AKHIR SANG PENULIS TAKDIR

AKHIR SANG PENULIS TAKDIR
19


__ADS_3

"Kau adalah penerus kerajaan Dallveon bukan? Tapi mengapa? Mengapa kau bahkan hidup tanpa mengenal kami? Dasar jahat! Kau anak yang tak seharusnya lahir! Kauaahajjskskska... (Perlahan wanita tersebut meleleh)"


"Hah!..hah..hah.. mimpi itu lagi.." *Di mana ini? Aku yakin seharusnya aku telah mati di tumpukan salju.* Batin Lucy


Ia pun berusaha bangun lalu akhirnya sadar bahwa perutnya tengah diperban.


"Wah...cantiknya...." Ucap seorang gadis kecil yang sedang mengintipnya.


Lucy yang terkejut pun melihat ke arah anak itu, sementara anak tersebut pun langsung kabur dengan malu-malu. Setelah berhasil berdiri, Lucy pun berusaha berjalan sambil berpegangan di dinding yang terbuat dari kayu.


"Nenekk! Dia sudah bangun! Wajahnya sangat cantik! Di seperti bidadari nek!" Ucap anak kecil tersebut


Lucy pun keluar dari kamar tersebut, namun karena kurang memperhatikan jalan ia hampir terjatuh, namun untungnya ia langsung ditolong oleh sang nenek.


"Hati-hati! Kau terluka parah dan tubuhmu belum pulih. Jika kau memaksakan nanti lukamu terbuka lagi" ucap sang nenek


"Apakah anda yang telah menyelamatkan nyawa saya?" Tanya Lucy


"Sebagai sesama manusia sudah sewajibnya kita saling menolong. Ayo, kau pasti lapar, aku telah memasakkan bubur jagung untukmu. Makanlah selagi hangat" ucap sang nenek sambil membantu Lucy duduk lalu menyendokkannya bubur.


"Aku ingin berterimakasih karena sudah menolongku, terimakasih. Jika tidak ada kalian mungkin aku...."


"Apa yang kau katakan? Itu semua adalah takdir"


"Aku senang bisa menolong kakak cantik!" Ucap gadis tersebut

__ADS_1


"Kau juga makanlah yang banyak, agar bisa tumbuh menjadi wanita cantik sepertinya" ucap sang nenek


Usai makan, Lucy pun pergi keluar untuk melihat-lihat. Itu adalah sebuah desa kecil yang damai. Dipenuhi akan tawa bahagia dan orang-orang yang ramah.


*Apakah jika peperangan itu tidak terjadi maka kerajaan Dallveon juga akan seperti ini? Makmur, damai, penuh sukacita...* Pikir Lucy dengan raut wajah sedih


"Kakak kenapa sedih? Pasti karena luka kakak kan? Kakak tenang saja, pengobatan nenek sangat bagus!" Ucap si gadis kecil


"Umm, aku tidak meragukannya" jawab Lucy


"Namaku Lily, kakak namanya siapa?"


"Namaku....."


"Kau tidak perlu menjawabnya kalau tidak mau. Dan Lily, jangan memaksa orang, itu tidak baik." Ucap sang nenek


*Lucy adalah nama asliku, aku tidak bisa memberitahunya. Nama Givelda sudah terlalu sering kugunakan, kalau begitu aku harus memakai nama baru*


"Belvina, itulah namaku." Ucap Lucy yang berbohong


"Wah nama kakak sangat bagus! Hihi" ucap Lily yang memberi pujian.


"Namamu juga sangat-ughh"


Tiba-tiba saja Lucy merasa pusing dan hampir pingsan lagi. Sang nenek pun langsung merangkulnya

__ADS_1


"Tubuhmu masih lemah, istirahatlah dulu" ucap sang nenek


Dua hari berlalu, Lucy kini telah menjadi lebih akrab dengan para penduduk desa. Ia bahkan nyaman akan kehidupan di desa yang damai itu.


*Kuharap desa ini akan terus seperti ini tanpa harus mengenal kejamnya perang."


"Kakak!" Teriak Lily yang baru kembali dari bermain bersama teman-temannya


"Hei Lily ada apa? Kau tidak ingin bermain bersama kami?" Tanya temannya


"Tunggu sebentar. Hah..hah...huhh(suara Lily yang kelelahan karena berlari) Kakak, tadi saat aku bermain, aku melihat banyak wanita. Namun, tidak ada yang secantik kakak. Aku....aku ingin menjadi wanita cantik seperti kakak!" Ucap Lily


"Kamu adalah kamu, kamu cantik apa adanya dirimu. Dunia bisa mengubah hatinya, tapi kamu tidak perlu mengubah apapun. Tidak ada noda dalam kecantikan mu, kita para wanita semuanya adalah cantik." Ucap Lucy


Lily pun tersipu bahagia. "Baiklah, kalau begitu aku pergi bermain dulu. Dadah!" Ucap Lily yang kemudian berlari menuju teman-temannya


"Hei jangan berlari, hah...dia anak ceria. Kuharap masa depannya secerah senyumannya...." Ucap sang nenek


"Kalau boleh tahu, dimana orang tuanya?"


Sang nenek pun memberitahu: "Orang tuanya meninggal akibat perang dulu, meski berhasil menang, tapi banyak orang-orang di kerajaan Valdimora yang tidak bersalah harus ikut meregang nyawa. Padahal mereka semua adalah orang yang baik. Lalu, kami adalah orang-orang yang berhasil bersembunyi saat perang dulu."


"Ahh.. perang yah.* Aku sudah muak dengan perang ini*. Satu lagi, dulu saat kita pertama kali bertemu, dan saat kau menolongku katamu itu adalah takdir. Lalu, apakah yang terjadi di masa lalu, sekarang, dan kedepannya juga bagian dari takdir?" Tanya Lucy


"Dunia ini sangat luas, ada banyak manusia dengan kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang menjalani hidupnya sesuai dengan takdir. Suka dan duka, pertemuan dan perpisahan, hingga hidup dan mati. Namun, beberapa orang tidak terkekang dengan 'takdir' yang harus mereka jalani. Mereka menulis takdir mereka sendiri, orang-orang ini adalah mereka yang pernah berdiri pada jembatan hidup dan mati berkali-kali." Ucap sang nenek

__ADS_1


"Lalu, dimana orang-orang itu?" Tanya Lucy yang kurang paham


Si nenek hanya meliriknya lalu tersenyum dan kembali masuk ke rumah, meninggalkan Lucy yang kebingungan.


__ADS_2