AKHIR SANG PENULIS TAKDIR

AKHIR SANG PENULIS TAKDIR
22


__ADS_3

•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•


(Setibanya di kota dagang)


"Brengsek berikan uangmu!" Ucap seorang prajurit dengan memaksa


"Tapi aku sungguh tidak punya uang" jawab seorang pria tua


"Sialan! Apa kau pikir menjadi prajurit itu hal enak! Persetan! Lebih baik kujual saja organ mu, hmh"


"Tidak! Kumohon! Kumohon jangan sakiti ayah!!" Teriak sang anak dari pak tua tadi


*Apa itu? Pemerasan? Kupikir kerajaan ini adalah kerajaan yang makmur, namun nyatanya ini hanyalah kerajaan kuburan.* Batin Lucy yang kemudian menghampiri mereka di sebuah gang


(Tsuukk) Suara pedang Lucy yang menembus dada pria tersebut, kemudian mengeluarkan jantungnya


"Kau ingin organ kan? Ini ambilah milikmu, kuberikan"


"A-apa y-..."(dugg)


Pria tersebut pun langsung rebah lalu mati.


Bagi kebanyakan orang hal itu adalah sesuatu yang mengerikan. Namun bagi seorang anak kecil yang tinggal di sebuah desa yang tiap harinya selalu dapat melihat orang mati itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Setidaknya itulah pada pikir Lucy saat melihat reaksi gadis tersebut. Anak kecil tersebut pun segera berlari memeluk ayahnya lalu keduanya bergegas pergi.


*Anak itu...dia mirip dengan Tara...Apa hanya perasaanku?*


Untuk memastikannya lagi, Lucy mengikutinya. Meski warna rambut mereka berbeda, namun wajah mereka terlihat mirip.


•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•


"Pergi dari kami! Tidak ada yang ingin bermain dengan anak bau sepertimu! Pergi!!" Ucap seorang bocah


"Bahkan kami sudah ingin muntah, pergilah bau!!" Sahut bocah lainnya


*Diskriminasi yah... sayangnya aku bukanlah orang baik yang menyayangi anak kecil* batin Lucy yang kemudian mendekati mereka lalu mengangkat seorang bocah dengan satu tangan

__ADS_1


"Apa kau tahu nak? Jika lehermu dipatahkan maka kau bisa bertemu nenek moyang mu"


"Berhenti! Kumohon jangan! Biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri. Aku.., aku tidak ingin bergantung dengan orang." Ucapnya


*Keteguhannya juga mirip sepertinya* batin Lucy


Lucy kemudian melepas bocah tersebut sambil melihat apa yang akan dilakukan oleh si gadis


Gadis tersebut kemudian meninju bocah nakal tadi hingga terjatuh. Tak sampai situ, ia menginjak-injaknya di depan anak-anak lainnya. Di tengah perkelahian itu, datanglah seorang remaja yang merupakan kakak dari bocah yang dipukuli oleh gadis tersebut.


Melihat adiknya dipukuli, ia kemudian berlari ke arahnya namun dihadang oleh Lucy.


"Siapa kau?! Kenapa menahanku?! BAJINGAN LEPASKAN!!"


Lucy yang kesal kemudian menjitak kepalanya hingga pingsan.


"Lanjutkan lah" ucap Lucy pada si gadis


"Tidak. Ini sudah cukup, lagipula aku tidak berniat membunuhnya, aku hanya memberinya pelajaran untuk membuat keangkuhannya hilang"


"Ah, tunggu! Pria bertopeng tunggu!!" Gadis tersebut tidak tahu bahwa Lucy adalah seorang wanita. ia pun kemudian mengejar Lucy, namun tentu saja ia tidak berhasil menyusulnya


"Berhenti." Ucap seorang pria tua(?) yang tiba-tiba menghadang Lucy. Pria tersebut adalah orang yang dipanggil ayah oleh gadis tadi


"Aku tahu kau telah mengikuti kami sedari tadi"


"Ini terimakasih mu setelah diselamatkan?" Tanya Lucy


"Aku bisa sendiri melawan mereka tanpa bantuanmu. Sekarang katakan niatmu"


"Kalau aku tidak mau?"


"Maka jangan salahkan aku atas apa yang akan kulakukan padamu "


"Lakukanlah "

__ADS_1


Saat pria tersebut hendak membuat Lucy pingsan, datanglah gadis tadi


"BERHENTI!!! MAT-AYAH BERHENTI!, JANGAN MENYAKITINYA!" Teriak gadis tersebut dengan lantang


*"Mat-"? Ahh...jadi pria ini bukan ayahnya, sepertinya mereka bukan orang biasa* batin Lucy


Pria tersebut pun seketika berhenti."Kenapa tidak boleh?"


"Dia telah menolongku tadi, jadi jangan menyakitinya" jawab gadis tersebut


"Baiklah, tapi setidaknya kita harus tahu apa niatnya."


"Aku langsung ke intinya. Tapi sebelum itu ada hal yang ingin kutanyakan"


"Tanyalah" jawab gadis tersebut


"Kalian bukan sepasang ayah dan anak, benar?" Tanya Lucy


"Benar-"


"Nona!"


"Tidak apa-apa Matthew, percuma membohonginya. Nah, kau sudah tahu kebenarannya, lantas, apa tujuanmu bertanya?"


"Ada seorang gadis kenalanku, dia seusiamu, bahkan dia mirip denganmu. Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur, namun dia adalah bocah yang unik. Jadi, aku ingin memastikan dengan benar identitas kalian"


Gadis tersebut awalnya bertatapan dengan pria tadi. Setelah berpikir beberapa saat, mereka pun memutuskan untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan perjalanan mereka.


"Saya adalah Nera Befillea, putri dari kerajaan Befillea, dan dia adalah Matthew Ferdinand, pengawal pribadi saya."


"Befillea...jika aku tidak salah, itu adalah kerajaan kecil di sebelah barat. Setahuku kerajaan Befillea tidak termasuk dalam kekaisaran Altopheuz." Ucap Lucy


"Benar. Kerajaan kami memanglah kerajaan kecil nan damai yang tidak mengenal perang dan berada jauh di ujung benua Alokkha. Namun, dampak yang ditimbulkan akibat perang antar kerajaan di kekaisaran Altopheus dulu sangatlah besar. Akibatnya, kerajaan kami pun ikut kena imbasnya. Kami semua terpaksa mengungsi ke tempat jauh di atas gunung, namun, saudari kembar saya, Vera Befillea yang dikala itu sedang bersama seorang prajurit terjatuh bersama kuda mereka saat longsor. Naasnya, belum sempat kembali pada kami mereka ditemukan oleh para prajurit kerajaan Valdimora yang kemudian mengejar mereka. Dan hingga kini kami masih tidak tahu keberadaan mereka, dan itulah yang menjadi tujuanku untuk mencarinya." Ucap gadis tersebut (Nera) menjelaskan


Usai mendengar penjelasan dari mereka, Lucy pun menceritakan balik tentang pertemuannya dengan Tara yang diduga adalah saudari kembar dari Nera. Mendengar cerita Lucy, mereka pun berencana untuk pergi ke tempat di mana Tara berada. Dan Lucy pun memandu jalan bagi mereka.

__ADS_1


__ADS_2