
"Maaf sampai mana tadi?" Ucap Lucy dengan santai pada Twelve
"A-aa..Tadi kau ingin menanyakan sebuah tempat kalau tidak salah" ucap Twelve
"Ah, apa kau tau tempat penyimpanan berkas data jual beli budak?" Tanya Lucy
"Aku tau, tapi untuk apa?" Tanya Twelve dengan perasaan khawatir
"Aku akan memberikanmu dua pilihan, ingin bebas dan keluar dari sini serta menjalani hidup yang kau inginkan atau kau ingin tetap di sini dan menjadi budak selamanya?" Tanya Lucy dengan serius
"T-tentu saja aku memilih yang pertama! Tapi apa itu mungkin? " Tawab Twelve tidak percaya
"Entahlah, lebih baik bagimu untuk membantuku tanpa banyak bertanya " ucap Lucy
Twelve pun mengangguk. Lucy pun menggendongnya karena ia belum bisa berjalan dengan benar akibat habis dipukuli. Lucy pun mengikuti arahan Twelve. Dan akhirnya Lucy pun sampai ke sebuah gudang di belakang penginapan. Di sana ada sebuah lemari terbengkalai yang dibaliknya adalah pintu menuju ruangan yang berisikan berkas data jual beli budak.
"Pintunya terkunci, yang mempunyai kuncinya hanya kepala pelayan dan tuan Bean" ucap Twelve
"Pertama, kita tidak memerlukan kunci. Dan kedua, jangan menyebut tua bangka bajingan tersebut dengan sebutan "tuan'. Sekarang panggil dia "tua bangka" ucap Lucy
"Y-yang mempunyai kuncinya adalah kepala pelayan dan s-si t-tua bangka! Ya dia adalah tua bangka buruk rupa yang sangat menjijikan!" Ucap Twelve dengan semangat dan rasa tidak percaya berani menghina orang yang selama ini ia takuti
"Nice!" (Brukk!!) Ucap Lucy yang kemudian menendang pintu tersebut hingga hancur
"Apa yang kau lakukan? Mereka pasti terbangun karna suaranya, ahh tamatlah kita..hiks" ucap Twelve dengan perasaan putus asa
"Sengaja" ucap Lucy dengan santai
"Apa?!" Ucap Twelve dengan kebingungan
"Aku sengaja membuat mereka mendatangiku" ucap Lucy sambil mencari-cari berkas data jual beli para budak.
Baru saja berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, bos penginapan yaitu Bean bersama para bawahannya mendatangi Lucy. Mereka secara tidak sengaja menempatkan diri mereka sendiri pada perangkap Lucy.
__ADS_1
"Twelve, pergi ke belakang ku, tutup mata dan telingamu. Kau bisa membuka matamu saat aku menepuk bahumu" ucap Lucy memberi perintah
Twelve hanya bisa menuruti perkataan Lucy tanpa banyak bertanya
Di samping itu, Sam yang baru pulang kerja kebetulan lewat depan gudang tersebut. Ternyata rumah Sam tidak jauh dari gudang penginapan tersebut. Sam pun melihat Lucy, twelve, dan para pemilik penginapan.
"Itukan wanita yang tadi, apa yang dia lakukan di gudang itu? Tunggu... Bukankah itu anak kecil yang dijadikan budak penginapan?! Sebenarnya apa yang terjadi? Apapun itu ku pikir bukan hal baik" ucap Sam sambil pergi ke arah mereka namun kemudian bersembunyi saat melihat Bean dan para bawahannya
"Dengar nona, kau tidak ada hubungannya dengan ini. Jadi, berikan berkas itu dan kau bisa pergi dari sini, maka kami akan memaafkanmu dan menganggap seolah tidak terjadi apa-apa." Ucap Bean yang berusaha bernegosiasi
Lucy pun berjalan mendekati mereka lalu berhenti dan berkata: "Dalam"
"Dalam?" Tanya pak tua Bean
"Dalam mimpimu bajingan tua!!" Ucap Lucy yang kemudian menendang wajah pak tua tersebut hingga hidungnya patah
Tak butuh waktu lama bagi Lucy untuk menjatuhkan mereka semua. Lucy pun membunuh mereka semua dan hanya menyisakan pak tua Bean sendiri. Ia seperti menari di tengah hujan darah. Rambutnya yang hitam bercampur dengan merahnya darah. Lucy melirik ke arah Twelve, Lucy sadar bahwa ia telah mengintip dan melihat semuanya.
"I-itu..., Aku minta maaf, hanya saja... Kau terlihat sangat keren tadi" ucap Twelve dengan rasa kagum
Lucy tidak melihat kebohongan pada perkataan Twelve. Ia tersenyum kecil padanya "Mau bermain dengannya?" Tanya Lucy pada Twelve sambil melirik ke si Bean yang tengah sekarat
Twelve melihat ke Lucy sebentar lalu menatap ke si pak tua tersebut. Dengan penuh amarah ia mengingat kembali semua perlakuannya padanya. Dan dengan tangan kecilnya, Twelve memukulinya hingga tak sadarkan diri. Pak tua tersebut pun berbaring dengan wajah yang seperti kol bonyok.
"Maaf sampai mana tadi?" Ucap Lucy dengan santai pada Twelve
"A-aa..Tadi kau ingin menanyakan sebuah tempat kalau tidak salah" ucap Twelve
"Ah, apa kau tau tempat penyimpanan berkas data jual beli budak?" Tanya Lucy
"Aku tau, tapi untuk apa?" Tanya Twelve dengan perasaan khawatir
"Aku akan memberikanmu dua pilihan, ingin bebas dan keluar dari sini serta menjalani hidup yang kau inginkan atau kau ingin tetap di sini dan menjadi budak selamanya?" Tanya Lucy dengan serius
__ADS_1
"T-tentu saja aku memilih yang pertama! Tapi apa itu mungkin? " Tawab Twelve tidak percaya
"Entahlah, lebih baik bagimu untuk membantuku tanpa banyak bertanya " ucap Lucy
Twelve pun mengangguk. Lucy pun menggendongnya karena ia belum bisa berjalan dengan benar akibat habis dipukuli. Lucy pun mengikuti arahan Twelve. Dan akhirnya Lucy pun sampai ke sebuah gudang di belakang penginapan. Di sana ada sebuah lemari terbengkalai yang dibaliknya adalah pintu menuju ruangan yang berisikan berkas data jual beli budak.
"Pintunya terkunci, yang mempunyai kuncinya hanya kepala pelayan dan tuan Bean" ucap Twelve
"Pertama, kita tidak memerlukan kunci. Dan kedua, jangan menyebut tua bangka bajingan tersebut dengan sebutan "tuan'. Sekarang panggil dia "tua bangka" ucap Lucy
"Y-yang mempunyai kuncinya adalah kepala pelayan dan s-si t-tua bangka! Ya dia adalah tua bangka buruk rupa yang sangat menjijikan!" Ucap Twelve dengan semangat dan rasa tidak percaya berani menghina orang yang selama ini ia takuti
"Nice!" (Brukk!!) Ucap Lucy yang kemudian menendang pintu tersebut hingga hancur
"Apa yang kau lakukan? Mereka pasti terbangun karna suaranya, ahh tamatlah kita..hiks" ucap Twelve dengan perasaan putus asa
"Sengaja" ucap Lucy dengan santai
"Apa?!" Ucap Twelve dengan kebingungan
"Aku sengaja membuat mereka mendatangiku" ucap Lucy sambil mencari-cari berkas data jual beli para budak.
Baru saja berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, bos penginapan yaitu Bean bersama para bawahannya mendatangi Lucy. Mereka secara tidak sengaja menempatkan diri mereka sendiri pada perangkap Lucy.
"Twelve, pergi ke belakang ku, tutup mata dan telingamu. Kau bisa membuka matamu saat aku menepuk bahumu" ucap Lucy memberi perintah
Twelve hanya bisa menuruti perkataan Lucy tanpa banyak bertanya
Di samping itu, Sam yang baru pulang kerja kebetulan lewat depan gudang tersebut. Ternyata rumah Sam tidak jauh dari gudang penginapan tersebut. Sam pun melihat Lucy, twelve, dan para pemilik penginapan.
"Itukan wanita yang tadi, apa yang dia lakukan di gudang itu? Tunggu... Bukankah itu anak kecil yang dijadikan budak penginapan?! Sebenarnya apa yang terjadi? Apapun itu ku pikir bukan hal baik" ucap Sam sambil pergi ke arah mereka namun kemudian bersembunyi
"Biarkan dia hidup. Biar dia hidup sebagai gelandangan hina yang akan dilempari batu dan disirami timah panas. Sehingga dia merasakan karma perbuatannya sedikit demi sedikit dan membuatnya merindukan Neraka." Ucap Lucyl
__ADS_1