Air Mata Alya

Air Mata Alya
episode 22 Tawamu Bahagiaku.


__ADS_3

Mama dan papa Revan hanya tersenyum kecil.


"mama tidak memaksa kalian untuk segera memiliki anak, tapi sekedar berdoa dan berharap Allah mengabulkannya itu tidak ada salahnya kan?" ucap bu Mala yang mengerti jika Alya belum siap.


"terima kasih ma, Alya masih ingin fokus pada Adit dan Sinta ma. Mereka masih kecil dan masih membutuhkan Alya." ucap Alya dengan menundukan kepalanya kembali.


"iya sayang mama paham, mama akan selalu mendukung kalian nak." ucap bu Mala.


Di dalam mobil.


"Adit apa kau senang nak?" tanya bu Mala pada Adit.


"Adit sangat senang ma." jawab Adit dengan senyuman lebar di wajahnya.


"syukurlah kalau kamu senang nak." ucap bu Mala dengan mengusap usap kepala Adit.


"bahkan hanya dengan berlibur di pantai sudah membuatnya senang." gumam bu Mala dan dengan mata yang berkaca kaca.


"mama kenapa ma?" ucap Sinta yang melihat bu Mala meneteskan air mata.


"tidak apa apa nak, mama hanya menangis bahagia." ucap Bu Mala dan mengusap air matanya.


Sesampainya di rumah Alya, mereka pun turun dan mengantarkan Adit dan Sinta sampai dalam rumah. Tak lama Alya pun berpamitan dengan Adit dan Sinta.

__ADS_1


"dek, kakak kembali ke kota B ya. Kalian jaga diri baik baik, nanti jika ada waktu luang lagi kakak pasti akan menemui kalian lagi." ucap Alya dengan memeluk erat kedua adiknya.


"kakak juga baik baik di sana ya, aku dan Adit pasti akan baik baik kak." Sinta yang membalas pelukan kakaknya itu.


Mereka pun melepas pelukan, Alya meninggalkan adik adiknya dan kembali memasuki mobilnya juga pak Nirwan bu Mala dan Revan.


Alya pun melambaikan tangannya, begitu juga Sinta dan Adit membalas lambaian tangan kakaknya. Dan di pandangi mobil itu yang kian menjauh dan tak terlihat lagi.


Rumah itu pun kembali dingin dan sunyi, sebenarnya Bu Mala ingin mengajak Sinta dan Adit ikut tinggal dan meneruskan pendidikannya di kota B. Namun Sinta menolaknya dengan beralasan tidak ingin meninggalkan rumah peninggalan Ayah dan Ibunya yang penuh dengan kenangan hangat.


Di tempat lain, mobil yang terus melaju itu di dalamnya terasa sunyi tanpa ada yang berbicara. Mama dan papa Revan tertidur, sedang Alya hanya memandangi jalanan di balik jendela.


"kamu kenapa sayang, apa kamu masih rindu dengan adik adikmu?" tanya Revan memecah keheningan di dalam mobil.


"ayo lah sayang, aku tau kamu sedang memikirkan sesuatu." Revan.


"mas, apa boleh aku sering sering mengunjungi adik adikku?" tanya Alya yang mengungkapkan apa yang di hatinya.


"tentu boleh sayang, nanti setiap sabtu minggu kita menemui Adit dan Sinta!!" ucap Revan yang membuat Alya kembali tersenyum lebar.


"makasih mas." ujar Alya sambil menggenggam tangan Revan.


"sama sama sayang, jadi jangan sedih lagi ya. Aku lebih suka kamu yang ceria yang ceplas ceplos seperti pertama kali kita berjumpa." ujar Revan yang mendapat cubitan dari Alya.

__ADS_1


"au... sakit sayang, tapi kalau itu membuatmu bahagia aku rela kamu cubitin." ujar Revan menggoda.


"ih..kamu ya mas, kamu inget gak mas waktu aku ngomelin kamu padahal jelas jelas aku yang salah sudah menghalangi tempat parkir khusus mobil mu." ucap Alya dengan menatap Revan secara intens.


"inget dong, itu moment bersejarah di hidupku." ucap Revan yang masih fokus menyetir .


"gak taunya yang aku omelin yang punya tu Resto ha..ha.." Alya yang kembali tertawa lepas membuat Revan semakin bahagia dengan senyuman istrinya.


"tertawalah sayang, karna tawamu penyejuk hatiku." ucap Revan sambil mengusap usap lembut pipi Alya dan mencium punggung tangan Alya.


"ehem so sweet..." bu Mala berdehem melihat anak dan menantunya yang begitu terlihat bahagia.


"mama sudah bangun, pasti Alya sudah mengganggu tidurnya mama dan papa ya?" tanya Alya yang terkejut melihat mertuanya terbangun.


"mama sudah dari tadi bangunnya, dan mendengar semua cerita kalian itu." bu Mala.


"tak di sangka jika kalian itu dari berantem jadi suami istri." ucap bu Mala kembali.


"dan aku tidak akan melepaskan wanita yang sudah membuatku malu di depan restoku sendiri ma." ucap Revan yang memancing Alya untuk marah.


"mas Revan bohong ma, dulu pas aku berdebat dengannya tidak ada satu orang pun yang melihat ma, karna masih sepi dan belum jam buka Resto." Alya membela diri.


"katamu tak ada satu orang pun? ucap Revan dengan senyum liciknya yang di jawab anggukan oleh Alya.

__ADS_1


"berarti kamu bukan orang dong." jawab Revan dengan menahan tawanya. Membuat Alya melebarkan kedua matanya dan dengan mulut terbuka.


__ADS_2