Air Mata Alya

Air Mata Alya
episode 17


__ADS_3

"kita sudah sampai sayang" Revan


"kok gelap mas, kita dimana ini bukan di apartemen" Alya


"keluarlah kau akan tahu kita dimana" Revan


Alya pun keluar dari mobil, dia benar~benar terkejut melihat tempat yang dulu pernah ada kehidupan yang sangat bahagia. Tempat dimana dulu dia dan adik~adiknya dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Namun kebahagiaan itu hilang setelah orang yang sangat berarti di kehidupannya dan adiknya pergi untuk selamanya.


Alya membayangkan kehangatan keluarga yang dulu masih lengkap, namun sekarang berbeda setelah ketiadaan ayah dan ibu nya.


"mas, aku tidak sedang bermimpi kan mas" Alya menepuk~nepuk pipinya


"tidak sayang, ini rumah mu tempat kau dibesarkan ayah dan ibumu sayang" Revan


"terima kasih mas kau sudah mengajakku berjumpa kembali ke rumah ini" Alya menangis bahagia


"apa kau bahagia sayang" Revan


"aku sangat bahagia mas sangatlah bahagia" Alya memeluk Revan


"aku juga bahagia jika melihatmu bahagia, jadi jangan bersedih lagi karna itu membuat ku sakit sayang" Revan mencium kening Alya


"mama dan papa bahagia jika melihat kalian seperti ini terus sayang, "mama Revan


Mereka pun saling berpelukan, suasana haru itu berubah bahagia setelah pintu rumah Alya terbuka dan mendengar suara kakak.


"kakak" teriak Adit


"Adit sayang, kakak merindukanmu dek" Alya berlari dan memeluk Adit


"Adit juga rindu kakak" Adit


"kau baik~baik saja kan dek, kan Sinta dimana" Alya


"kak Sinta ada di dalam kak, kak Sinta sedang belajar dikamarnya" Adit


"kakak ingin bertemu kak Sinta, kita masuk ya. Oiya kenalkan ini kak Revan, ini mama Mala dan ini papa Nirwan mereka mertua kakak dan orang tua kak Revan kakak ipar mu sayang" ayo salaman dengan papa mama" Alya


"Adit om, Adit tante, Adit kakak ipar" Adit


"jangan panggil om dan tante panggil saja papa dan mama, kamu adiknya kak Alya jadi kamu anak kami juga sayang" mama Revan


"baik mama papa" Adit

__ADS_1


"kita masuk pa ma mas Revan, Dek panggil kak Sinta ya sayang" perintah Alya


"baik kak, Adit panggilkan" Adit


"maaf pa ma mas Revan, rumah Alya memang kecil dan sudah tua. Rumah ini sangat berarti buat kami rumah penuh kenangan dan salah satu peninggalan ibu dan ayah" ucap Alya


"mama bisa membayangkan betapa bahagianya keluarga ini dulu nak, pasti dengan kesederhanaan ini tidak mengurangi rasa bahagia dan kehangatan keluarga Alya kan" mama Revan


"betul ma, masa kecil kami sangat berkesan. Memanglah kami tidak punya banyak uang namun tak membuat kita jauh dari kebahagiaan" Alya


"sayang aku ingin melihatmu selalu bahagia, jadi jangan sampai kau bersedih ya" Revan


"iya mas" Alya tersenyum


"kak Alya" teriak Sinta berlari memeluk Alya


"Sinta merindukan kakak" imbuh Sinta


"kakak juga merindukanmu sayang merindukan kalian berdua" Alya memeluk kedua adik~adiknya itu


Mereka melepas kerinduan mereka, membuat keluarga Pratama pun terharu bahagia melihat mereka saling mengasihi.


Mereka pun saling bercerita, bercerita tentang masa kecil Alya dan adik-adiknya begitu pun mama Revan menceritakan masa kecil Revan dan Jenny.


"hari sudah malam rupanya, mari kita istirahat dan kita lanjutkan besok lagi" mama Revan


"sampai lupa waktu kita, sampai~sampai tak tahu hari sudah malam" Alya tertawa


"kita istirahat kita lanjutkan besok ceritanya" Revan


"selamat malam semua" Sinta dan Adit menuju kamar mereka masing~masing


"mama dan papa bisa tidur dikamar ayah dan ibu dulu, tidak apa~apa kan ma" Alya


"tidak apa~apa sayang, mama dan papa justru senang" mama Revan


"makasih ma, Alya sayang mama dan papa. Kamarnya sudah Alya bersihkan ma, ternyata Sinta selalu membersihkan kamar ayah dan ibu jadi tetap bersih" Alya


"adikmu sangat rajin nak, dia gadis gigih sepertimu sayang" mama Revan


"mama bisa saja, sebaiknya mama dan papa beristirahat lah" Alya


"selamat malam sayang" mama Revan

__ADS_1


"selamat malam juga ma pa" ucap Alya dan Revan bersamaan


Mama dan papa Revan pun masuk ke kamar dan beristirahat.


"aku tidur di mana sayang" Revan berbasa~basi


"ti..tidur di kamar aku lah mas, tapi inget ya mas" Alya berbisik ke Revan dan mengingatkannya


"iya Alya sayang" Revan


Mereka pun tidur satu kamar dan satu ranjang, namun Alya membelakangi Revan dan membatasi dengan guling di tengah~tengah mereka.


Sebenarnya Revan tadi sudah ber besar kepala mendengar Alya mengajaknya untuk tidur satu ranjang, namun sialnya Alya justru memberi peringatan dan batas wilayah tidur.


"aku kira kau akan memberiku kesempatan memelukmu dan memberikan hak itu padaku sayang" ucap Revan dalam hati


Alya tertidur nyenyak, namun Revan tidak dia masih saja memandangi Alya walau wajahnya membelakanginya. Ingin rasanya Revan memeluk Alya dan mengatakan dia mencintainya.


Namun Revan tidak berani bertindak, dia takut Alya membencinya. Jika Alya membencinya maka hati dan jiwanya akan hancur dia tidak sanggup dengan kebencian Alya.


Revan pun memutuskan keluar kamar dan duduk diteras rumah Alya. Dia menatap bintang~bintang dilangit malam, udara sejuk yang jarang di hirup Revan di kota B.


REVAN


"suasana hening udara yang sejuk, memanglah benar udara di desa memang masih bersih tidak berpolusi seperti di kota~kota. Pantas saja Alya selalu merindukan tempat ini, disini memang nyaman tidak bising dan cocok untuk melepas penat.


Ayah ibu inilah aku menantumu, aku mencintai anakmu dan sangat~sangat menyayanginya. Maafkan aku yang awalnya hanya memanfaatkan Alya untuk membalas sakit hatiku pada seseorang.


Namun akhirnya aku sadar bahwa aku sangat mencintai Alya anak ibu dan ayah. Ayah ibu Revan minta izin untuk mencintai dan menjaga Alya dengan sepenuh hati dan jiwa raga Revan.


Semoga ayah dan ibu bahagia disana, Revan mohon doa restunya atas pernikahan kami.


Jika Alya membalas cintaku betapa bahagianya aku, namun jika Alya tak mencintaiku betapa remuk hatiku. Aku tidak akan memaksa Alya untuk terus bersamaku nanti, jika dia tidak mencintaiku aku akan melepasnya.


Aku ingin melihat Alya bahagia, dia gadis baik dia pantas mendapatkan bahagia. Jika Alya bahagia maka aku juga akan bahagia melihatnya.


walau sebenarnya aku sakit, namun lebih sakit lagi bila aku memaksa Alya untuk bersamaku dan terus tersiksa rasa. Jika Alya tak bahagia aku lebih dari tidak bahagia. Alya sayang apa pun akan ku lakukan asal kau bisa bahagia sayang.


Revan merenung dan meneteskan air matanya, meluapkan isi hatinya di keheningan malam itu. Dia sampai tak sadar tertidur di kursi teras hingga fajar.


Terima kasih sudah membaca karya aku


like dan komennya kakak🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2