
Semalaman Alya tidak bisa tidur memikirkan pesan adiknya, dan bagaimana Alya bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat. Dia berangkat kerja dengan mata bengkak dan wajah murung.
Hani yang melihatnya merasa gelisah, dia berpikir jika yang membuat Alya murung adalah Revan. Sebab semalam Alya bertemu dengan Revan dan Hani takut Alya di perlakukan Revan yang tidak~tidak.
"Alya, kamu kenapa murung seperti itu, dan matamu sedikit bengkak. Apa yang terjadi Al?? apa Tuan Revan berbuat yang tidak~tidak terhadapmu" Hani yang bertanya dengan penuh kecemasan
"aku seperti ini bukan karna Tuan Revan, ada yang lebih menyakitkan dari syarat Tuan Revan." Alya
"jika bukan Tuan Revan, siapa yang tega menyakitimu Al" Hani
"ini tentang adiku Han, dia mengirim pesan jika dia dapat surat peringatan dari sekolah untuk segera melunasi semua biaya sekolah, jika tidak dia tidak bisa mengikuti ujian dan terancam tidak bisa lulus" Alya dengan wajah murungnya
"sabar ya Al,, memangnya berapa biayanya Al ? siapa tahu aku bisa membantumu" ucap Hani dengan senyuman manisnya
"aku tidak ingin merepotkanmu terus Hani, kamu sudah banyak membantu aku" ucap Alya
"kamu jangan bicara seperti itu Alya, aku juga saudaramu kan Al, jangan sungkan dan berapa biayanya" Hani
"banyak Hani, sebab aku sama sekali belum menyicil biaya sekolah Sinta dari awal masuk sekolah hingga sekarang" jawab Alya
"kamu akan mencari kemana uang sebanyak itu Alya, dalam waktu dekat" Hani
"entahlah Hani, aku akan mencoba meminjam Tuan Revan. Mungkin dia mau membantuku dan aku akan menerima syarat yg Tuan Revan berikan kemarin" Alya sedikit lega
"memang apa syaratnya Al, itu tidak membuatmu dalam bahaya kan Alya" ucap Hani
"tidak Hani, semoga keputusanku ini tidaklah salah" Alya sambil menggem tangannya
"baiklah Alya jika itu keputusanmu, semoga keputusanmu ini yang terbaik buat mu" Hani pun memeluk Alya dan berharap Alya akan baik~baik saja dan mendapatkan kebahagiaan.
Revan yang tak sengaja mendengar pembicaraan Alya dan Hani tadi, dia sedikit lega dan sedikit tersenyum.
Karna Alya akan memenuhi syarat yang ia berikan untuk rencananya itu.
"Alya kau akan menerima syarat itu, " gumam Revan
Revan masuk keruangannya dan bersiap~siap untuk mendengarkan apa yang akan dikatan Alya dengan dirinya.
Tak lama Alya pun datang keruangan Revan.
tok... tok... tok...
"masuk " Revan yang sudah tahu siapa yang datang keruangannya
"permisi Tuan, ada yang ingin saya bicarakan" Alya menunduk dan kakinya gemetar
"hemm.. bicaralah" Revan dan sebenarnnya dia sudah tahu apa yang akan Alya katakan
"begini Tuan, tentang syarat yang Tuan berikan kemarin saya sudah ada keputusan Tuan" Alya dengan ragu~ragu
"katakanlah, saya tidak suka bertele~tele" Revan
"saya bersedia memenuhi syarat itu Tuan" Alya
"baiklah dan ini tidak bisa mengubah keputusanmu lagi nanti, mengerti" gertak Revan
"me..mengerti Tuan, ta..tapi Tuan apa saya boleh minta ijin kepada Tuan" Alya dengan wajah takutnya
"kau minta ijin apa" Revan
"saya ingin meminta ijin meminjam sejumlah uang Tuan untuk biaya sekolah adik saya, dan Tuan bisa potong gaji saya setiap bulannya" ucap Alya dengan cepat dengan satu tarikan nafas😁
"meminjam uang, syarat belum dilakukan sudah berani meminjam uang kau ini" Revan
"tapi Tuan saya sangat membutuhkan uang itu Tuan, dan saya janji akan memenuhi syarat Tuan dengan baik" imbuh Alya
"baiklah, katakan berapa jumlah yang kau butuhkan dan ingat setiap bulan akan ku potong" Revan mengingatkan
__ADS_1
"xxxxxxxxxxx Tuan semoga Tuan tidak keberatan" Alya
"uang segitu kecil buat Revan, dan aku tidak akan meminta kamu kembalikan uang itu. Bahkan akan q tambah berlipatnya jika kamu mau memenuhi semua syarat ku" Revan
"apa... bagaimana bisa tidak saya kembalikan Tuan? dan Tuan memberikan berlipat dengan percuma" Alya
"siapa yang memberimu dengan percuma, saya memberimu dengan syarat" Revan
"apa lagi syaratnya Tuan" Alya
"Kamu harus bersedia bertunangan denganku dan menikah secepatnya. Dan biaya sekolah adik~adikmu akan ku bereskan semua, gimana kau mau" Revan
" menikah, itu tidak mungkin Tuan hanya memintaku untuk menjadi tunangan pura~pura anda Tuan" protes Alya
"jangan membantah, atau adikmu tidak akan bisa sekolah lagi, ancam Revan. Hanya Menikah selama 1 tahun dan akan ku beri kau fasilitas terbaik. Dan tidak akan ada sentuhan fisik. tegas Revan
Alya berpikir sejenak, dan dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah dan akan membuatnya kecewa.
Setelah berpikir, Alya memberi keputusan.
Ya dia akan menerima menikah denga Revan demi masa depan adik~adiknya. Karna hanya ini jalan satu~satunya untuk bisa meminjam uang ke Revan.
"baiklah Tuan saya bersedia, tapi tidak akan ada sentuhan fisik " Alya
"bagus, itu tidak akan mungkin. Diantara kita tidak ada cinta dan tidak mungkin saya jatuh cinta dengan gadis bodoh sepertimu" Revan menampik
"iewww sombong sekali pria satu ini" bathin Alya
"pernikahan akan di adakan bulan depan, dan kau harus bersiap~siap" imbuh Revan
"bulan depan, apa ini tidak terlalu cepat Tuan? Bukankah harus bertunangan dulu baru menikah" Alya
"kau jangan banyak protes, minggu ini kita akan melangsungkan pertunangan dan bulan depan kita segera menikah" Revan dengan mengedipkan kedua matanya
"secepat ini" protes Alya lagi
sebelum Alya keluar Revan menanyakan apa nama sekolah adiknya dan alamat desa dan nama adik~adiknya Alya. Dan Alya pun memberi tahu Revan, Alya berpikir mungkin Revan akan langsung mengirim uang itu lewat sekolah adiknya itu.
Alya pun keluar dan melakukan pekerjaan seperti biasanya.
Begitu pun Revan dia keluar untuk mengambilkan sejumlah uang untuk Alya.
Sebenarnya Revan adalah orang yang baik namun sesuatu telah membutakan rasa baiknya kepada semua orang. Sebenarnya dia tidak tega melakukan semua ini kepada Alya, karna Alya gadis baik dan tidak seperti gadis~gadis lainnya. Dia pekerja keras dan jujur selalu berterus terang, dan membuat hati Revan sedikit meleleh yang tadinya beku karna seseorang.
Namun apa boleh buat, Revan harus merencanakan semua tekadnya demi bisa membuktikan bahwa dia bisa bahagia tanpa Bella.
*REVAN
"Semua harus sesuai rencanaku, maafkan aku Alya, sebenarnya aku tidaklah tega melakukan ini kepadamu. Kau gadis baik polos walau terkadang kau membuatku kesal dan kau gadis pemberani tidak takut apa pun. Kau pekerja keras kau jujur mandiri dan tidaklah manja seperti gadis~gadis yang ku kenal.
"Aku memilihmu menjadi pasangan pura~puraku karna kau lain dari yang lain. Aku berharap kau tidaklah membuatku kecewa nantinya. Mungkin sekarang tidaklah ada cinta di antara kita, namun aku tidak tahu nantinya." Revan berbicara sendiri sembari mengemudi dan pandangannya fokus kejalanan.
Alya resah memikirkan keputusannya tentang syarat yang Revan kasih, dia berpikir jika dia gadis bodoh dan ******* mau~maunya menikah demi uang.
Semua itu bukanlah tujuan Alya, Alya hanya terdesak dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Jika ada jalan lain tidaklah mungkin dia memilih tawaran itu, dan tidak akan menjatuhkan harga dirinya.
"ALYA"
"ini sudah keputusanku, semua ini aku lakukan demi adik~adikku bukanlah untuk kepentinganku sendiri. Aku harus bisa menerima kenyataan ini, bukankah Tuan Revan berjanji tidak akan ada sentuhan fisik.
"aku sedikit lega mendengar ucapan Tuan Revan. Dia bukanlah pria yang suka bersenang~senang dengan gadis~gadis seperti pria~pria pada umumnya. Dan aku yakin Tuan Revan tidak akan melakukan hal yang diluar persyaratan ini.
"Sinta Adit maafkan kakak mu ini, jika kalian tahu pasti kalian kecewa dengan kakak. Dan kalian pasti akan berpikir yang jelek dengan kakak mu ini, dan akan mengira kakak mu adalah orang kotor. Kakak tidaklah ingin kalian berpikir seperti ini dan kakak tidak ingin kalian membenci kakak, kakak sayang kalian apa pun akan kakak lakukan untuk masa depan kalian.
Di tempat lain, Revan yang pergi mengmbil uang itu, dia berubah pikiran untuk kembali ke resto. Dia melajukan mobilnya menuju desa dimana adik~adik Alya tinggal.
Sesampainya di sekolah Sinta, Revan langsung menemui kepala sekolah beserta guru~guru Alya, dan mananyakan semua tentang Sinta. Sinta ternyata anak yang berprestasi dan selalu mendapat nilai terbaik, sebab itulah banyak guru yang menyayangi dan memberi semangat pada Sinta untuk selalu belajar.
__ADS_1
Setelah selesai berbincang~bincang Revan langsung ke tujuan awal dia ke tempat ini, Dia melunasi semua biaya yang belum pernah di cicil sama sekali oleh Alya. "kenapa Alya tega sekali tidak membayar biaya adiknya, sekedar menyicilnya pun tidak" bathin Revan.
"saya akan melunasi semua biaya sekolah Sinta pak, dia anak berprestasi jadi saya sangat menyayangkan jika dia putus sekolah karna terhalang biaya. Dia pantas mendapatkan ini, dan saya akan membiayai kuliahnya nanti supaya dia bisa tetap melanjutkan prestasinya" ucap Revan
"Tuan Revan ini begitu baik sekali mau membantu Sinta, semoga Tuan semakin lancar usahanya dan semakin sukses."ucap kepala sekolah
Revan yang sudah terkenal dimana~mana karna kesuksesannya tidak akan membuat para Guru curiga dengan tindakan Revan yang berdermawan.
"terima kasih doanya pak, saya harap bapak dan ibu guru tidak memberi tahu Sinta kalau saya yang sudah melunasi biaya sekolahnya. Saya ingin bapak dan ibu memberi tahu Sinta jika dia mendapat beasiswa" Revan" dia tidak ingin Sinta berpikir yang tidak~tidak pada Alya.
"baik Tuan Revan kami akan memberi tahu Sinta. "pak kepala sekolah.
"terima kasih pak, saya hanya ingin anak berprestasi seperti sinta harus bisa meraih mimpinya" tambah Revan
Setelah Revan membayar semuanya, ia segera menuju ditempat Adit sekolah. Adit memang masih SMP namun dia juga akan mendapatkan seperti apa yang Sinta dapatkan. Semua ini tidak sebanding dengan penderitaan Alya yang mau memenuhi syarat itu, ia hanya ingin membantu Alya dan membalas dengan yang dia bisa.
Setelah urusan semua selesai, ia kembali ke kota B. Dia memberi tahu Jordi untuk segera mempersiapkan segala keperluan untuk pesta pertunangannya dengan Alya nanti. Walau hanya pasangan pura~pura namun harus semeriah mungkin, mana mungkin seorang pengusaha sukses akan membuat pesta yang seadanya.
Jordi pun melaksanakan tugas dari Revan, dia orang yang sangat Revan percayai untuk mengurus semua yang di perlukan Revan. Dia tidak akan pernah membuat Revan kecewa, mereka sudah seperti saudara kandung sendiri.
"lebih baik aku langsung pulang saja, aku merasa lelah dan ingin segera istirahat" Revan berbicara sendiri
Dia menuju apartemen nya, bagaimana tidak lelah perjalanan dari kota B menuju desa Alya memerlukan waktu 4 jam baru sampai dan harus bebincang~bincang dengan guru dan menyelesaikan tujuan dia. Dan selesai dia langsung balik kota B tanpa beristirahat terlebih dahulu.
Sampai apartemen miliknya Revan pun segera merebahkan badannya meluruskan kaki dan tangannya yang pegal~pegal.
"capek juga, perjalanan yang melelahkan" keluh Revan.
*ALYA
Tuan Revan kenapa belum kembali, bagaimana ini? Apa Tuan Revan lupa akan yang ia janjikan. Sampai~sampai dia tidak memunculkan dirinya kembali ke resto.
Apa mungkin Tuan Revan mengingkari janjinya, atau mungkin Tuan Revan akan membatalkan syaratnya. Jika dia membatalkan syarat itu aku sedikit lega, tapi gimana dengan nasib adik~adikku.
Harus mencari uang itu kemana lagi aku, begitu berat cobaan ini sampai kapan aku bisa melewati ini semua. Bagaimana jika Sinta putus sekolah, berarti aku gagal menjadi seorang kakak yang baik untuk adik~adikku.
"hayoo... kamu sedang melamunin siapa " Hani mengagetkan Alya.
"aku tidak sedang melamunin siapa~siapa Han" Alya
"kau bohong Al, jujur sama aku kamu melamunin siapa? Hani menggoda Alya
"tidak Han, aku hanya sedang memikirkan adik~adik aku, aku merindukannya" Alya
"benarkah? aku rasa bukan hanya itu yang kamu pikirin Al, sudahlah jujur sama aku. Aku tak ingin kamu merenung seperti ini Alya" Hani
"kau selalu memaksaku Hani, memaksa agar aku jujur kepadamu" Alya dengan bibir memanyun
"kalau aku tak memaksa, kau tak akan mau jujur denganku. Aku tidak ingin kamu sedih Al, dengan kamu mengungkapkan isi hati mu kamu akan merasa lega bukan" Hani
"kamu benar Hani, aku memang haruslah bercerita denganmu agar hatiku merasa lega.
"ya sudah, sekarang ceritalah, aku akan menjadi pendengar semua cerita~ceritamu" Hani
"kamu memang teman terbaikku Hani, sebenarnya aku dan Tuan Revan akan segera melangsungkan pertunangan dan akan segera menikah dengannya Hani" Alya
"benarkah? itu kabar baik Alya, kenapa kamu harus sedih begitu. Ternyata Tuan Revan diam~diam mencintaimu secepat ini, dan langsung menikahimu dan apakah kamu mencintainya Al??? tanya Hani
"entahlah, tapi semua ini hanyalah sandiwara Hani, dia menikahiku karna memberiku syarat agar bisa bekerja disini dan diperbolehkan meminjam uang itu" Alya
"setidaknya aku lega kamu bisa membayar sekolah adikmu, kamu tenang Al semua akan baik~baik saja, Tuan Revan tidak akan menyakitimu. Aku yakin kamu dan Tuan nantinya akan saling mencintai"" Hani berharap Alya bisa mendapat kebahagiaan dengan Revan
"entahlah Hani, tapi kenapa Tuan Revan tidak kembali kesini Hani. Dia bilang akan memberikan uang itu hari ini, tapi Tuan Revan belum kembali sampai sampai Resto tutup" Alya dengan nada sedihnya
"mungkin hari ini Tuan Revan sedang ada rapat, jadi uangnya akan diberikan besok Al" Hani menenangkan Alya
"mungkin ya, ya sudah besok aku akan menanyakannya dengan Tuan Revan" seru Alya sedikit tersenyum
__ADS_1
Mereka kembali kerumah masing~masing.