama gue Samuel Abidzar, panggilannya Samuel. Gue lahir di Jakarta. Gue ulang tahun pada tanggal 3 Januari. Sekarang umur gue 17 tahun. Rumah gue ada di Perumahan Cempaka blok D no 4. Zodiak gue Capricorn. Warna favorit gue itu biru. Ukuran sepatu gue itu 42. Nilai Ujian Nasional gue waktu SMP itu lumayan bagus. Dan dulu waktu kelas sepuluh, gue pernah menjabat sebagai peringkat satu di kelas. Jadi, gimana? Udah kenal sama gue?"
"Nggak. Siapa juga yang mau kenalan sana lo?"
"Aelah, Tha, Tha. Gue udah jelasin panjang kali lebar kali tinggi dibagi dua dikali satu per tiga dikurangi negatif enam, tapi jawaban lo malah gitu? Sungguh teganya dirimu..muh...muhh..., " ucap Samuel dengan penuh dramatis. Sejak kapan cowok ini berlatih menjadi seorang aktor?
Daripada merespon cowok itu, Agatha lebih memilih untuk memalingkan wajahnya dan mencueki Samuel.
"Tha ... " panggil Samuel lagi.
__ADS_1
"Hmm?"
"Nungguin siapa, sih, lo?"
"Kakak, "
"Mana? Kok Kakak lo nggak ada?"
"Kakak gue kuliah. Gue lagi nunggu dia, dia bilang kalo dia bakal jemput gue pulang, " jawab Agatha masih dengan ekspresi datarnya.
"Kuliah? Dimana?"
"Universitas Tri Murti, "
"Sama kayak Kakak gue, dong, "
"Hmm, "
"Tapi, Kakak gue selalu pulang mendekati Maghrib. Kalo lo nungguin Kakak lo, yang ada lo nungguin nya sampe Maghrib. Emang mau?"
"Thanks udah ngasih tahu, " ucap Agatha tanpa ekspresi. Kemudian ia berjalan ke arah kiri. Kelihatannya, Agatha ingin menunggu angkot di sana.
"Lo mau kemana?" tanya Samuel yang sekarang sudah berhasil menyeimbangi langkah Agatha.
"Pulang, "
"Gue anter aja, ya?"
Agatha berhenti dan menoleh ke Samuel. Raut wajah Agatha seperti sedang mengintimidasi Samuel.
"Mau, nggak?" tanya Samuel lagi dengan kedua alisnya yang naik turun.
"Nggak, "
"Kenapa? Kan lebih enak pulang sama gue, lo bisa hemat biaya angkot, Tha, " bujuk Samuel.
Malas menanggapi Samuel, Agatha melanjutkan langkahnya. Ternyata Samuel masih mengikutinya. Hal itu membuat Agatha risih sendiri. Ia akhirnya berhenti dan menghadap Samuel yang sekarang juga ikut berhenti di belakangnya.
__ADS_1
"Ngapain, sih, ngikutin gue? Mau lo apa?!" tanya Agatha sedikit membentak.
"Gue mau lo naik motor gue dan gue boncengin lo sampe pulang. Itu kemauan gue saat ini, " jawab Samuel dengan santainya. Ia tidak mempedulikan Agatha yang sedang emosi.
"Gue pulang naik angkot. Jadi, sekarang lo pergi aja, "
"Ish, kok ngusir, sih? Nggak berperikemanusiaan banget, "
Agatha memutar kedua bola matanya jengah, lalu berkata, "Kalo lo nggak mau pergi, biar gue aja yang pergi, "
Agatha langsung berjalan meninggalkan Samuel. Ia tidak ingin berlama-lama dengan cowok gak jelas seperti Samuel itu.
🎠🎠ðŸŽ
"Assalamualaikum ... " ucap seseorang yang berada di balik pintu. Dengan cepat, Agatha langsung membukakan pintu untuk Kakaknya.
"Ternyata bener, ya, pulang mau Maghrib, "
"Kamu dikasih tahu siapa?" tanya Clara.
"Temen. Katanya kuliah di Tri Murti pulangnya mau Maghrib, " jawab Agatha sambil mendudukkan pantatnya di atas sofa mini.
"Siapa temen kamu? Kok dia tahu?"
"Kakaknya yang kuliah di sana, "
"Oh. Tha, tadi Kakak ketemu sama satu cewek seumuran Kakak. Dia orangnya cantik banget, "
"Oh ya? Namanya siapa?"
"Stella. Selain cantik, dia juga baik banget! Kakak beruntung tadi bisa ketemu sama dia, "
"By the way, kamu gimana di sekolah?" tanya Clara pada Agatha. Merasa ingin mendengar cerita adiknya, Clara mengambil toples yang berisi camilan kesukaannya.
"Apanya?"
"Ya kamu di sekolah. Gimana, udah dapet temen baru? Atau pacar baru?" goda Clara yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Agatha.
__ADS_1
"Aku ke kamar dulu. Ada tugas yang belum aku selesain, " ujar Agatha sambil berdiri lalu berjalan menuju kamarnya.
"Ya elah, gitu doang ngambek! Emosian banget, sih, punya adik?!"