
"Hallo kak Alya" Sinta menelpon Alya
"hallo dek, gimana kabar kalian baik kan sayang" balas Alya
"baik kak, aku ingin kasih tahu kakak kalau aku mendapat beasiswa hingga aku kuliah kak" Sinta dengan bangga
"Adit pun juga sama kak, dia mendapatkan beasiswa bersamaan denganku" imbuh Sinta
"benarkah itu dek, kakak ikut senang mendengarnya ini kabar yang sangat menggembirakan buat kakak. Mungkin Tuhan telah mendengar doa~doa kita sayang, Tuhan tidak akan memberi ujian melampau batas mampu UmatNya." Alya dengan bibir tersenyum riang
"iya kak, aku janji aku dan Adit akan belajar lebih giat lagi, dan akan membuat kakak bangga" Sinta
"terima kasih dek, kakak juga janji tidak akan membuat kalian sedih, kakak sayang kalian dek" Alya meneteskan air mata
"iya kak, kami juga sayang kakak. kakak jaga diri baik~baik dan jaga kesehatan kakak agar tidak sakit kak" Sinta
"itu pasti dek, ya sudah kita sambung lagi nanti ya. kakak akan segera berangkat kerja" Alya sambil siap~siap untuk berangkat
"hati~hati ya kak" Sinta
tut tut tut
Panggilan pun terputus, Alya segera berangkat ke resto dengan wajah sumringahnya yang membuat wajahnya semakin cantik dan mempesona. Manis senyumnya yang membuat hati semua orang yang melihatnya menjadi sejuk.
"Terima kasih ya Tuhan kau sudah mendengar doa~doaku, meringankan beban hidup ini" Alya
"aku akan segera memberi tahu Tuan Revan jika adikku sudah mendapatkan beasiswa hingga lulus sarjana" Alya mengira akan bisa membatalkan pernikahannya dengan Revan.
Dengan percaya diri, Alya akan memberi tahu Revan dan ingin membatalkan syarat itu. Dia bahkan tidak merasa curiga kenapa bisa kedua adiknya mendapat beasiswa secara bersamaan. Bahkan beasiswa itu hingga ke perguruan tinggi.
Hani yang melihat wajah Alya yang ceria penuh semangat dan seakan~akan telah menemukan sebuah harapan yang indah. Dia mengira Alya telah jatuh cinta dengan Revan dan bahagia sebentar lagi akan segera menikah.
"Al, aku lihat kamu beda hari ini" Hani menggoda Alya
"ah benarkah, beda apanya Han? Aku merasa biasa aja dan enggak ada yang berbeda dengan diriku" Alya bingung
"sudahlah Alya, kamu jangan menyembunyikan rasa bahagiamu itu dari teman mu ini, sudah terbaca" Hani mengedip~ngedipkan mata.
"Hani...." Alya belum sempat melanjutkan bicara sudah dipotong Hani
"Alya, aku tahu kamu sedang bahagia . Calon pengantin cantik sejagat raya, dan kamu sudah mulai cinta kan dengan Tuan Revan" Hani kembali menggoda Alya
__ADS_1
"aishh, kau ini Hani. Aku lagi senang bukan karna akan menikah dan jatuh cinta Hani. Aku sedang bahagia tidak jadi menikah dengan Tuan Revan" Alya
"apa? kenapa bisa begitu, padahal aku sudah berharap kamu menikah dengan Tuan Revan dan kamu akan bahagia." Hani dengan nada kecewa
"Hani, aku bisa bahagia tanpa harus menikah dengan Tuan Revan kan" Alya
"tapi Al, Tuan Revan pria yang sudah mapan dia ganteng sempurna kurang apa coba dia jodoh yang tepat buat kamu" Hani
"bahagia itu tidak tergantung dengan wajah dan kemapanannya Hani, kebahagiaan itu kita sendiri yang buat bukan uang" Alya
"tapi jika tak ada uang bukankah kita kebingungan dan akan merenung Alya" Hani
"memang semua butuh uang, tapi kan tidak harus menggantungkan semua dengan uang kan" Alya
"Hani, aku tidak tahu jodohku siapa. Mungkin bisa Tuan Revan atau bisa juga dengan orang lain. Kita tidak tahu kan Hani, jika aku dan Tuan Revan memang berjodoh pasti akan dipersatukan oleh Tuhan, tapi jika tidak berjodoh sekuat apa pun kita ingin bersatu tidak akan bisa bersatu karna memang bukan jodoh" Tegas Alya
"memang betul Alya, tapi aku berharap kamu berjodoh dengan Tuan Revan" ucap Hani penuh harap
"hemmm, sudah lebih baik kita kerja tidak usah membahas jodoh" Alya mengalihkan
Mereka kerja dengan penuh semangat, Alya pun tak kalah semangat. Namun jika dia tahu sebenarnya mungkin hati dan wajahnya tak seceria ini.
Malam setelah rapat selesai, dia langsung menuju ke resto. Dia akan segera memberi tahu Alya jika dia sudah menepati janjinya dan persiapan pertunangan hampir selesai. Revan ingin Alya tampil sempurna.
"sudah malam, resto pasti sudah tutup. Alya pasti sudah pulang, aku harus segera menemuinya" Revan penuh semangat
"Alya " teriak Revan
"Tuan Revan" gumam Alya
"Alya, kita harus berbicara" Revan
"kebetulan saya juga ada yang ingin saya bicarakan dengan Tuan" Alya
"baiklah kita bicara dimobil, dan aku antar kau pulang" Revan
"baiklah " Alya dengan membuka pintu mobil Revan
"apa yang ingin Tuan bicarakan" Alya memulai
"sebaiknya kau dulu, apa yang ingin kau bicarakan denganku" Revan
__ADS_1
" baiklah, Tuan saya tidak jadi meminjam uang kepada Tuan. Adik saya sudah mendapatkan beasiswa, maafkan aku Tuan" Alya berbicara dan menundukkan kepalanya
"ya saya tahu itu," Revan
"Tuan sudah tahu, apa Hani yang memberi tahu Tuan. Apa saja yang sudah Hani katakan ke Tuan, apa Hani berbicara banyak pada Tuan apa Han...i, tiba~tiba Revan membentak dengan teriakan Stopppp
"mulut mu itu terbuat dari apa sih, tidak bisa ngerem. Saya juga mau berbicara denganmu Alyaaaaa... geram Revan
"ma..maaf Tuan, saya hanya... saya hanya..." Alya terbata~bata
"sudahlah, dengarkan aku bicara sekarang" Revan
"Alya mengangguk" dan tidak sempat berbicara untuk membatalkan pertunangannya
"kau tahu siapa yang memberi beasiswa adik~adikmu hingga kuliah" Revan bertanya
"tidak Tuan, bukankah itu dari pihak sekolah yang mengusulkan ke pemerintah" Jawab Alya
Revan menepuk jidatnya
"Alya Alya, kau benar~benar bikin aku geram, yang membiayai semua itu aku dan aku berpesan pada pihak sekolah untuk memberi tahu pada adik~adikmu jika itu beasiswa. Mengerti kau sekarang" Revan berterus terang
"apa? Saya mengira itu dari pemerintah Tuan" Alya merenung
"terus kenapa kau sedih seperti itu, bukannya berterima kasih" Revan
"terima kasih Tuan" jawab Alya
" Lusa kau harus bersiap~siap pertunangan akan segera di gelar, mengerti kau Alya" tegas Revan
"me...mengerti Tuan" Alya
"bagus, jangan buat aku kecewa dan malu" imbuh Revan
Alya hanya mengangguk, karna dia pikir dia akan terbebas dari Revan. Nyatanya tidak
Setelah pembicaraan itu selesai, mereka hanya diam apa lagi Alya hanya mengalihkan pandangan menatap jendela. Revan fokus di jalanan, namun sempat mencuri pandang ke arah Alya. Dia terpesona melihat kecantikan Alya tubuh putih bersih tanpa bekas luka begitu pun wajahnya tidak ada bekas jerawat satu pun.
"aish Revan, sadar kau dia hanya calon tunangan bohonganmu" Revan dalam hati
Setelah Alya masuk kos, Revan bergegas pulang menuju apartemennya. Antara senang dan sedih itu yang Alya rasakan saat ini
__ADS_1