AKHIR SANG PENULIS TAKDIR

AKHIR SANG PENULIS TAKDIR
11


__ADS_3

Lucy pun tiba di sebuah pasar, ia pun mulai mencari beberapa barang untuk mengisi kembali persediannya. Setelah membeli barang yang ia ingin, Lucy pun segera mencari obat yang dapat merubah warna matanya. Rupanya persediaan obat perubah warna matanya hampir habis. Setelah lama mencari akhirnya ia pun mendapatkannya.


*Aku ingat bahwa desa ini terkenal dengan obat herbalnya yang manjur. Mumpung sudah di sini, lebih baik aku juga membeli beberapa obat herbal untuk jaga-jaga* batin Lucy. Lucy pun mulai berjalan untuk mencari beberapa obat herbal


"Lucy! Hah..hah..disini kau rupanya. Maaf soal yang tadi, aku- Hei hei tunggu!"


Lucy tidak memedulikannya sama sekali dan hanya berjalan. Saat tengah berjalan, Lucy melihat sesuatu yang menarik minatnya


"Hei ada apa? Kenapa berhenti?" Tanya Sam


*Itu...benang merah yang sama dengan milik paman! Aku yakin milikku hanyalah satu-satunya, apa memang ada yang lain?* "Dimana kau mendapatkan benang merah ini?" Tanya Lucy pada sang penjual


"Ini? Ahh, aku mendapatkannya dari seorang pemempa pedang berjalan. Kurasa itu bonus"


*Tidak salah lagi, benang ini pasti milik guru*"Berapa kau menjualnya?" Tanya Lucy


"Ini? Maaf nona, tapi ini tidak dijual"


"Aku akan membeli berapa pun harganya "


"Sebenarnya aku tidak ingin menjualnya. Tapi jika kau memaksa.., akan kujual seharga dua keping emas"


"APA?!! BRENGSEK! KAU TAU ITU TIDAK SEMAHAL ITU!" teriak Sam menolak


"Yasudah kalau tidak mau. Aku akan tutup, silahkan pergi " ucap sang penjual dengan senyum licik


"Baiklah aku-"


"Biar aku. Kau tunggulah di sana, aku akan mengambilnya untukmu " ucap Sam menyela

__ADS_1


"Apa? Tidak usah."


"Tolong. Anggap saja balas budi karena sudah menyelamatkan Twelve. Percayalah "


Lucy pun menghela nafas: "jangan lama" lalu pergi


"Tidak akan" ucap Sam sambil tersenyum. Saat Lucy sudah agak jauh, Sam menoleh ke si penjual dengan ekspresi intimidasi yang siap membunuhnya


"Kau tahu bahkan satu koin emas terlalu berlebihan untuk harga dirimu. Jadi, sebelum kubuat harga dirimu turun menjadi satu perunggu, cepat berikan benang itu sebagai gantinya." Ucap Sam dengan sebuah paku yang ia sembunyikan di balik telapak tangannya


"Hah? Memang kau sia- ughh! Sialan apa maumu?!" Ucap si penjual dengan sebuah paku tepat di telinganya dan Sam tepat di belakangnya


"Aku tidak mengulangi perkataan dua kali. Berikan atau kubuat kau tidak bisa mendengar!" Ucap Sam sambil terus memasukkan paku tersebut ke dalam telinga si penjual hingga membuat telinganya berdarah


"Baik! Baik! Ambil itu dan tolong lepaskan aku!" Rintih si penjual


"Oyy apa masih lama?!" Teriak Lucy dari kejauhan


"A-ah maaf. Aku akan segera ke situ" ucapnya sambil menyembunyikan paku di belakangnya


"Kali ini kau selamat. Hmh!" Ucap Sam pada si penjual sambil menggores telinganya yang membuat daun telinga si penjual robek


"AKHH!! HIKS...UGHH!..."rintih si penjual


"Yo! Hehe..maaf membuatmu menunggu sayang. Apa kau lelah? Aku bisa menggendong mu jika ku mau" ucap Sam dengan semangat


"Tidak usah banyak bicara, mana benangnya?"


"Ah..ini..hihi.."

__ADS_1


"Ada apa dengan ekspresi tolol itu?"


"Aku menunggu pujian hihi.."


"Pujian karena sudah menusuk telinga seseorang?"


Sam yang mendengarnya terkejut: "jadi kau melihatnya?" Tanya Sam dengan khawatir


"Bahkan aku bisa melihat dosamu"


Sam hanya terdiam...


"Hei...trimakasih.." ucap Lucy Dengan pelan


"Tunggu, apa?! Bisa kau ulangi? Kumohon aku tidak mendengarnya dengan jelas, hei kumohon" ucap Sam dengan bahagia


"Aku bilang enyahlah!"


"Bohong! Tadi kau berterimakasih bukan? Iya kan? Ahahaha"


*Akhh sialan! Kenapa berterimakasih?! Dasar bodoh* batin Lucy


(Qrrrrrr) suara perut Sam.


*Akhhhh memalukan!* Batin Sam


"Aa-hehe... bagaimana kalau kita singgah makan dulu?"


Lucy hanya berjalan dan tidak menghiraukannya. Sam pun lalu menarik tangannya menuju sebuah kedai makanan laut. Lucy pun mengambil pisau di sakunya lalu hendak memotong tangan Sam. Namun Sam dengan sigap menarik tangannya

__ADS_1


__ADS_2