
Lucy pun menutup mata Lily lalu menguburkannya. Setelah itu ia pun mencari satu persatu mayat para warga desa, lalu menguburkannya.
*Guru, seandainya kau ada di sini, apa yang harus kulakukan? Aku ingin balas dendam atas mereka, namun yang membunuh mereka adalah rakyat yang seharusnya kulindungi. Bagaimana ini? Mengapa takdir ku begitu sulit? Nenek, apakah aku harus mengikuti takdir ini?*
Tiba-tiba, muncullah bayangan dari sang guru dan sang nenek.
"Ikutilah kata hatimu" ucap sang guru
"Bukankah sudah kubilang? Beberapa orang menulis takdir mereka sendiri" ucap sang nenek
Bayangan yang muncul dari keinginan hati Lucy pun menghilang
"Tunggu! Tunggu!! Jangan bilang! Kumohon...hiks..hiks" Lucy menangis beberapa saat. Ia pun menenangkan hatinya
"Ikuti kata hati... menulis takdir...hahh..ha..haha..hahahahaha...hahh.. ingin membuat dunia berdamai? Menyelamatkan keluargaku? Aku sungguh egois. Hah...baiklah, menangis tidak ada gunanya." Ucap Lucy dengan matanya yang telah mati lalu pergi menyusul para prajurit kerajaan Dallveon.
•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
"Hei, apa tidak apa-apa kita tidak mengubur mayat mereka?" Tanya sang asisten komandan prajurit
__ADS_1
"Hmmh! Apa kau pikir saat mereka membunuh keluarga kita dulu mereka menguburkannya? Tidak perlu merasa bersalah, yang kita lakukan tidaklah salah!" Jawab sang komandan
"Komandan lihat! Di belakang ada seseorang yang berlari ke arah kita!" Teriak salah satu prajurit
"Apa?! Berani-beraninya, begitu dia dekat langsung bunuh saja dia!" Ucap sang komandan
"Komandan dia mendekat! Biar aku yang tangani! Koman-aghhh..." Belum selesai berbicara pria tersebut langsung tewas dengan dadanya yang tertikam.
"Sialan kau!!-aghhhh"
"Aaaaarghhh"
Satu persatu prajurit tersebut dibunuh, hingga menyisakan sang komandan dan asistennya.
"Ah...aku paham. Maafkan kami.." ucap sang komandan yang kemudian tewas.
"Kuburlah mereka, lalu kembalilah pada pemimpinmu dan sampaikan pesanku: "berhentilah membunuh nyawa tak bersalah." Ucap Lucy yang membiarkan sang asisten pergi
•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
__ADS_1
"YANG MULIA!! ADA BERITA DARURAT!!"Teriak salah satu prajurit
"Berita darurat?!" Tanya Louise padanya
"Beberapa prajurit divisi 3 secara diam-diam pergi ke wilayah kerajaan Valdimora. Mereka membunuh rakyat biasa di sana sebagai bentuk peringatan. Namun, kami mendengar kabar bahwa seluruh pasukan tersebut tewas dibunuh oleh seseorang, dan hanya menyisakan sang asisten komandan divisi 3 saja yang selamat!"
"APA?! DASAR BODOH! SUDAH KUKATAKAN JANGAN BERTINDAK GEGABAH! TCK!, katakan, siapa orang yang membunuh mereka? Dia tidak akan selamat dari pedangku!"
"Menurut informasi yang kami dengar, dia adalah The Killer Shadow, untuk lebih jelasnya tuan bisa menanyakannya langsung pada sang asisten divisi 3. Hanya saja, dia sedang mengalami trauma dan sulit berbicara." Jawab sang prajurit
"Pergilah"*The Killer Shadow....sayang sekali, kupikir kau adalah kawan, aku sangat bodoh hingga berharap bisa bekerjasama dengan mu. Dengan ini, kau telah menyatakan perang pada kerajaan Dallveon!* Batin Louise
Usai membunuh mereka, Lucy pun kembali ke desa sebelumnya. Ia pun membersihkan desa tersebut seorang diri, butuh beberapa hari agar bisa selesai.
Saat sedang membersihkan desa, Lucy pun melihat ke arah sebuah pohon mati yang daunnya telah gugur semua. Pohon itu adalah pohon tempat Lily dan kawan-kawannya bermain, sebelumnya pohon tersebut adalah pohon hijau yang besar. Namun, akibat mati karena terbakar, pohon tersebut pun hanya menyisakan kerangka dan sejuta kenangan.
Lucy duduk di bawah pohon tersebut, sambil mengenang kembali masa-masa indah. Saat sedang merenung, perhatian Lucy tertuju pada sebuah bunga yang hanya tumbuh sendiri. Bunga itu sama dengan bunga yang dulu Lily berikan padanya. Lucy hanya bisa meneteskan air mata sembari berandai-andai musibah malang tersebut tidak menimpa para warga desa. Ia pun mencabut bunga tersebut, lalu menanamnya di atas kuburan Lily. Sebagaimana bunga itu tumbuh, begitupula harapan Lily tumbuh.
"Tenanglah di sana gadis cantik♡"
__ADS_1
Belum selesai satu problema, kini Lucy diperhadapkan dengan pertanggungjawaban karena telah membunuh prajurit kerajaannya sendiri.
*Aku telah gagal menjaga orang tersayangku, aku juga telah gagal sebagai pemimpin kerajaan. Tapi, setidaknya akan kubuat kau (Louise) menjadi seorang pemimpin yang lebih layak dariku.* Ucap Lucy yang kemudian berusaha mencari keberadaan sang adik yang menurutnya tidak jauh lagi.