AGATHA

AGATHA
4


__ADS_3

Agatha membuka pintu showcase cooler, lalu mengambil lima kaleng minuman dingin. Saat ini, ia sedang berada di minimarket karena bosan berada di apartemen. Apalagi, kulkas di dapurnya tidak ada camilan atau minuman dingin. Akhirnya Agatha pamit ke minimarket dan ingin membeli beberapa camilan.


Agatha memasukkan minuman-minuman dingin tersebut ke keranjang yang dibawanya. Keranjang itupun sudah penuh oleh beberapa makanan ringan dan minuman dingin. Tak lupa, Agatha juga mengambil tisu dan memasukkannya ke keranjang. Setelah merasa bahwa belanjaannya cukup, Agatha berjalan menuju kasir. Seperti biasa, Agatha berjalan dengan ekspresi datar.


"Semuanya tujuh puluh lima ribu rupiah, Mbak, " ucap pramuniaga perempuan itu. Ia juga menyerahkan selembar struk kepada Agatha. Agatha membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar uang Rp. 100.000. Ia menyerahkan uang itu kepada sang pramuniaga.


Setelah menerima uang kembaliannya, Agatha berjalan menenteng sebuah kresek besar, menuju kearah mobilnya yang ada di parkiran minimarket. Tiba-tiba, senyumnya mengembang ketika melihat ada anak kecil yang meniup sebuah balon. Anak itu terlihat sangat lucu ketika pipinya menggembung saat meniup balon itu.


Dorr


Balon itu meletus dengan suara nyaring. Membuat semua yang ada di sekitarnya terkejut, termasuk Agatha. Bersamaan dengan meletusnya balon itu, dengan refleks Agatha langsung menutup kedua telinganya. Kantung kresek belanjaannya pun sudah jatuh berserakan di aspal. Agatha terjatuh dan menutup telinganya rapat-rapat. Seketika Agatha seperti orang gila. Ia berteriak sangat kencang membuat dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Aaaaaa!" pekik Agatha yang sekarang sudah terbaring di aspal. Napasnya memburu, ia sudah tak bisa dikendalikan. Kakinya menendang-nendang aspal dengan kuat.


Agatha terus menerus berteriak. Sayangnya, tidak ada yang membantu Agatha. Semua orang disekitarnya hanya melihat saja, ada juga yang mengarahkan ponselnya tepat pada Agatha. Namun, tiba-tiba ada seorang perempuan menghampiri Agatha dengan perasaan khawatir.


"Agatha!!" teriak cewek yang mengenakan baju overall jeans pendek dengan baju warna putih didalamnya. Cewek itu langsung berlari menghampiri Agatha


"Tha, lo kenapa?" tanyanya yang semakin khawatir ketika Agatha tak bisa dikendalikan. Ia merengkuh tubuh Agatha, lalu ia menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik Agatha.


"Tha? Lo kenapa, sih?" Masih tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah pundak Agatha yang bergetar seperti....orang ketakutan?


"Aduhhh! Malah nggak jawab. Ya udah, eee.. ini mobil lo, kan? Kita pergi dari sini, ya? Biar gue yang nyetir, " ucap Moza, teman sebangku Agatha. Ia lalu membantu Agatha agar ia bisa berdiri. Dibukakannya pintu mobil untuk Agatha. Moza sangat berhati-hati untuk mendudukkan Agatha di jok mobil itu. Setelah mendudukkan Agatha, ia membalik badan dan berjongkok untuk memunguti belanjaan Agatha. Kan sayang kalau dibuang!


Moza berlari kecil mengitari mobil Agatha, lalu duduk di kursi kemudi. Moza segera menyalakan mesin dan melajukan mobilnya. Suasana hening. Moza sedang fokus menyetir, sedangkan Agatha hanya diam tak bersuara. Bahkan penampilan Agatha sangatlah kacau.


"Tha? Are you okay?" tanya Moza dengan nada pelan. Sesekali ia melihat Agatha lewat ekor matanya.


Agatha diam. Masih seperti tadi. Tidak ada pertanyaan yang dijawab oleh Agatha.


Dia puasa bicara, ya? Tapi...kalo puasa bicara, kenapa tadi teriak-teriak? tanya Moza dalam hatinya.


"Tha? Hello?" Moza melambai-lambaikan tangannya tepat didepan muka Agatha.


Agatha diam. Dia bahkan hanya menatap kaca jendela mobil. Seperti ada yang sedang dipikirkan.


Moza menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia mengambil sebotol air mineral yang ada dalam kresek yang diambilnya tadi.


"Nih, minum dulu!" ujarnya sambil menyodorkan air mineral itu. Sementara Agatha hanya menoleh singkat lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Tha, ini minum dulu!"


"Nggak haus, " jawab Agatha singkat.


"Ya ampun, Tha! Tadi lo teriak-teriak kayak gitu, terus sekarang nggak haus? Kuat amat, lo!" cibir Moza.


"Nih, minum! Gue tau lo, tuh, haus. Udahlah, minum aja. Gengsi lo gede amat, sih?"


"Nggak, "


"Serah lo, Tha. Tadi lo bikin gue khawatir banget, terus sekarang lo bikin gue kesel. Nyebelin banget tau, gak?!" Moza mengeluh dengan wajahnya yang terlihat sangat ketus.


"Siapa juga yang nyuruh lo khawatir sama gue?!" tanya Agatha tak kalah ketus.


"Bodo amat, Tha, bodo amat!


Moza kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan tempat. Mobilnya membelah jalan dan sampailah di perempatan lampu merah. Moza memberhentikan mobilnya. Ia menoleh kearah Agatha.


"Rumah lo dimana, Tha?" tanya Moza.

__ADS_1


"Apartemen, " jawab Agatha tanpa ekspresi. Raut wajahnya begitu dingin.


"Apartemen mana, Cantik?!" Moza mulai tersulut emosi.


"Lo nyetir aja, nanti gue kasih tau arahnya, "


Moza menghela napasnya kasar, "Gimana lo mau ngasih tau arahnya? Dari tadi lo itu cuma diem, "


"Ikutin instruksi gue aja. Jangan banyak mulut!"


🌷🌷🌷


Agatha dan Moza berjalan memasuki rumahnya. Mereka masuk tanpa membawa apa-apa. Barang belanjaan Agatha memang sengaja ditinggal di mobil. Toh, itu mobil Agatha, kan?


"Assalamualaikum, " ucap Moza terlebih dahulu. Ia melongo kaget ketika Agatha langsung masuk tanpa mengucapkan salam. Nih anak muslim gak, sih? tanyanya dalam hati.


"Waalaikumsalam, " balas seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Loh, camilannya mana, Tha?" tanya Clara yang melihat tak ada kantung kresek di tangan Agatha.


"Di mobil, "


"Ini temen kamu, Tha?" Clara memerhatikan Moza dengan seksama.


"Iya, "


"Temen sekolah?"


"Iyalah, "


"Namanya siapa?" tanya Clara pada Moza yang terlihat kikuk.


"Moza, Tante, "


"Heh, itu kakak gue. Jangan dipanggil 'Tante'. Dia belum tua-tua amat, " sahut Agatha yang tak terima. Sebenarnya Clara juga tidak terima, tapi nggak mungkin, kan, kalo Clara akan memarahi teman adiknya itu.


"Eh, emm... Maaf, Kak, " ucap Moza yang mulai takut. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak. Dia takut kalau Clara akan bersikap seperti Agatha.


"Iya, nggak apa-apa, kok. Lagian kamu juga nggak tau, kan, kalo aku ini kakaknya Agatha, "


"Hehe, iya, Kak..." Moza menggantungkan kalimatnya. Ia tidak tahu nama kakaknya Agatha. Namanya siapa? Agithi? pikirnya.


"Clara, " ucap Clara yang sepertinya mengerti dengan pikiran Moza.


"Oh, iya, Kak Clara, "


"Sini, duduk dulu!" Clara menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, bermaksud untuk mempersilahkan Moza untuk duduk disampingnya. Moza mengangguk, lalu duduk di sebelah Clara. Sementara Agatha nyelonong masuk dalam kamarnya.


"Emm, Kak Clara sama Agatha itu pindah dari Spanyol, ya?" tanya Moza yang memecah keheningan.


"Iya, "


"Udah berapa lama tinggal disini?"


"Baru beberapa hari, Za. Kalo kamu sendiri, orang asli Jakarta?"


"Iya. Sejak kecil aku udah disini. Tapi, aku lahirnya nggak disini. Aku lahir di Surabaya, terus waktu aku umur enam tahun, Papa Mama ngajak pindah ke Jakarta, "


"Oh, gitu, "

__ADS_1


"Kak Clara dulu lahir dimana? Di Jakarta atau dimana?"


"Jakarta. Sama kayak Agatha, "


"Emm... Aku boleh kepo nggak?"


Clara terkekeh geli, "Boleh aja, "


"Kenapa Kak Clara sama Agatha pindah ke Spanyol?" pertanyaan itu membuat Clara bungkam. Wajah gembiranya lenyap.


"Kak? Kok ngelamun, sih?"


Ceklek


Salah satu pintu kamar terbuka dan menampilkan seorang gadis yang sedang memakai earphone dan memegang sebuah handphone bermerek Iphone.


Agatha berjalan keluar rumah. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa kantung kresek yang berisikan camilan yang tadinya ia beli di minimarket.


"Ini, Kak, camilannya, " ucap Agatha sembari meletakkan kresek itu di atas meja. Ia mengeluarkan semua isi kresek.


"Iya, " jawab Clara setelah lamunannya dibuyarkan oleh Agatha.


"Za, kamu mau?" Clara menyodorkan snack yang sudah terbuka pada Moza.


"Makasih, Kak, " Moza mengambil snack itu.


"Oh iya, Kak Clara tadi belum jawab pertanyaan aku, lho, " ucap Moza sambil memakan snack yang tadi disodorkan oleh Clara.


Clara diam. Ia masih tak menjawab.


"Tuh, kan, diem lagi, "


"Emm... Gimana, ya, Za? Bukannya nggak mau jawab, tapi aku udah agak lupa. Soalnya itu udah lama banget. Dari jaman aku SMP, aku udah pindah ke Spanyol. I'm sorry, " ucap Clara. Sebenarnya ia tidak benar-benar lupa, ia hanya tidak ingin untuk mengingat-ingat kejadian di masa lalu.


"Oh, ya udah lah. Nggak usah dipaksa kalo emang Kakak lupa, "


Agatha sedari tadi hanya diam mendengar pembicaraan Moza dan Kakaknya. Ia tidak tahu kemana arah pembicaraan mereka. Agatha sendiri juga tidak ingin tahu.


"Kalo Agatha? Lo bisa jawab pertanyaan gue, nggak?" Tiba-tiba, Moza melemparkan pertanyaan nya pada Agatha.


Agatha bingung. Pertanyaan mana yang dimaksud Moza? Agar pendengarannya lebih jelas, ia melepas earphone yang tertancap di kedua telinganya.


"Pertanyaan apa, sih?" tanya Agatha.


"Pertanyaan tadi, yang nggak bisa dijawab sama Kakak lo, "


Agatha menoleh kearah Clara. Raut wajah gadis yang sudah kuliah itu berubah drastis. Terselip kekhawatiran di wajah cantiknya. Agatha sendiri bingung. Pertanyaan macam apa yang membuat Kakaknya itu khawatir?


"Gue tadi nggak ikut ngobrol sama lo, bego!"


"Oh iya, lupa, " ucap Moza dengan cengiran khasnya.


"Gue tadi nanya ke Kakak lo, kenapa kalian pindah ke Spanyol?"


Agatha juga bungkam. Mulutnya terkunci rapat. Mendadak hatinya seperti akan retak. Perlahan, sebuah memori beberapa tahun yang lalu kembali muncul di otaknya. Bagaikan sebuah film, memori itu terus-menerus memutar dalam otaknya.


Kepala Agatha pusing. Semakin pusing ketika ia kembali teringat dengan kejadian dulu. Disaat Agatha kecil masih berada di Jakarta. Disaat ia dan Kakaknya belum pindah ke Spanyol.


Agatha sudah tidak kuat lagi. Ia memegangi kepalanya kuat-kuat, seakan menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Pandangannya kabur. Dan...

__ADS_1


Semuanya gelap.


Agatha pingsan!!


__ADS_2