AKHIR SANG PENULIS TAKDIR

AKHIR SANG PENULIS TAKDIR
09


__ADS_3

Lucy dan Twelve pun pergi untuk membebaskan anak lainnya. Semua anak itu pun nantinya akan tinggal di sebuah tempat yang dibangun dari hasil menjual penginapan tersebut. Sementara untuk biaya hidup mereka akan ditanggung oleh kepala desa setempat.


"Lalu bagaimana dengan semua berkas itu? Meski telah bebas, namun jika berkas itu masih ada maka status kami sebagai budak tidak akan hilang" ucap Twelve dengan khawatir


Lucy pun membakar semua berkas tersebut di depan matanya. Sementara Twelve yang melihat itu pun tersenyum lega.


Sam yang menyaksikan semua kejadian tersebut hanya bisa membeku. Dia menunduk sebentar dan kembali melihat ke arah mereka, namun Lucy sudah tidak ada. Saat Sam sementara kebingungan, terdengar suara dari belakang yang berkata: "Mencari sesuatu? Aku yakin sudah membayar minumanku" Ucap Lucy sambil menjulurkan pedang di atas bahu Sam


"Waw pedang yang bagus" ucap Sam dengan senyum kagum


"Akan lebih bagus jika dihiasi dengan darahmu"


"Percayalah darahku tidak seindah itu."


"Ada kata-kata terakhir?" Tanya Lucy


"Will you marry me?"


"**** you." Ucap Lucy sambil hendak menebas leher Sam


"BERHENTI!!! Kumohon, jangan bunuh dia kak. Dia bukan orang jahat!" Teriak Twelve


"Kau mengenalnya?"


"Ya! Dia adalah kak Sam. Dia lah yang selalu memberi kami makan dan minum. Saat kami dipukuli, dialah yang mengobati kami. Jadi, aku mohon jangan bunuh dia" Ucap Twelve sambil memohon


"Jelaskan mengapa aku harus menuruti permintaanmu?" Tanya Lucy


"Aku tau aku bukan siapa-siapa. Tapi aku juga tau bahwa kau hanya membunuh mereka yang jahat. Dan kak Sam tidaklah jahat, aku tau kau adalah orang baik."

__ADS_1


"Orang baik? Hmh yang benar saja" ucap Lucy dengan ekspresi tidak senang


"Jika darah dibalas darah, maka kau bisa mengambil darahku!" Ucap Twelve dengan serius


"Pffft..., Kau gadis yang menarik. Baiklah aku tidak akan membunuhnya. Lagipula memang apa yang bisa dilakukan pria ini?" Ucap Lucy sambil merendahkan Sam


"Aku? Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku." Ucap Sam penuh keyakinan


"Perse*an dengan cinta bodohmu" Ucap Lucy yang kemudian menghilang dengan cepat


*Sialan, dia malaikat maut yang cantik.* Ucap Sam dalam hati sambil mencolek darah di lehernya yang terkena pedang Lucy lalu menjilatnya sambil tersenyum.


"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau membiarkannya pergi?!" Tanya Twelve dengan nada marah


"Hah, maksudmu apa?" Tanya Sam keheranan


"Hei, baru semenit yang lalu kau memujiku sekarang kau bahkan menghinaku? "


Twelve hanya menatapnya dengan datar


"Baiklah-baiklah aku akan menyusulnya. Dan kau pergilah ke lorong itu dan terus lurus hingga sampai ke ujung. Di sana ada sebuah rumah panggung, itu adalah rumahku, kau bisa menunggu kami di sana" ucap Sam


Twelve mulai berjalan sambil melirik ke belakang melihat Sam. Sementara Sam mulai bergerak mencari Lucy


* (Qrrrrrrrrr) aku lapar. Aku lupa belum makan seharian ini* batin Lucy


"Di mana gadis itu? Hah..hah.., kenapa dia cepat sekali?" Keluh Sam


Setelah lama mencari, Sam pun memutuskan untuk kembali. Saat hampir sampai di rumahnya, ia melihat seorang wanita yang tengah duduk di jembatan tak jauh dari tempat tinggalnya. Wanita itu adalah Lucy yang tengah membasuh pedangnya.

__ADS_1


Sam mendekatinya perlahan, namun Lucy yang mengetahuinya menodongkannya pedang.


"Lihat kita, seperti dua buah bintang yang bertemu di langit malam, kita bagaikan jodoh yang bahkan tidak bisa terpisahkan walau hanya sebentar" ucap Sam


"Sepertinya kau sangat ingin mati" ucap Lucy


"Owh heihei, santai.. aku ke sini hanya untuk menawarkanmu untuk menginap sementara di rumahku. Sebenernya Twelve yang memintanya tapi aku tidak keberatan. Aku yakin kau juga tidak punya tempat untuk beristirahat. Selain itu nampaknya pedang mu agak rusak, aku tau seorang penempa pedang yang hebat. Aku yakin dia bisa memperbaikinya untukmu. Kita bisa mengantarkannya besok, malam ini kau istirahatlah dulu "


Lucy hanya diam sambil berpikir


*Sebenarnya aku tidak ingin berlama-lama disini. Tapi bagaimanapun juga, pedang ini adalah peninggalan terakhir dari guru untukku. Apa aku mengikuti sarannya saja?...*


(Qrrrrrr) suara perut Lucy


Sam yang mendengar itu pun tertawa kecil, sementara Lucy hanya bisa terdiam


"Sudahlah tidak usah banyak berpikir, ayo ikuti aku. Rumahku tidak jauh dari sini"


*Apa aku bisa mempercayainya?* Pikir Lucy


"Oh ayolah, kakiku keram cepatlah "


Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya Lucy memutuskan untuk ikut dengannya


Dari kejauhan tampak Twelve yang langsung berlari menyambut mereka dengan penuh semangat: "KAKAKK!!! Aku tau kakak mau ikut menginap bersama kami"


"Bukan demi kalian, demi pedangku." Ucap Lucy memperjelas


"Baiklah ayo masuk" ucap Sam

__ADS_1


__ADS_2