
Makan malam pun tiba, mereka memutuskan makan di resto hotel tempat mereka menginap. Mereka sangat menikmati semua hidangan yang sudah tersaji di meja.
Revan sengaja memesan banyak makanan dan semua adalah menu andalan di resto ini.
Dia ingin adik adik iparnya merasa senang, dan bisa memakan dan memilih sendiri mana yang mereka sukai.
"terima kasih kak, hari ini Adit sangat bahagia. Kakak sudah mengajak Adit dan kak Sinta liburan dan memesan banyak makanan sebanyak ini" seru Adit yang merasa bahagia.
"sama sama sayang, kakak juga bahagia melihat kalian bahagia dan tersenyum mekar seperti ini" ucap Revan
"seharusnya kakak tidak usah berlebihan seperti ini, kami di ajak berlibur saja sudah sangat senang kak" ucap Sinta sambil menundukan kepalanya, ia merasa sungkan akan semua perhatian Revan yang berlebihan.
"ini tidak berlebihan, kakak sudah bilang kalau kakak ingin kalian bahagia. Setelah kalian libur sekolah nanti kakak akan menepati janji untuk mengajak kalian berlibur lagi, oke" seru Revan membuat semua tersenyum mekar melihat tingkah Revan itu.
"hore, terima kasih kak. Adit sudah tidak sabar menunggu hari libur sekolah" Adit sambil loncat loncat girang.
Alya hanya tersenyum dan mendengarkan pembicaraan mereka, ia merasa bahagia karna Revan memperlakukan adik adiknya dengan baik. Melihat adik adiknya menikmati liburan ini Alya pun merasakan kehangatan keluarga yang lama tak ia rasakan.
"mas Revan kau membuatku kagum, terima kasih atas perhatian dan waktunya untuk menghiburku dan adik adikku. Kau memang lelaki baik mas, bahkan kau selalu menjaga dan melindungiku dan selalu mengerti aku" ucap Alya dalam hatinya.
"kau kenapa sayang, apa ada yang kau fikirkan sayang" ucap Revan membuat Alya tersadar dari lamunannya itu.
"tidak kok mas, aku tak memikirkan apa apa" jawab Alya gugup.
"benarkah, aku rasa tadi kamu memikirkan sesuatu sayang" Revan dengan tangan mengusap usap lembut kepala Alya.
"aku tidak sedang memikirkan apa apa mas, sungguh" ucap Alya meyakinkan.
"baiklah, kita teruskan makannya lalu kita beristirahat" ucap Revan.
Setelah selesai makan mereka kembali ke kamar masing masing, Alya dan Revan pun kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar masih hening tak ada yang berbicara, mereka masih sibuk di pikiran masing masing.
"mas kita pulang ke kota B kapan" Alya akhirnya memulai obrolannya.
"memangnya kenapa apa kau sudah tidak betah disini, apa kau tidak senang berlibur disini denganku" ucap Revan datar.
"bukan begitu mas, aku cuma bertanya saja apa aku salah" Alya memanyunkan bibirnya.
"aku senang mas dan terima kasih untuk semua ini" Alya memeluk dan mencium pipi Revan dengan tidak sadar.
Revan pun merasa terkejut dengan apa yang telah di lakukan istrinya itu.
__ADS_1
"benarkah dia menciumku, batin Revan dengan mengusap usap pipinya dan bibir terbuka.
Alya yang sepontan pun merasa malu dan memalingkan wajahnya dari Revan.
"Alya, apa yang telah kau lakukan, kau ini main sosor aja" gumam Alya dalam hati.
"ehem, Revan berdehem dan Alya pun tersontak sedikit kaget.
"maaf mas, aku gak sengaja" ucap Alya menundukan kepalanya.
"kenapa harus minta maaf" ucap Revan yang merasakan senang di hatinya.
"sengaja atau tidak itu sangat membuatku senang, akhirnya aku mendapatkan ciuman dari istriku walau hanya di pipi dan tak sengaja" goda Revan.
"bagaimana jawabanmu sayang" ucap Revan mengingatkan pertanyaanya pada Alya.
"em.. em..aku belum tau mas, aku butuh waktu dulu boleh gak mas" Alya memohon pada Revan.
"kau tadi sudah janji akan menjawab malam ini sayang" Revan.
"tapi mas" Alya dengan wajah sedihnya.
drttt drttt drttt
"hallo Tuan" suara Jordi dari seberang sana.
"ada apa Jord, kau menggangguku saja" ucap revan datar.
"maaf Tuan sebelumnya, tapi saya harus memberi tahu kan ini padamu sekarang juga" jawab Jordi.
"cepat katakan, jangan buang buang waktuku" teriak Revan kesal.
"Tuan hotel di kota L yang baru di bangun sudahlah rampung semuanya dan Tuan harus segera meresmikannya" ucap Jordi.
"kabar bagus, kita akan meresmikannya secepatnya dan kau siapkan semuanya!! perintah Revan pada Jordi.
"baik Tuan akan aku siapkan semuanya" Jordi
tut tut tut...
Revan menutup telponnya.
"istirahatlah!! besok kita bersiap untuk pulang" ucap Revan datar dan Alya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Alya pun bergegas tidur dan menarik selimutnya. Tak menunggu lama Revan yang sedang duduk di sofa pun segera tidur di samping Alya yang terlihat sudah lelap.
Revan pun memeluk Alya dari belakang dan membelai rambut Alya dengan lembut. Alya yang sudah terlelap pun tak menyadari bahwa ada seseorang yang telah memeluknya.
"ahhhh suara Alya menggeliat, namun dia susah menggerakan tubuhnya untuk berpindah posisi tidurnya yang miring.
"kenapa susah sekali aku menggerakan tanganku" gumam Alya dan terkejut melihat ada seseorang yang memeluknya dari belakang dan menggengam tangannya dengan erat.
"mas Revan, teriak Alya dan membuat Revan terbangun, apa yang kau lakukan? ucap Alya.
"aku tak melakukan apa apa" jawab Revan santai dan memejamkan matanya kembali tanpa melepaskan pelukannya.
"mas lepasin, aku sulit bergerak aku susah berpindah posisi jika kau memelukku seperti ini" rengek Alya.
Revan pun membalikkan badan Alya menghadap dirinya, dan membuat Alya semakin takut jika Revan meminta haknya.
Wajah mereka saling bertatap, Alya pun gugup melihat Revan yang hanya tersenyum dan memejamkan matanya kembali.
"senyummu sungguh manis mas, kenapa jantungku berdetak semakin kencang tak beraturan" ucap Alya dalam hati
"apa kau akan terus memandangku sampai pagi sayang" ucap Revan dan Alya pun langsung memejamkan matanya.
Revan memeluk Alya dan meletakkan kepala Alya di dada bidangnya itu, membuat Alya semakin tak karuan. Dada bidang itu membuat Alya nyaman dan merasa aman.
Pelukan hangat dari pria yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, Alya bahkan belum pernah merasakan sentuhan dari seorang pria .
Alya pun tertidur di pelukan Revan, mereka berpelukan hingga pagi hari. Revan hanya tersenyum bahagia mendapati gadis yang di cintainya masih tetap berada di pelukannya.
"cupp" Revan mencium semua wajah Alya dengan lembut, hingga Alya pun terbangun dari tidurnya.
"mas, sudah pagi aku harus mandi dan kita harus bersiap siap" ucap Alya gugup melihat kelakuan Revan.
"aku masih ingin memelukmu, aku tak ingin melepaskannya" Revan pun memeluk Alya semakin erat hingga Alya sulit bergerak.
"mas soal perasaanku... belum Alya melanjutkan ucapannya sudah di potong Revan.
"sudahlah sayang, jika kamu masih ragu lebih baik kau fikirkan lagi dan aku akan menunggunya hingga kau menemukan jawabannya" ucap Revan dan kembali menciumi Alya.
"tapi mas aku" Alya pun terdiam melihat Revan mencium bibirnya dengan lembut membuat jantungnya berdetak kencang dan tak karuan.
Terima kasih buat yang sudah membaca karya aku yang masih berantakan ini.
Mohon dukungannya kak, jika ada saran tulislah di komentar kak πππ€
__ADS_1