AGATHA

AGATHA
5


__ADS_3

Agatha mengerjapkan matanya berkali kali. Ia baru saja sadar dari pingsannya. Dilihatnya seorang perempuan cantik yang sedang duduk di sebelahnya.


"Kak..." panggil Agatha dengan suara yang melemah. Agatha mengangkat tubuhnya dan bersandar pada dipan kasurnya.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun juga, Tha!" ucap syukur Clara sambil mengelus kaki Agatha dengan lembut.


"Aku pingsan berapa lama?"


Clara mengangkat kedua bahunya, tidak tahu. "Tadi Kakak nggak sempet liat jam, "


"Kepala kamu masih pusing, nggak?" tanya Clara yang dibalas gelengan oleh Agatha.


"Alhamdulillah, "


Clara mengambil sebuah obat pil, lalu ia berikan obat itu kepada Agatha. Tak lupa, ia juga menyerahkan segelas air putih pada Agatha.


"Minum obat dulu, ya?"


Lagi-lagi Agatha menggeleng. Ia tidak suka jika harus minum obat. Tadi ia cuma pingsan, kan?


"Minum, Tha! Suka banget, sih, dipaksa?"


"Agatha nggak mau. Lagian tadi Agatha cuma pingsan, Kak. Nggak usah lebay, deh, "


"Tha, kamu lupa atau gimana? Om Davin sama Tante Alice, tuh, bilang kalo kamu wajib minum obat ini setelah kamu pingsan karena banyak pikiran. Nih, minum!" Clara menuturkan, lalu kembali menyodorkan obat dan air putih itu ke Agatha. Dengan terpaksa, Agatha menerima obat itu. Ia meminum obat itu.


"Nah, gitu, dong!"


"Kak, kenapa, sih, aku harus selalu minum obat? Masa iya cuma pingsan gara-gara banyak pikiran aja harus minum obat? Aku nggak ada riwayat penyakit berbahaya, kan, Kak?" tanya Agatha yang langsung mendapat pelototan tajam dari Clara.


Clara menabok lengan Agatha dengan pelan, "Hush! Ngawur aja kamu kalo ngomong. Kamu itu nggak ada riwayat penyakit berbahaya. Kamu minum obat itu sebuah keharusan. Udah nggak bisa dibantah lagi, "


"Iya, Kak, aku tau. Tapi semua itu pasti ada alasannya, kan? Aku mau tau alasannya itu. Jarang-jarang, loh, aku bisa se kepo ini sama suatu hal, "


"Alasannya itu supaya kamu nggak tambah sakit. Udah, itu doang alasannya, " jawab Clara yang langsung berdiri dan meninggalkan Agatha sendirian di kamar.


Agatha pikir alasan yang dilontarkan oleh Clara itu sedikit aneh. Agatha juga tidak mengerti kenapa ia mendadak bisa kepo dengan hal ini.


🌷🌷🌷


"Sam...." Seorang perempuan yang mengenakan kaos navy dengan celana jeans selutut sedang mengetuk pintu kamar Samuel.


"Bentar-bentar, " jawab Samuel dari dalam kamarnya. Dua detik kemudian, terdengar suara benda jatuh di lantai, lalu terdengar juga suara cowok yang berteriak kesakitan.


Stella---kakak Samuel---mengerutkan dahinya.


Nih anak di dalem ngapain, sih? tanyanya dalam lubuk hati yang terdalam.

__ADS_1


Pintu terbuka dan memperlihatkan Samuel yang hanya mengenakan celana boxer. Dan saat ini cowok itu sedang telanjang dada, membuat six pack di tubuhnya terekspos begitu saja.


Stella membulatkan matanya. Ia memerhatikan seluruh tubuh Samuel.


"LO INI KENAPA NGGAK PAKE BAJU, HAH?!?!?!" bentak Stella yang sudah menutup kedua matanya. Tangannya terus memukul Samuel. Yang dipukul hanya berusaha untuk menghindar.


"Aduh, Kak, ampun! Ampun, Kak, ampun!" Samuel mengaduh kesakitan.


"Masuk ke kamar, ganti baju SEKARANG JUGA!"


"Iya-iya. Emang kenapa, sih? Salah, ya, kalo seorang kakak melihat adiknya yang telanjang dada?"


"GANTI BAJU SEKARANG, SAMUEL!"


Samuel langsung masuk kedalam kamarnya dengan tergesa-gesa. Ia tidak mau kalau tubuh indahnya harus dipukuli oleh Stella.


Beberapa menit setelahnya, Samuel keluar kamar. Ia sudah mengenakan kaus putih polos yang membuatnya makin..... tampan.


Stella menoleh kearah Samuel yang kini sedang menuruni tangga.


"Nah, gitu dong! Kan jadi makin ganteng, "


Samuel duduk di sofa dan mengeluh, "Kakak ngapain, sih, malam-malam gangguin Samuel aja, "


"Gue mau ngomong penting sama lo, " Wajah Stella berubah serius.


"Gue...suka sama cowok, " jawab Stella.


"Ya Allah, dikirain ngomong penting. Eh, ternyata cuma suka sama cowok, "


"Yeee... Suka sama cowok itu juga hal penting, ya!"


"Iyain biar fast, "


"Fast gimana? Lo mau gue fast dead, hah?!"


"Eh, nggak gitu. Maksud gue itu biar lo cepet jadian. Suudzon amat jadi orang, "


"Nggak yakin gue, "


"Terserah, mau lo yakin atau nggak, terserah!" ucap Samuel dengan penuh penekanan pada kata 'terserah'.


"Oh iya, Kak, kok kita samaan, ya?" pikir Samuel.


"Maksudnya?"


"Lo lagi suka sama cowok, nah gue juga suka sama satu cewek, "

__ADS_1


"Masa, sih? Emang ceweknya mau sama lo?" goda Stella yang langsung mendapati wajah buram adiknya.


"Kok lo tau, sih, Kak?"


Stella membulatkan matanya, tak percaya. Niatnya tadi hanya bercanda, tapi malah beneran.


"Ini beneran, Sam?"


"Iya. Dia itu cuek, jutek, judes, sikapnya dingin, selalu murung kalo di kelas, tatapannya tajem, jarang senyum, nyebelin, tapi cantik. Dan jarang banget ada cewek yang modelnya kayak dia, "


"Modelnya kayak dia gimana?"


"Ya..yang kayak gitu. Dia aja nggak minat kenalan sama gue. Apa gue kurang ganteng, ya?"


"Kalo menurut gue, sih, lo itu udah cukup ganteng. Mantan lo juga cantik-cantik, kan?"


Samuel mengangguk dan membenarkan fakta kalau mantannya memang cantik semua.


"Tapi kok dia nggak tertarik sama lo, ya?" tanya Stella.


"Tapi gue suka, sih, sama cewek kayak dia. Disaat semua cewek dengan sukarela jadi pacar gue, dia malah nggak mau kenalan sama gue. Dia itu aneh, tapi tetep istimewa di mata gue. Gue rasa ini bakal jadi tantangan baru buat gue, "


"Sam, gimana kalo kita bikin sebuah tantangan?"


"Tantangan apa?"


"Lo harus bisa dapetin cewek yang lo suka dalam waktu sebulan. Kalo lo gagal, lo harus beresin rumah selama dua bulan. Gimana? Setuju, nggak?"


"Lah, kok dua bulan? Lama amat?!"


"Biarin aja. Kan gue yang bikin tantangannya. Jangan protes, dong!"


Samuel menghela napasnya, lalu menjawab, "Oke, gue terima tantangan lo. Kalo gue berhasil, lo harus nembak cowok yang lo suka itu. Gimana? Setuju?"


Awalnya, Stella sedikit ragu. Bagaimana bisa cewek yang menembak cowok duluan? Nanti orang-orang pasti bilang kalau Stella itu murahan. Tapi, demi adiknya, Stella mau. Ia ingin agar Samuel bisa mendapatkan orang yang dicintainya. Stella tidak ingin kalau Samuel terus-terusan gagal move on dari mantannya.


"Oke, gue setuju, " jawab Stella. Lalu, mereka berdua saling berjabat tangan, pertanda bahwa tantangan sudah dimulai.


🌷🌷🌷


Ini Samuel yang gantengnya gak ketolongπŸ€­πŸ‘‡πŸ»



Ini Stella, Kakaknya Samuel sekaligus temen barunya Clara πŸ‘‡πŸ»


__ADS_1


__ADS_2